15
Jun
10

PL KAPAI 1997: PENDIDIKAN KONSERVASI MENCARI “MACAN”


Sumber Kliping: PANCAROBA, No 13 musim tanam Okt- Des 1997

PL KAPAI 1997: PENDIDIKAN KONSERVASI MENCARI “MACAN”

Oleh: WG Prasetyo

Permasalahan lingkungan terus berkembang menyertai proses pembangunan. Permasalahan tersebut banyak menimbulkan benturan kepentingan antara pelaku pembangunan dengan masyarakat. Akibat langsung dari berkembangnya permasalahan ini sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di dekat proyek pembangunan. Sementara, akses masyarakat terhadap informasi lingkungan, keberanian menyampaikan pendapat, masih lemah. Bahkan kesadaran akan permasalah lingkungan cenderung belum dimiliki, sehingga langkah-langkah pengamanan dar perlindungan lingkungan cenderung masih lemah.

Di sisi lain, Pencinta Alam merupakan sekelompok masyarakat yang memiliki jiwa cinta pada alam dan lingkungan. Jiwa cinta pada alam dikenal dengan diekspresikannya dalam wujud melakuan kegiatan olah raga alam bebas, petualangan dan bakti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Mereka dapat dikembangkan sebagai kelompok pengamat lingkungan yang handal sekaligus sebagai pendamping masyarakat dalam melakukan pengelolaan lingkungan.

Berangkat dari pemikiran tersebut “Pendidikan lingkungan Untuk Kelompok Pencinta Alam 1997 (PL-KAPAI 1997) diharapkan menambah kemampuan Pencinta Alam dalam “membaca” permasalahan lingkungan melalui sikap, mental, dan perilaku yang lebih peduli pada lingkungan dan masyarakat. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah untuk diterapkan setiap kegiatan petualangannya. Lebih lanjut bahkan memunculkan kader pengamat dan pengelola lingkungan dan kalangan Pencinta Alam, yang sekaligus dapat menjadi pendamping dan pemberi motivasi masyarakat.

Menyelesaikan masalah

Kappala Indonesia, lembaga yang rutin melaksanakan kegiatan pendidikan lingkungan ini

Berpendapat : kurikulum pendidikan lingkungan harus luwes untuk diterapkan memecahkan masalah yang berkembang di lapangan. Oleh karenanya PL-KAPAI 1997, seperti juga sebelumnya, mengangkat topik, permasalahan saat hangat saat sekarang. Saat ini diangkat kasus sumberdaya TN Merubetiri yang terancam eksistensinya oleh tren tambang emas. Ada dua misi dalam materi lapang tersebut. Pertama, bersama-sama menggali dan menuai pengetahuan. Kedua, mencari data kunci sebagai upaya mempertahankan eksistensi taman nasional itu. Mengapa?

Beberapa lembaga konservasi merasa pesimis tentang keberadaan Harimau Jawa. Bahkan boleh dikata, banyak yang meyakini, Harimau jawa telah punah. Benarkah demikian? Jika masih banyak cara yang dapat dilakukan, mengapa mesti patah arang? Dengan dianggap punahnya Harimau jawa tersebut, permasalahan menjadi meluas. Antara lain adanya upaya pengalihan fungsi Taman Naional Merubetiri menjadi kawasan pertambangan. Hal ini telah, dimulai dengan dikeluarkannya Ijin Eksplorasi seluas lebih dari satu juta hektar, untuk PT Hatman dan PT Timah oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Salah satu hal yang memungkinkan dapat membatalkan pengalihan fungsi tersebut adalah keberadaan Harimau Jawa. Jika Harimau Jawa itu masih ada, pengalihan TNMB menjadi kawasan pertambangan akan menjadi permasalahan dunia yang krusial.

Oleh karena itu dalam PL-KAPAI 1997, sebagai kegiatan Pendidikan Konservasi Alam (PKA) yang didukung Dana Mitra Lingkungan, ditekankan pada konservasi taman nasional. Penajaman dikhususkan tentang pendataan Harimau Jawa dan sumber daya alam TNMB. Ini merupakan alternatif terbaik untuk menyelamatkan taman nasional. Keberlanjutan program dilakukan dalam bentuk ekspedisi lanjutan ekspedisi detil pendataan Harimau jawa dan satwa langka lainnya, serta pengembangan masyarakat tepi kawasan taman nasional. Kegiatan lanjutan juga telah dilaksanakan. Akhir bulan September ini, bekerjasama dengan Sub BKSDA Jatim II dilakukan Ekspedisi Elang Jawa.

Kegiatan Rombongan

PL-KAPAI 1997 adalah pekerjaan rombongan. Materi ruang dilaksanakan selama lima hari di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Universitas Surabaya (UBAYA) dan Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ). Enambelas materi disajikan oleh berbagai lembaga dan unsur terkait. Penyaji-penyaji itu antara lain ET Paripurno, Wahyu Giri Pasetyo, Siti Maimunah, dan Achmad Daenuri dari ” Tuan rumah” KAPPALA Indonesia; Herwono dari Kebun Binatang Surabaya, Andi H SH dari LBH Surabaya, Cahyo LM dari MAPALAS UNITOMO Surabaya, Drs. Agus Lutfi Msi dari PSDALH UNEJ Jember; Ir. Indra Arinal dari (kepala) Sub BKSDA Jatim II, Sugiyono dari Bappeda Tk II Jember, serta Netran masyarakat lokal (desa penyangga TN Merubetiri). Diharapkan dengan melibatkan unsur-unsur yang terkait erat dengan permasalahan tersebut lebih memperjelas permasalahan vang akan dihadapi.

Pelaksanaan lapang dilaksanakan di TNMB dengan dikoordinasikan oleh Mitra Merubetiri. Peserta di bagi menjadi 8 kelompok dengan 8 sasaran penelitian di kawasan TN Merubetiri. Kelopok I dengan sasaran Nanggelan – Sukamade terdiri dari Reno Widanarti (MAPAGAMA UGM Yogyakarta), Adhi Widyatama (MAPAUS UBAYA Surabaya), Didik Setiawan (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ Jember), Heri Wahyudi (NIKKAPALA Poltek Kapal ITS Surabaya), serta Pak Suratman (Desa Andongrejo Tempurejo Jember) sebagai narasumber lokal dan pemandu kawasan.

Kelompok II dengan sasaran pengamatan Mandilis – Mandilis terdiri dari Abrar (MATALABIOGAMA Fak Biologi UGM Yogyakarta), Ahmad Rofieq (MAPALASKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Wardiman (CICERA Univ. Pancasila Jakarta), Wahyu Giri Prasetyo (KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Pak Netran (Desa Sanenrejo, Tempurejo Jember) sebagai pemandu kawasan.

Kelompok III terdiri dari Djuni Pristianto (MAPAGAMA UGM Yogyakarta), Sofyan (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ Jember), Ahmad Tirto Sudiro (GPA AESTHETICA ISTN Jakarta), Satrio Hariyanto (IMAPALA. STIA Mandala jember) dengan kawasan jelajah Sukamade Mulyorejo.

Palempat – Sarongan merupakan kawasan jelajah kelompok IV dengan tim terdiri : Didik Raharyono (MATALA BIOGAMA Fak. Biologi UGM Yogyakarta), Ibnu Sutowo (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ Jember KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Nurkholis Yusuf (GEMPALA Pekalongan), Nova Liliyana (CICERA Univ. Pancasila Jakarta).

Kelompok V dengan daerah Sarongan – Suberjambe terdiri dari Muhammad Toha (GEMAPITA FIKIP UNEJ Jember KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Mat Saroni (MAHAPENA Fak. Ekonomi UNEJ Jember), Kiki Pribadi (MAPALASKA Univ. Singaperbangsa Karawang), Adi Mulyono Ifnesius Silalahi (GPA AESTHETICA ISTN Jakarta). Bung Tronjol (Desa Sarongan, Pesanggrahan, Jember) sebagai pemandu kawasan.

Kelompok VI yang terdiri dari Alpha Nugroho (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ jember), Widjan Afifi (GPA AESTHETICA ISTN jakarta). Hesto Wahyudi (ASTACA STT Telkom Bandung), Dedi Sugiantoro (SAR Stiper Jember) menyusur kawasan Sarongan-Sukamade.

Kelompok VII menyusur kawasan Raung Selatan terdiri dari Ahmad Daenuri (ALFASAPA 200 – KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Heru Santosa Setiabudi (KAPPALA Indonesia Sekretariat Yogyakarta), Zulkarnaen (KIH regional 11 Semarang), Pak Newar dan Dulmiun (Ds. Pogung, Krikilan, Jember) sebagai pemandu kawasan.

Kelompok VIII sebagai Pusat Komunikasi berlokasi di gunung Betiri terdiri dari Siti Maemunah (FK31 Jember – KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Susilowati (MAPAUS UBAYA Surabaya), Muhammad Suhadak (SWAPENKA Fak. Sastra UNEJ Jember), Teguh Winardhi (ARRPALA Jember), Sudibyo (IMPA AKASIA FH UNEE – Jember – FK31 Jatim).

Temuan

Dari hasil pengamatan 8 tim menyisir kawasan TNMB beberapa kekayaan Merubetiri baik flora maupun fauna dapat diinventarisasikan. Fauna temuan langsung seperti babi hutan, biawak, Banteng, Kelelawar besar, Kijang, Tupai, Jelarang, Kera ekor panjang, Lutung, Lingsang, Bintarong, Macan Kumbang, Trenggiling, Kucing hutan, Kupu-kupu banyak jenis dan berareka warna, capung banyak jenis dan beraneka ragam. Burung yang dapat terlihat antara lain Gemek, Alap- alap, Julang, Kutilang Emas,Elang laut, Alap-alap, Elang Ular, Elang Hitam, Elang Jawa, Bentit, Gesit, Pelatuk, Punglor, Kikuk, Glimukan. Rangkong gugusan, Rangkong Jongrang, Platuk Bawang, Platuk Hitam Putih, Srgunting Bendera, Beo, Gagak, Lin Aya hutan, Merak Hijau, Raja Udang, Larwo, Sriti. Jenis ikan antara lain Wader, Tawes, Uceng Dun (seperti sapu-sapu), dan udang.

Temuan tidak langsung, berdasar jejak dan suara antara lain Landak (berdasarkan kotoran), Macan Tutul (kotoran dan jejak), Luak (kotoran), Kancil (jejak), Macan Sruni (bulu), dan Harimau Jawa (jejak, cakaran dan kotoran).

Flora yang diidentifikasi antara Padmosari (bunga raflesia), Alang-alang, Kolonjono, Gajihan, Gajah, Duwet, Klampok, Rotan (pitik, warak, manis, pahit, siatung, cacing), Bambu (gesing, ori, rampal, bubat, wulung, buluh,mat-mat, petung, apus, tali) Gadung, Pakem, Bendo, Aren, Anggrek (25 jenis, dalam satu pohon), Gaharu, Kemukus, Cabe Jamu, Jawar, Kayu Tutup, Kateleng, Candu, Jamur. Analisis vegetasi setingkat pohon dilakukan dengan metoda kuadran.

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang juga langka, dikatemukan di Pos Pantai Sukamade, Lereng timur Puncak Betiri Panggungrejo, Taman I dan Gligir Sapi untuk Raung Selatan.

Gangguan

TN Merubetiri ternyata sudah “cukup” terganggu. Bentuk-bentuk gangguan itu antara lain : darungan (tempat istirahat), pembakaran hutan, penebangan pohon (pengambilan kayu untuk kayubakar dan bangunan kulit kayu pule, buah langsep), pencari burung (dengan jala dan getah), geladak (berburu dengan membawa anjing berjumlah banyak), pengambilan rotan (batang muda, batang dan biji), pengambilan alang savana, pengambilan umbut pinang, pembuatan jebakan model string berbagai ukuran (untuk kijang, landak. macan, harimau), pengambilan batu-batuan, limbah pengolahan kopi.

Masyarakat sekitar hutan mempunyai sumber pendapatan yang beragam, antara lain pekerja perkebunan (Pager Gunung, Sumber jambe dan Sumberdadi), petani dan petani kopi (Mulyorejo), penggaduh / peternak, pengrajin gula kelapa (Sarongan), pengrajin genteng (Sanenrejo), pengrajin bambu (Sarongan), nelayan (Rajegwesi), dan secara umum nyambi pengambil hasil hutan.

Pergeseran sumber pendapatan menjadi pengambil hasil hutan terutama di musim kering. Kegiatan masuk / mengambil hutan dilakukan ketika kesibukan di sawah tidak ada. Sebagai pencari burung didukung oleh harga pasaran yang cukup tinggi. Punglor batu Rp. 115.000 – 175.000 / ekor, Rengganis 150.000 / ekor, Punglor kembang, cucak hijau Rp. 40.000 / ekor, Srigunting bendera Rp. 45.000 / ekor.

Harimau itu

Harimau Jawa itu? Harimaj jawa (Panthera tigris sondaica) diduga masih ada berdasarkan indikasi adanya jejak, cakaran dan kotoran antara lain berupa :

• jejak dengan lebar 15, 22 x 19 cm serta cakaran pada ketinggian 181 cm serta di ketinggian 500 dml. Jejak dengan ukuran 14 x 12 cm di Durenan.

• Jejak dengan ukuran 15 x 12 cm di antara Teluk Hijau dan Teluk Damai.

• Jejak dengan ukuran 15,5 x 19 cm clan 15 x 20 cm di Gunung Gendong.

• Jejak dengan ukuran 19 x 20 cm di Pudak’an Curah Malang.

• Kotoran (panjang lebih 16 cm, Ø 3 cm). Jejak dengan ukuran 12,5 x 14 cm (kaki muka belakang),
Cakaran di Pohon Gintungan (tertinggi 100 cm, panjang cakaran 73 cm).

• Cakaran di Pohon Gedangan (tertinggi 214 cm) serta kotoran (panjang 13 cm, Ø 2,5 cm) di Cawang Kanan Sungai Sukamade.

Begitu pula menurut masyarakat. Mereka, mengenal harimau Jawa sebagai Macan Gembong. Gambaran mereka sosoknya besar seperti anak sapi, loreng, mempunyai surai (rambut kuduk / leher yang panjang). Mereka umumnya membedakan dengan Macan Lareng (lebih kecil tanpa surai) , Macan Sruni (warna loreng kemerahan, sosok lebih kecil dan langsing, cenderung memanjang). Mereka juga mengenal Macan Tutul (ceplok dan benguk, pembedaan atas motif tutulnya), Macan Kumbang, Canthel, Dawuk. Mereka juga mengenal Leo (gambaran mereka seperti Singa), serta macan Ram-ram.

Persepsi masyarakat tentang Harimau Jawa umumnya sebagai penjaga / penguasa hutan. Auman sebagai pertanda musim. Ia tidak akan mengganggu manusia, asal niat ke hutannya “baik”, sebaliknya akan memberi “sangsi” kepada pemasuk hutan yang berpelaku kotor (zinah). Begitulah menurut masyarakat, Harimau itu ada.

Lantas kami? Setuju. Harimau jawa memang masih ada. Ekspedisi memang telah membuktikan begitu. Sudah yakinkah kita? Keyakinan bahwa Harimau Jawa masih ada itu, memang sangat relatif. Kadang kita belum merasa yakin bila belum berhasil melihat dan memfotonya. Atau, kita belum yakin bila belum menangkapnya. Atau, kita belum yakin bila diantara kita belum menjadi “korban”nya. Untuk mengejar keyakinan itu, maka metoda-metoda lain akan dicoba. Data-data baru akan terus dikumpulkan. Misalnya, memasang jebakan foto. Sayang harganya mahal. Siapa-membantu?


5 Responses to “PL KAPAI 1997: PENDIDIKAN KONSERVASI MENCARI “MACAN””


  1. Juni 15, 2010 pukul 5:23 am

    lengkap banget mas infonya…

    makasih banyak…

    salam kenal…

  2. 2 teguh
    Juli 13, 2011 pukul 6:46 pm

    wah sebuah memory yag sulit di lupakan, tengkyu mas didik and all. masih ingat kah….????

  3. 3 nanang wahyudi
    November 3, 2012 pukul 11:21 am

    mas gmn ya caranya agar kami bisa gabung?????

    • Januari 6, 2013 pukul 3:32 am

      bergabung untuk hal apa ya?
      kalau bergabung untuk menjadi ‘golongan peneliti harimau jawa’….
      menurutku Anda dapat berperan melakukan pemantauan dengan pengumpulan informasi dari kawasan hutan yang terdekat dengan rumah Anda…; kalau belum tahu metode nya… dapat mengontak kami, akan kami kirimkan buku Berkawan Harimau Bersama Alam… dan untuk menunjukkan keseriusan Saudara silahkan beli dan pesan buku tersebut di “ATAGA ONLINE” di website: http://www.pedulikarnivorjawa.org (akan kami beri diskon khusus untuk PA, OPA, SISPALA, Mahasiswa dan Pelajar…)

      terimakasih atas atensinya…
      sukses selalu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: