29
Jul
10

Serangan Budayakonservasi Harimau jawa di P. Jawa


Lewat diskusi ‘khusus’ dengan seorang pinisepuh digelapnya malam pantai jiwa, terudarlah sedikit uraian tentang Rampokan Macan.

Orang jawa itu memang mempunyai prinsip Mikul duwur Mendhem jero. Bahkan di kebudayaan Cirebon juga ada satu sekola: Aja mbukak rusia orang lain. Artinya banyak kejadian yang terlihat sebagai aib, yang kalau dilakukan oleh orang lain apalagi para Priyagung maka dalam pencatatan sejarahnya harus dibahasa-sandikan secara sanepan, kamuflase –sebagai sebuah penghormatan : sebab papak ora padha (mengandung pengertian mendalam perihal diversitas). Esensi isi-nya tetap (jadi tidak berbohong) tetapi tampilan dan kemasan-nya saja yang berbeda. Seperti ilmu bungklon: dia tetap bungklon (esensinya) walau terlihat hijau di dedaunan, terlihat coklat saat di batang dan terlihat abu-abu saat di tanah (tampilan kasat-nya). Hanya yang tak mempunyai penglihatan tajam dan terlatih maka akan sulit untuk mengetahui keberadaan bungklon tersebut di daun ataupun batang (butuh ‘pengetahuan’), bahkan ada yang menggunakan kejadian itu sebagai sanepan untuk sikap mencla-mencle, padahal tepatnya adalah sebuah strategi bagi bunglon agar selamat dari predatornya.

Sebagai misal Ken Arok: dalam beberapa folklor diceritakan sebagai ‘anak petir’ yang diketemukan di galengan sawah oleh pasangan suami istri di suatu desa. Padahal jika dibaca dengan pandangan ‘cebolek’ arti sewajarnya itu adalah suatu upaya mendem jero silsilah sang Raja, sang Pemimpin. Sehingga para pengkaji kenyataanlah yang mampu membacanya. Diucapkanlah: Anak Petir itu sebenarnya adalah anak yang dibuang ke tepi sawah, tidak jelas bapa-biyung-e?

Tapi sebagai jabang bayi dia tetap harus sebagai manusia. Manusia yang terlahir tanpa pernah memilih siapa yang harus melahirkannya dan tanpa pandang bagaimana kehalalan hubungan lelaki perempuan yang menyebabkan ‘terbentuknya’ jabang bayi itu. Sehingga dipandang oleh orang Jawadwipa dia sebagai manusia yang seutuhnya. Makanya disebutlah dengan istilah sebagai Anak Petir. Dimana Petir itu membawa harapan dan ancaman. Sebagai harapan petir itu pertanda akan hujan yang ditunggu petani jawa untuk memulai bertanam sumber pangan (bagi Ken Dedes). Petir sebagai ancaman kalau kita tersambar olehnya, atau hujan -yang setelah suara gludhug membahana, runtuh sangat deras dan menjadikan banjir bandang (bagi Tunggul Ametung). Semua itu dipahami dan dititeni manusia jawa. Lalu disampaikanlah pengetahuan itu turun temurun dengan metode folklor.

Pengantar di atas merupakan sedikit ilustrasi untuk menjelaskan tentang adanya budaya gropyokan macan di kalangan Raja Jawa. Masyarakat pedalaman (tepi hutan) mempunyai paham keyakinan bahwa harimau jawa merupakan saudara – sahabat – sanak mereka, bahkan ada yang menghormatinya sebagai ‘kyaine’. Hal itu merupakan ungkapan pengetahuan yang telah terakumilasi dari hubungan manusia-harimau lintas generasi dan akhirnya menjadi kebudayaan komunitas tersebut . Sekali lagi tersampaikan dengan metode folklor contextual learning.

Akan tetapi kalangan kerajaan telah terpengaruh oleh budaya kebo bule. Imbas itu menjadikan harimau layak ditangkap dan layak dibunuh (perusakan akar budaya); oleh Wessing (1995) dianggap sebagai ‘ambiguitas javanese’ dalam memandang harimau jawa. Dimana kekuatan yang dimiliki harimau (dianggap jahat) dan layak ditandingkan dengan kekuatan manusia. Duel secara langsung. Face to face. Hal ini dikandung maksud agar Raja tahu, siapa pengawalnya, siapa Senopatinya dan sejauh mana kekuatan Senopati itu. Karena jawa masih banyak harimau –kala itu, maka dia harus terbukti mampu mengalahkannya jika berhadapan atau berpapasan saat diutus melurug memerangi kerajaan lain. Tapi apa ya begitu? Ternyata jawabnya tidak. Perkelahian dengan harimau tanpa sebab yang jelas merupakan sebuah perilaku ‘aib’ menurut pandangan penduduk lokal tepi hutan. Sebab dalam kesatuan tentara kerajaan ternyata terdapat beberapa orang prajurit, bahkan sang senopati sendiri yang memiliki kemampuan aji panyirep, sehingga ‘kutu-kutu, walang sampai atogo’ tertidurkan saat tentara melintas. Hal yang tak pernah di ketahui oleh dunia, sebab ilmu tersebut sangat sinengker, disembunyikan dengan rapat, hanya kalangan batih tertentu yang boleh mendengar informasi perihal data ini dan boleh mengusai pengetahuan tersebut. Dan ‘screening’ bathin digunakan mengetahui: jiwa mengendhap dan bukan jiwa bergolak –yang boleh memegangnya. Demi sebuah keharmonisan tatanan komunitas alam, yang sangat dipegang teguh oleh budaya Jawa: menang tanpa ngasorake “win-win solution”.

Pertarungan dengan harimau dalam suatu gropokan lebih diakibatkan karena pengaruh desakan dari kebo-bule. Inspirasi yang diberikan kepada Raja yang merasa dibantu oleh kebo-bule. Akibat desakan tersebut, maka para pawang harimau mengambil inisiatif lain. Inovasi ramah budaya hasil negosiasi dengan Ki Dadhung Awuk -si penggembala satwa liar di hutan Jawa. Mengingat perintah Raja adalah sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan, walaupun dianggap ‘aib’ –karena menciderai budaya lokal si pawang. Makanya si Pawang yang biasanya adalah penduduk pedalaman dan jelas memiliki hubungan ‘emosi’ dengan harimau, saat dipaksa untuk melawan pengetahuan lokal warisan leluhurnya, mereka memeras otaknya guna meng-inovasi keterpaksaan yang harus dihadapinya.

Pinisepuh sepejagongan denganku menerangkan: untuk itu maka dicarilah Syarat siapa harimau jawa yang ‘boleh’ ditangkap. Tentunya setelah bernegosiasi dengan Ki Dadhung Awuk. Akhirnya pilihan dijatuhkan kepada: harimau, terutama yang memiliki sifat ganas (punya potensi membunuh orang), urakan (sulit dikendalikan egonya), dan ke-‘bandit-an’ harimau itu (karakter khusus yang paling dicari sebagai kemutlakan pilihan untuk ditangkap guna diadu). Beliau menjelaskan kriteria itu dengan seksama. Maka sebenarnya ‘pagelaran’ gropyokan itu tidak saban tahun diadakan. Tergantung apakah si-pawang telah berhasil menemukan sosok harimau jawa yang mempunyai kriteria ‘wateg’ sebagai harimau ‘bandit’ atau ‘gali’ tersebut.

Beliau menguraikan lagi bahwa harimau jawa yang mempunyai criteria ‘bandit’ itu mempunyai ciri-ciri: macan boro / macan lancong (pengembara, berarti tidak mempunyai home ring menetap), wajahnya merekam banyak goresan hasil luka bekas pertarungannya dengan harimau lain, berarti harus gembong (pejantan tangguh) –ingat didunia felids terdapat ‘dimorfisme sex’ artinya jenis yang jantan mempunyai perbedaan morfologi (biasanya tubuhnya lebih besar dan mempunyai surai dibawah dagu lebih lebat) dibandingkan dari jenis yang betina. Selain itu untuk mengetahui posisi harimau ‘bandit’ ini sekali lagi harus ditanyakan dulu kepada Ki Dadhung Awuk. Makanya kapan harimau ‘bandit’ ini melintas di hutan terdekat dapat terprediksikan secara akurat. Wosnya : tidak ada kamusnya untuk menangkap harimau jawa betina guna di adu dalam gropokan-macan.

Gendham yang digunakan si pawang, mampu membius satwa menjadi tetap nyenyak saat di‘ungsi’kan dari pedalaman hutan. Konon “ilmu bius lokal” alias gendham penyirepan itu mampu untuk menidurkan orang se-keraton (dalam babad Pati disebutkan saat ki Sondong Majeruk menggunakan ‘bius lokal’ ini guna mencuri Kuluk Kanigoro milik Sukmayana: begini ujarannya= “Pangkur:(203)Sondong Majeruk tumuli, ambukak kandhutanira, siti saking jaratane, kinarya panyirep janma, lamun mandung mangkana, siti binalangken sampun, kumreteg lir pindha jawah……(206)Ana dongeng na ngrerepi, ana kang luru tegesan, cangkemku pait rasane, grayangan antuk tegesan, sigra ingakep enggal, anyingkrang anggene lungguh, dereng telas nuli nendra. (207) Kang ngrerepi saya lirih, gloyam-glayem nuli nendra, kang ndongeng meneng swarane, kang kemit tilem sedaya, warnanen jroning puro, para nyai pating prengut, ceklak-cekluk nuli nendra. (208) Sukmayana lan kang rayi, nendra aneng jroning tilem, langkung eca genya sare, kadya mina yen tinuba, sagunge para janma, rahaden Sondong Majeruk, pancen sekti mandraguno…” by: Ki Warsito, 1932, not publicated). Begitulah analog gambaran tentang ‘pembiusan’ harimau jawa oleh para pawang jawa. Meskipun banyak metode dan macamnya bagaimana penyirepan itu dilakukan, yang jelas tak sebanding dengan penggunaan anestesia di dunia kedokteran hewan sekarang, semisal: TelazolÒ (tiletamine hydrochloride), atau KetasetÒ (ketamine hydrochloride) dan RompunÒ (xyzaline hydrochloride) dimana pada prakteknya harus memperhatikan dosis seberapa banyak (dalam cc) yang harus ditembakkan per perkiraan berat badan satwa target. Untuk menembak sasaran harus mendekati obyek target satu-persatu, lalu setelah itu juga harus memakai ‘antisedan’ sebagai obat penawarnya semisal AtipamezoleÒ. Lha kalau ‘bius local-milik javanese’ itu setelah mantra pemudar diucapkan, maka se-kadhipaten akan bangun seketika: Ramah Lingkungan dan Tanpa Efek Samping, serta tak perlu memperhatikan ‘dosis’ yang harus diberikan.

Akan tetapi jika harimau itu masih terlalu muda dan belum mencapai umur dewasa-kuat, maka biasanya tidak boleh ditangkap dulu oleh Ki Dadhung Awuk. Kenapa begitu? Dijelaskan pinisepuh itu, bahwa kalau harimau telah mencapai dewasa kuat berarti dia telah berhasil mengawini beberapa betina dan kemungkinan telah memiliki anak sekitar 5-7 ekor dari berbagai betina dari kawasan yang jauh berbeda pula. Dari anakan itu diperkirakan ada 3-4 ekor (50%) pejantan yang berarti cukup untuk sifat ‘banditnya’ terturunkan –sebanding dengan pengetahuan genetika modern. Bukankah ini menunjukkan adanya sebuah metode “pemanenan” ramah lingkungan demi kelestarian satwa? (walaupun hanya untuk melihat dari sebuah unsur “bandit” dari banyak sifat-sifat yang dimiliki oleh seekor harimau, namun kelestariannya tetap dijaga oleh para pawang. Sejauh itukah dunia konservasi harimau sekarang –yang diklaim sebagai peradaban modern?) Model-model local wisdom seperti inilah yang penulis kais-kais dari javanese folklor agar kita tetap “NGEH” dalam konservasi hidupan liar berazaskan kebudayaan lokal, kebetulan dalam harimau jawa ini di kebudayaan jawa yang ada di pulau Jawa. Kebetulan juga P. Jawa : mempunyai suku Sunda, Badui, Jawa, Tengger, Osing, bahkan Madura pendatang.

Tetapi jika Raja memaksa penangkapan harimau, maka si pawang akan melakukan negosiasi dengan Ki Dadhung Awuk (azas musyawarah mufakat tetap dilakukan, walau antar manusia dengan Ki Dadhung Awuk-yang mungkin dari dunia ‘lain’. Bukan menggunakan voting yang sekarang dianggap sebagai demoktaris ……). Dan biasanya pejantan tua sesaat setelah pensiun dari menjadi ‘pejantan alpha’ itulah yang diijinkan diambil. Jadi tidak sembarangan tangkap. Begitulah prilaku penduduk pedalaman yang menjadi pawang harimau. (artinya: pengamatan perilaku-ethologi benar-benar dikuasai oleh si pawang, sebab bagaimana bisa mendapatkan posisi keberadaan ‘pensiunan’ pejantan alpha kalau tidak menguasai benar akan komposisi demografi populasi harimau jawa kala itu. Ditambahkan pula pensiunan pejantan alpha ini memiliki tingkat emosi yang ganas, sebab dia baru ‘stres’ karena kekuasaannya direbut, dan frustasi karena tidak mungkin mengawini betina lainnya lagi. Harimau memang sportif, dia harus pergi mengembara –karena telah dikalahkan oleh pejanan muda baru. Nah mungkin emosi ganas ini akan dapat di’curah’kan saat beradu perkelalian dengan manusia jika arena rampokan digelar. Di alam liar dia juga akan mati dan di rampokan dia juga akan mati, tapi mati di rampokan telah melegakan luapan emosinya, di bandingkan mati di alam yang harus morag dengan memilih lokasi yang sulit diketahui manusia –meski kadang posisinya diketahui pawang guna diambil bagian-bagian tubuhnya untuk di-syarati oleh dukun menjadi jimat bagi para manusia gali.)

Seiring perjalanan waktu, kebo-bule telah menginfasi banyak dataran rendah untuk perkebunan, perladangan dan perkampungan. Akibatnya konflik dengan harimau jawa menjadi sebuah perang terbuka. Ditambah iming-iming uang untuk membunuh harimau, maka terjadilah dis-harmoni kepada dua penghuni jawa. Diadu domba. Konsep sanak telah mulai diserang dengan iming-iming uang. Akibatnya manusia ‘brandal’ terprovokasi untuk membunuh harimau jawa. Bahkan perburuan harimau menjadi lahan pekerjaan baru yang banyak menghasilkan uang –sejatinya demi keuntungan perkebunan kebo bule. Dan mereka malah terkadang mendatangkan pemburu harimau dari golongannya.

Sunan Kalijaga bahkan mengajarkan ulang konsep paseduluran ekologis manusia-harimau khususnya atau satwa liar umumnya dengan cerita dalam wayang jawa sebagai “Babad Alas Amerta”. Ketika Pendawa kalah main dadu dengan Kurawa maka ia di usir ke hutan. Di hutan tersebut, Werkudara melakukan pembabatan hutan tanpa ampun. Akibatnya para sato kewan pada protes. Terjadilah perang antara Pendawa dengan sato kewan alas. Saking serunya pertempuran maka tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Maka diundanglah ki Semar (sebagai representatif kearifan lokal jawa) guna menengahi pertempuran itu. Maka terjadilah kesepakatan tata batas dan tata ruang yang adil antara wilayah satokewan dengan wilayah manusia. Dan barang siapa yang melanggar, maka wajib dikenakan candikolo.

Inspisari kreasi Sunan Kalijaga itupun dicukil oleh Ki Ranggawarsita menjadi sebuah cerita tentang perkelahian manusia dengan raja gajah putih di daerah Herbangi (baca: Berkaca di cermin Retak, Wiratno et.al 2002). Konsep yang juga menjelaskan tentang makna untuk adanya kesadaran berbagi ruang kehidupan antara manusia dengan satwa liar. (Embah Ronggowarsito mengambil konflik manusia dengan gajah). Pada akhirnya juga terjadi kesepakatan untuk membagi kawasan yang menjadi milik manusia dan kawasan yang menjadi hunian sato kewan. Bukan membunuh semua gajah yang nota bene adalah hewan (konsep harmonis hidup).

Dua orang Genius Lokal tersebut ajarannya bersumber dari kearifan lokal jawa, sekarang cenderung pudar hilang tanpa diresapi inti sari pelajarannya. Dimana manusia dan hewan merupakan sama-sama makluk ciptaan Tuhan. Jadi harus saling menghormati dan harus saling menjaga. Melanggar hak antar anggota penghuni bumi ini jelas merupakan sebagai pelanggaran kosmos (pandangan kebudayaan transendent). Akibatnya tidak heran jika banjir dan longsor (sebagai candikolo) melanda Jawadwipa. Hal itu sebagai repesentatif atas mulai longsor dan erosinya budayakonservasi orang-orang penghuni Jawa untuk hanya sekedar mendapatkan uang.

Sebagai mana dengan kawasan suaka-marga satwa Meru Betiri yang oleh Steidensticker & Suyono (1976) di usulkan sebagai kawasan bagi kehidupan harimau jawa. Namun pemerintah Indonesia yang akan melakukan perlindungan harimau diserang dengan pernyataan ‘manusia kok dikalahkan dengan 3 ekor harimau jawa’. Sebab di Meru Betiri itu kawasan ideal harimau jawa telah diubah ‘dulunya’ oleh kebo bule menjadi perkebunan Bande alit dan Sukamade yang ‘dianggap’ menghidupi para pekerjanya. Setelah nasionalisasi maka banyak pekerja kontrak perkebunan kopi dan karet didalamnya, sejalan dengan pertambahan waktu maka jadi berkembang jumlahnya seiring dengan laju demografi manusia (meski tidak semua manusia penghuni perkebunan tersebut menjadi tenaga kerja). Bahkan tahun 1997 dua perkebunan tersebut telah diubah statusnya menjadi Zona Peyangga, walaupun posisi wilayahnya berada di dalam kawasan Taman Nasional.

Para pemimpinnya bahkan sampai sekarangpun tak kuasa melakukan rekonsiliansi penetapan tata ruang yang mendukung hak hidup bagi satwa-satwa penghuni Jawa. Yang secara transendental dijelaskan oleh Sunan Kalijaga seperti pertumbuhan tumbuhnya Tepus. (Sunan Kalijaga ternyata merupakan sebagai pengamat hidupan liar) Tepus merupakan tumbuhan hutan yang termasuk golongan suku Zingiberaceae. Sistem hidupnya mempunyai rimpang yang menjulur di dalam tanah. Kenyataan tersebut dipinjam oleh sunan Kalijaga untuk menjadi perlambang atau sanepan: bahwa segala yang hidup mempunyai akar asal-usul (rimpang) yang sama. Yaitu kehidupan dari Yang Maha Kuasa ya Gusti Sing Akaryo Jagat. Yang dijelaskan lagi dengan kalimat pengikutnya: Gusti Kang Ora Keno Kinoyongopo.

Budayakonservasi Jawa, ternyata mempunyai akar transendental. Kepahaman melindungi habitat sato kewan merupakan perjuangan pengabdian kepada Gusti Sing Akaryo Jagat iyo Gusti Kang Ora Keno Kinoyongopo. Maka tidak heran jika selama melakukan pengembaraannya Sunan Kalijaga meninggalkan tetenger berupa pohon beringin yang biasanya akan ada sendang di bawahnya. Artinya keberadaan tumbuhan (dalam hal ini beringin) merupakan hal yang dapat menimbulkan air (dimana pada kenyataan ada sendang di bawah beringin: jangan hanya faktor kasat mata yang diamati, tapi faktor yang tersirat diperilaku itu yang sebenarnya harus digali para budayawan untuk selanjutnya digiyawarakake marang kadang jawa, ben dileluri marang anak putu. Perilaku-ucapan para leluhur jawa sebenarnya merupakan buku pustaka –contectual learning . Hanya saja perilaku dan ucapan itu terkadang dimaknai sebagai gugon tuhon dan nilai-nilai magis saja – yang hemat penulis pandangan sebagai magis dan gugon tuhon itu sengaja diwacanakan oleh kebo bule, agar kita tercabut dari akar pengetahuan lokal yang super genius dalam memahami ekosistem jawa, sehingga lalu berhenti dari menggali-gali makna yang tersirat dengan pikiran logis yang kita miliki. Ha… monggo kerso…). Nah… mampu tidak kita sebagai generasi penerus yang hidup di Jawa MEMBACA pelajaran para leluhur dahulu. Jangan hanya karena pohon besar penghasil air sendang itu di datangi para penepi untuk meminta wangsit…. lalu dengan semena-mena ditebang habis. Agar manusia tidak syirik… kata sebagian orang. Seperti di Trenggalek dulu. Pohon kepuh besar di makam yang diklaim keramat sering di datangi para pencari nomor (SDSB) jaman itu… langsung ditebang oleh beberapa pemuda golongan tertentu. Mengabaikan kenyataan bahwa pohon kepuh besar itu juga menjadi sarang kalong. Akibatnya kalong pun musnah, entah kemana tidurnya….. Pada hal Nabi Muhammad SAW, pernah berpesan: tidaklah pohon yang kau tanam itu dimakan manusia dan binatang, kecuali menjadi shodaqoh bagimu

“Dan barusan saya mendapat kabar dari Jabar, ada sebuah ‘dhanyangan’ dengan kerimbunan pepohonan besar dan mbregat serta singup dan suker – dibabat habis biar ‘padhang’ dan resik. Akibatnya: hama tikus merajalela, wereng mengganas dan banyak penyakit tersebar di kalanan masyarakat. Pikiran logis penulis: sewaktu ‘danyangan’ itu rungkut, maka ular predator tikus bersembunyi aman di sini, tumbuhan mbregat dengan serasah yang suker merupakan tempat nyaman bagi serangga yang kemudian menjadi wereng padi karena ‘rumah’ idealnya di’gusur’. Kesadaran leluhur dulu memberikan semacam lokasi bagi persembunyian satwa liar, digerus dengan pandangan baru yang ‘salah kaprah’ dimana suker dianggap jelek dan bersih dianggap baik. Pada kenyataannya tak digunakan sudut pandang lain, bahwa suker itu sebagai konsep toleran untuk memberikan ruang bagi kehidupan lain selain manusia. Ini sebagai gagasan penulis……”

Oleh karena itu, untuk mengatasi gempuran terhadap budayakonservasi jawa, kita harus meluaskan pengetahuan, membaca ulang catatan sejarah hasil pemikiran leluhur jawa terhadap kehidupan harmonis antar penghuni Jawadwipa. Sekali lagi kita harus cerdik dalam membacanya. Tidak sebatas manusia, hewan, bahkan dengan kehidupan yang paralel dengan ruang kehidupan manusia, bak layer-layer di tampilan Adobe Photoshop atau program GIS, manusia jawa dahulu telah membangun sinergitas yang akur –konsep harmonis.

Bahkan ada sebuah pengetahuan folklor yang penulis jumpai di Jabar bahwa manusia itu bisa tidak makan selama seratus hari atau pun setahun. Meski harus minum, dan hanya minum saja (kemarin baca di yahoo: seorang yogi di India bisa sampai 70 tahun lebih berpuasa tidak makan). Artinya kita manusia itu tidak boleh serakah bahkan sampai buas, melebihi buasnya binatang buas. Buasnya harimau hanya untuk menangkap mangsanya saat lapar. Guna mempertahankan hidup. Dimana sekali makan cukup untuk satu minggu. Maka tidak ada harimau yang ketika kenyang membunuh satwa mangsanya. Oleh orang jawa itu terekam dalam pernyataan: “Mlakune koyo macan luwe”. Gemulai dan luwes, indah dan cantik tapi tetap dianggap kuat wibawanya. Pernyataan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi nyata : contextual learning antar generasi manusia jawa dengan harimau jawa. Yakni manusia jawa telah mampu membuat kesimpulan bahwa harimau loreng itu lebih banyak laparnya dari pada kenyangnya, sebab mlakune macan luwe dilihat indah untuk ‘penyepadanan’ wanita yang jalannya indah gemulai. Klenggat-klenggot ning jejering jumangkah dlamakanne tetep mantheng segaris –koyok macan luwe yen mlaku, ora mekeh-mekeh koyok kethek yen mlayu ning lemah.

Ing telenge latri gumuk pasir kajiwan.
Maos serat saking saklebeting GEN.
“Jaka Alas” didik raharyono.


12 Responses to “Serangan Budayakonservasi Harimau jawa di P. Jawa”


  1. 1 Rahmat
    Desember 11, 2010 pukul 9:46 am

    Gmana kabarnya mas didik? Lama nggak masuk blog ini…Ada perkembangan dari lereng gunung Muria?

    • Januari 14, 2011 pukul 11:07 pm

      Kabar baik… iya nih… masih di hutan terus..
      Yang di Muria belum kesentuh…, saya lagi konsentrasi di Jawa Barat…. menggunakan kamera trap ‘pinjaman’….
      Mohon do’anya, agar loreng jawa segera terrekam…. sehingga pengelolaan hutan di Jawa harus lebih serius…

      Trimakasih atas atensinya…

  2. 3 yulianto
    Januari 26, 2011 pukul 6:35 am

    Kita semua berdoa supaya segera terekam sehingga status harja berubah dari punah menjadi satwa yg dilindungi, lebih cepat lebih baik, saya hanya kuatir dengan status punah yg disandang sekarang akan lebih memberi kebebasan kepada org2 yg tidak bertanggung jawab utk terus memburunya. Tugas berat utk Mas Didik & PKJ, tapi saya yakin tujuan akhir pasti tercapai.

    Salam lestari

  3. 4 yulianto
    Maret 31, 2011 pukul 9:06 am

    Mas Didik, apa sudah ada kabar dari gunung muria? Saya hari ini baru denger di radio lokal di surabaya yg bilang wilayah gunung muria mau dijadikan lokasi pembangunan pltn th 2017

  4. 5 Macan Jowo
    April 11, 2011 pukul 6:27 pm

    Bung, udah pernah ajak WWF Indonesia untuk ikut bergabung dalam investigasi keberadaan harimau jawa? Mereka kan punya dan dari supporter pribadi, dan juga tentunya dana dari organisasi pusatnya di luar negeri. Mungkin bisa mengadakan investigasi lebih ekstensif.

    • Mei 24, 2011 pukul 2:10 am

      Belum pernah Kang. Hanya saja beberapa teman yang telah melakukan-nya, maksudnya mencoba menginformasikan apa yang kami lalukan kepada mereka. Tapi tetap saja tak mempengaruhi minat mereka untuk infestigasi harimau jawa. Saya tak menaruh banyak harapan ke WWF. Orang lokal saja yang harusnya lebih peduli terhadap eksistensi satwa kebanggaan jawa. Tapi ya itu, PRIBUMI memang masih berkutat dengan LAMBUNG…… nya….

  5. 7 gunarso
    September 20, 2011 pukul 3:17 am

    saya setuju dengan pendapat penulis ….. dhanyangan, punden yang ada di setiap desa/wilayah adalah “suaka” yang diberikan oleh para pendiri wilayah kepada makhluk hidup lain saat membuka suatu desa/wilayah …. kita harus meluruskan “akidah” agar punden /dhayangan itu tetap ada tetapi tidak sampai membuat orang menjadi musyrik …

  6. April 26, 2012 pukul 6:07 pm

    Pada saat saya masih kelas 6 MI (sekitar tahun 2004), saya pernah mendengar cerita orang tua d skitar rumah saya bahwa ada seekor harimau tertangkap. Lokasinya di daerah Petak 27 (sisa hutan di sebelah selatan Kec.Kedungreja) skitar 80 KM dari Kota Cilacap.
    Mungkin ini juga bisa menjadi informasi bagi Kaka2 PKJ.

    Maturnuwun…..

    • Agustus 3, 2012 pukul 2:05 am

      terimakasih informasinya. Hal ini penting bagi langkah-langkah kami kedepan. Informasi sekecil apapun perihal karnivor jawa sangat besar maknanya bagi kami. sebab informasi langsung dari masyarakat sekitar hutan adalah modal yang sangat penting yang tidak ada di perpustakaan manapun di Indonesia ini. Dan akan menjadi bahan tindak lanjut untuk survey-survey kedepan kami….. Salam Lestari….

  7. 11 Handi
    Agustus 8, 2012 pukul 12:10 pm

    Salam kenal Mas Didik, saya Handi dari Kediri. sebenarnya sudah lama saya mengikuti kabar-kabar dari Mas tapi baru kali ini saya mengetik pesan untuk Mas. Saya ingin tanya, apa Mas sudah pernah menelusuri jejak Si Loreng di pegunungan Arjuno? Soalnya, akhir-akhir ini saya sering mendengar kabar keberadaannya di daerah sana. Mungkin ada pertanyaan di benak Mas, mengapa saya orang Kediri berani mengabarkan keberadaan harimau di daerah Batu (Arjuno)? Ya, karena saat ini saya sedang belajar di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di kota Malang dan selama saya di Malang, saya sering main ke daerah Batu. sehingga saya sering mendengar kabar keberadaan Harimau Jawa di area pegunungan Arjuno. Dari hati kecil saya, saya sangat mendukung upaya Mas dalam membuktikan keeksistensian Si Loreng Jawa. Semangat Mas, buktikan bahwa Si Loreng masih berkelana di sudut terdalam pulau Jawa.
    Salam Lestari…

    • Januari 6, 2013 pukul 3:05 am

      Terimakasih atas atensinya Cak Handi…
      Saya dan organisasi PKJ belum pernah menginvestigasi Peg. Arjuno…
      hanya sedang mengumpulkan informasi dan masukan dari berbagai teman dan kenalan, baik PA, maupun Perbakin, yang masih menginformasikan eksistensi harimau jawa di kawasan ini.
      Bahkan beberapa th yang lalu, ketemu & kenalan dengan mantan AD, yg pernah tugs di lereng Arjuno sekitar th 1965-an (pasca Gestok: katanya) sempat menjumpai 5 ekor loreng yg sedang minum di suatu mata air… dan beliaunya sempat menembak seekor di antaranya….
      Informasi dari Cak Handi ini, menambah ‘kekuatan’ baru akan potensi eksistensi harimau jawa di Arjuno,…. hanya saja kita memang masih kekurangan “PERISET KARNIVOR” yang berani meneliti INDEPENDEN…. sebab jelas tidak ada dana untuk melakukan riset eksistensi Harimau jawa… karena jelas akan menjadi “alat” perang terhadap pola pengelolaan dan perlindungan ekosistem Pulau Jawa yang sangat carut-marut ini… silahkan dibuktikan… : jika Cak Handi mengajukan kegiatan untuk yg namanya ‘PK atas eksistensi Harimau jawa’…. dijamin TIDAK ADA YANG MAU PEDULI / (membantu pendanaannya)….

      tapi TUHAN YG MAHA ESA MAHA KAYA…. selama ada ‘niat baik’ dan terus ‘bekerja’ DIA akan selalu memberikan jalan untuk berkarya…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Okt »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: