Interaksi manusia dengan alam disekelilingnya mampu mempengaruhi olah cipta budinya, sepertihalnya antara manusia di Pulau Jawa dengan harimau jawa.

Pengkajian eksistensi harimau jawa (Panthera tigris sondaica) oleh penulis sejak tahun 1997 hingga sekarang, mengantarkan penulis bertemu dengan kenyataan bahwa masyarakat lokal telah mempunyai kearifan yang cerdas dalam berinteraksi dengan harimau jawa. Kecerdasan interaksi itu bahkan telah teraktualkan sebagai olah cipta pengisi relung-relung budaya lokal. Hubungan yang terwariskan antara manusia Jawa terhadap harimau jawa telah tercermin sebagai khasanah pengisi komponen kebudayaan Jawa yang membangun sebuah Peradaban.

Penulis bersama narasumber pawang Reyog dari Jajag
Penulis bersama narasumber pawang Reyog dari Jajag

“ETNOTIGROLOGI” merupakan sebuah cabang pendekatan ‘ilmu baru’ untuk mencari solusi hidup harmonis antara manusia dengan harimau jawa. Di mana dalam pendekatan Etnotigrologi ini banyak budaya Jawa dan Sunda masa lalu yang terinspirasi akibat persentuhan antara manusia dengan harimau jawa di habitat yang sama, sehingga mempengaruhi pola, rasa, cipta dan karsa manusia penghuni Pulau Jawa dalam mengaktualisasikan unsur-unsur budaya semacam teatrikal, alat musik, wayang, folklor, senjata (keris, kujang), batik, pahat, relief, nama orang, nama desa, jurus silat, ajimat, mantra, simbul, unen-unen, filosofi hidup dan pandangan mistik. Penulis mempunyai cara pandang baru, bahwa unsur-unsur budaya yang diciptakan oleh leluhur penghuni Pulau Jawa itu merupakan sebuah “buku pustaka” khas ciri Peradaban Jawa. Memang membutuhkan disiplin ilmu tersendiri untuk mengurai dan membongkar ‘bacaan’ tersebut. Hal ini dilandasi pandangan orang Jawa bahwa: “Ilmu iku yen diglintir gedhene sak mrico, yen dibabar ngebaki jagat”.

Penulis dengan Mbah Slamet
Penulis dengan “Eyang Kanjeng”

Pralambang simpulan inilah yang dalam Peradaban Jawa sudah diterapkan dalam kehidupan berkebudayaan sehari-hari, oleh semua lapisan masyarakat. Dan kalau ditelaah menggunakan ‘alat bedah’ yang tepat, maka akan terkuak bahwa peradaban harmonis terhadap lingkungan dalam peradaban manusia penghuni Pulau Jawa sangat transenden, artinya berketuhanan, dan dalam rangka manifestasi perwujudan Penghormatan dan Penghambaan kepada Gusti Sing Akaryo Jagad.


0 Responses to “Etnotigrologi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Risearcher

Kliping

Desember 2016
S S R K J S M
« Jan    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: