10
Jun
10

Mount Ciremai : Javan tiger’s “Newly” Habitat


Gunung Ciremai Habitat “Baru” Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica)

oleh: Didik Raharyono.

Steidensticker & Soejono (1976) luput mencantumkan Gn. Ciremai sebagai habitat harimau jawa dalam bukunya The Javan Tiger and The Meru Betiri Reserve. Diantar Pak Deddy Kermit Petakala Grage (PG), penulis menjumpai specimen kepala harimau jawa dari Gn. Ciremai. Banyak informasi ilmiah dapat ‘dibaca’ atas temuan spesimen ini. Walaupun sudah dianggap punah, usaha mengendus eksistensi harimau jawa selalu mengantarkan bagi tersingkapnya ‘tabir pengetahuan baru’.

Syukur tiada terkira Atas Limpahan Rahmat dari Tuhan Alam Semesta.

Bagaimana tidak, semula kami Peduli Karnivor Jawa (PKJ) hanya mendiskusikan strategi riset, mekanisme pengumpulan dana pergerakan, menggagas pemikiran kreatif manajemen habitat kedepan bagi satwa dan masyarakat sekitar hutan berkarnivor besar di Petakala Grage (PG). Lalu Pak Deddy dan Pak Athok menyinggung kemungkinan masih adanya specimen ‘tubuh’ harimau jawa di tetangga desanya.

Kronologis

Saya tertarik ingin berkunjung guna melihat opsetan loreng jawa, tetapi pada dua atau tiga hari kedepan. Pak Deddy menegaskan supaya tidak ditunda, maka saat itu juga kami meluncur ke rumah yang dimaksud. Benar adanya, sesampai lokasi kami diterima terbuka oleh tuan rumah, lalu kami memperkenalkan diri, menyampaikan maksud tujuan melakukan penelitian harimau jawa yang sudah dianggap punah. Setelah berdiskusi hampir 4 jam, Bapak yang sederhana itu menunjukkan koleksi beliau spesimen harimau jawa.

Beliau seorang tokoh masyarakat, kolektor barang-budaya warisan leluhur, memperkenankan saya memotret kepala harimau jawa. Walau kondisinya hampir dipenuhi jala laba-laba, benakku berkeyakinan pasti akan ada segudang informasi ilmiah yang akan terkuak. Jikalau harimau jawa di musium, tentulah membutuhkan prosedur administrasi rumit seperti pengalaman pribadiku tahun 2000 di MZB dulu –jauh-jauh dari Jember ingin ‘belajar’ opsetan harimau jawa di tolak mentah-mentah karena saya dari perorangan dan bukan atas nama organisasi. Selain itu kekuatan ilmiah harimau jawa koleksi masyarakat tentulah bernilai baru dan penting, sebab memberikan gambaran vareasi pola, diskripsi ukuran tubuh, asal lokasi dan sejarah yang belum pernah terungkap apalagi tercatat.

Bapak pemilik tersebut mengungkapkan: bahwa dulu, opsetan harimau jawa itu utuh –dari kepala hingga ekor, namun banyak kenalan beliau dari Jendral hingga Kyai meminta sesobek demi sesobek untuk “cindera mata” akibatnya sekarang tinggal bagian kepala. Beliau mendapatkan hadiah specimen tersebut dari petinggi TNI kala baheula. Kemudian dijelaskan panjang kepala hingga pantat 200 cm, belum termasuk panjang ekor. Bahkan dulu sering dijadikan alas untuk istirahat beliau. Berdasar keterangan petinggi TNI yang dijelaskan kembali Beliau kepada penulis, harimau loreng ini berasal dari lereng Gn. Ciremai Jawa Barat. Ditembak sekitar tahun 1961 -bekas pelor sekitar 5 lubang di pipi, dekat hidung dan jidat depan, masih terlihat jelas. Ditambahkan lagi: harimau jawa ini jantan tua dan telah membunuh 5 orang -maka dieksekusi.

Luput dari Steidenstiker

Informasi ilmiah terpenting dari uraian temuan spesimen kepala di atas adalah tentang Gn. Ciremai sebagai habitat harimau jawa. Dalam bukunya (1976) Steidenstiker & Soejono menyampaikan sebaran distribusi habitat harimau jawa tahun 1940 dan 1970, walaupun untuk Gunungkidul dilabeli 1930 (?) dengan tanda tanya dibelakangnya, tapi Gn. Ciremai luput dari pencatatan beliau. Berarti kawasan Gn. Ciremai dianggap bukan habitat harimau jawa, meskipun terjadi pembunuhan tahun 1961 -mungkin informasinya tidak terdengar Pak Steidenstiker. Padahal telah berdampak terhadap “penisbian” informasi dari penduduk sekitar kawasan tentang terjumpainya harimau loreng yang oleh masyarakat sekitar disebut maung siliwangi, lodaya atau macan tutul turih tempe.

Jangankan Gn. Ciremai, bahkan di Gn. Arjuno, Gn. Argopuro dan masih banyak lokasi lain yang juga luput dari pencatatan Steidenstiker (1976) sebagai habitat harimau jawa. Penulis berani mencantumkan nama-nama lokasi habitat “baru” harimau jawa (di buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002) berdasarkan keterangan dari Pemburu lokal, Pecinta Alam, Pendarung, Perbakin dan Pensiunan TNI. Seperti misalnya saat silaturohmi ke pengurus Yayasan Salsabiil Faros di Cirebon (2009), penulis bertemu dengan seorang pensiunan TNI yang dulu pernah menembak seekor harimau jawa di lereng Gn. Arjuno. Beliau menembak seekor dari empat ekor harimau loreng yang diincarnya. Penembakan tersebut terjadi tahun 1967, hal itu diingat dengan cermat karena beliau ditugaskan di Koramil sekitar Gn. Arjuno 2 tahun setelah Gestok. Dan dari Wonogiri diinformasikan bahwa harimau jawa masih terlihat. Artinya: masih banyak lokasi-lokasi habitat “baru” harimau jawa yang luput dari catatan ilmuwan harimau dunia.

Oleh karena itu, sebagai penghuni Pulau Jawa, hendaknya kita peduli terhadap kawasan yang ada disekitar kita, utamanya hutan yang menjadi habitat satwa liar. Dengan kandungan maksud: jadilah peneliti ahli yang menguasai “halaman” rumah sendiri. Bolehlah kita berpikir global, namun aksi kita haruslah dimulai dari lokal. Sebab ancaman dan tekanan tinggi pada habitat-habitat alami di Jawa, tentulah akan mengancam kelestarian satwa-satwa endemik Jawa yang tersisa.

Diawetkan Dengan Garam

Semula saya agak ragu memegang spesimen kepala harimau jawa tersebut. Bukan apa-apa sebab berdasarkan keterangan pengopset satwa tradisional biasanya menggunakan Arsenik sebagai bahan utama pengawet opsetan, selain formalin dan alkohol. Untuk menegaskan informasi yang beredar seperti itu saya memberanikan bertanya: dulu opsetan ini diawetkan dengan apa Pak? Beliaunya tersenyum menjelaskan kalau pengopsetan kala itu hanya menggunakan ‘garam krosok’ dan dijemur terbalik di sinar matahari (kulit bagian dalam dipampang langsung, sedang bagian berambut tidak terpapar sinar matahari).

Informasi ilmiah tersebut penulis buktikan dengan kenyataan, dimana beberapa bagian rambut telah lepas. Bahkan bagian atas daun telinga kiri telah robek dimakan tikus. Artinya pengawetan opsetan ini memang menggunakan garam, tidak menggunakan racun arsenik. Sifat garam yang hipertonis dan hygroscopis jelas akan mempercepat terhisapnya kandungan air ditingkat seluler, maka garam dijadikan bahan pengawet tradisionil. Beda nyata jika menggunakan arsenik: opsetan tampak utuh, mulus dan tidak cacat rambutnya, sebab serangga pemakan rambut akan mati jika kontak dengan arsenik, seperti opsetan harimau sumatra yang pernah saya jumpai di Rumah dinas Bupati Temanggung tahun 2001, utuh dan bagus –pastilah menggunakan racun dalam pengawetannya.

Penulis lalu teringat keterangan Pak Karno Jember yang juga mengkoleksi opsetan harimau jawa ditembak tahun 1957. Setelah beliau menunjukkan foto harimau jawa dari Kendeng Lembu, saya bertanya masih adakah sisa opsetan hewan di foto itu. Beliaupun tersenyum lalu menjelaskan bahwa opsetannya tidak bagus (namun beliau tidak menjelaskan bahan penyamakannya), sejak tahun 1970-an rambutnya telah banyak yang rontok maka kemudian disimpan di gudang dan tahun 1980-an banyak dimakan ngengat. Oleh karena itu pada sekitar tahun 1990-an, opsetan harimau jawa itu dimusnahkan dengan di bakar dan dibuang di halaman belakang. Sedangkan saya berkunjung kerumah beliau sekitar tahun 1999.

Merasa aman dengan opsetan yang diawetkan dengan garam, maka penulis memegang, mengambil sedikit rambut untuk dianalisis menggunakan mikroskup cahaya guna menjadi ‘rambut pandu harimau jawa’ jikalau nanti ditemukan rambut dari hutan. Berkolaborasi dengan Pak Deddy, maka berbagai pose kepala opsetan harimau jawa itu kami abadikan, meliputi : kepala secara utuh, pola loreng tersisa di jidat, pipi samping kiri, dagu bawah, bekas surai dan landasan kumis. Hal itu saya lakukan untuk membantu pendiskripsian secara ilmiah perihal kenampakan fisik harimau jawa dari Gn. Ciremai. Saat memotret bagian landasan kumis, sempat terabadikan sisa kumis sepanjang 1 cm dua helai, cukup untuk memberikan wacana tentang model dan warna kumis harimau jawa.

Membongkar Sepenggal Kepala Berumur ½ Abad

Dulu potongan kepala itu sering dipakai anak-anak untuk bermain dengan teman-temannya, berkejaran, bergurau dan sebagainya. Penulis bergumam, wah sumber pengetahuan sangat penting ternyata menjadi hal ‘biasa’ bagi masyarakat. Mungkin karena masyarakat merasa bahwa sepenggal kepala loreng jawa itu sebagai barang lumrah, mudah dijumpai dan masih banyak di hutan, jadi sederhana saja cara memperlakukannya.

Tak mau terlambat, maka saya dengan cermat memperhatikan bekas-bekas sidik jidat harimau jawa itu. Tetapi tak menemukan bekas coretan-coretan garis hitam, karena sebagian besar rambutnya telah rontok mengelupas. Perhatian kemudian saya alihkan dibagian atasnya, syukur masih ada sisa rambut yang utuh dengan garis hitam. Tebalnya tak lebih dari selebar jari telunjuk lelaki dewasa. Pola coretan garis hitam itu cenderung longgar (jaraknya renggang), tidak seperti milik harimau sumatra yang tebal dan rapat ‘ndemblok’(Jw). Kondisi ini juga diperkuat foto harimau jawa 1957 sebagai pembanding, dimana tulang tengkoraknya masih terbalut kulit dan merekam bentuk utuh satwa saat masih hidup –karena diabadikan sesaat setelah mati ditembak.

Meski sepenggal kepala opsetan harimau jawa ini telah terlepas dari tulang tengkorak sebagai landasan kulit yang membentuk raut muka tiga dimensi, tetap dapat terlihat rekam-bentuk tentang ‘pesek’nya hidung yang sempit, dengan pangkal jidat sedikit di atas mata cenderung cembung –membentuk kesan moncong memanjang. Sisa coretan ornamen di pipi juga mencirikan sebagai milik harimau jawa yang jarang, tipis dan cenderung cerah. Berbeda dengan coretan ornamen pipi harimau sumatera kebanyakan tebal, rapat sehingga memberi kesan agak gelap.

GAMBAR 01. KARAKTER WAJAH HARIMAU JAWA & SUMATERA. Berdasar pola coretan pipi dan sidik jidat, dapat dibedakan antara karakter wajah harimau jawa dan sumatera. Pola coretan pipi harimau jawa cenderung tipis dan jarang sedangkan harimau sumatera tebal dan rapat. Sidik jidat harimau jawa renggang dan tipis, sedangkan harimau sumatera rapat cenderung membentuk blok hitam. Akibatnya wajah harimau jawa cenderung cerah dan harimau sumatera cenderung gelap.

Bahkan saya sempatkan untuk menghitung lubang bekas landasan kumis harimau jawa, jumlahnya baik yang besar maupun sedang sekitar 29 lubang untuk satu pipi kiri dan sekitar itu juga di pipi kanan, total 58 lubang. Hanya sekitar 10 landasan lubang berdiameter 3 mm di pipi kanan-kiri dan 14 lubang berdiameter 2 mm, lainnya 1 mm atau bahkan kurang. Landasan lubang kumis tersebut membentuk enam baris dengan komposisi jumlah baris dari bawah ke atas: 3; 6; 6; 5; 5; dan 4. Menggunakan pijakan kajian pembanding foto harimau jawa 1957 terlihat bahwa ujung kumis hingga surai di dagu, prediksi saya panjang rambut kumis harimau jawa mencapai 25 cm.

Rambut dibagian dagu berwarna kuning pucat (kemungkinan dulunya putih), sedangkan rambut yang menjadi warna dasar pipi yang masih sempat terlihat berwarna kuning tembaga terang. Blok rambut berwarna putih yang dikelilingi warna hitam dibelakang daun telinga masih terlihat jelas, walau hampir samar.

Setelah pengamatan secara mikroskopis di laboratorium Biologi SMA Mandiri Cirebon, terdiskripsikan bahwa medula rambut opsetan ini bertipe intermediet pola reguler, sedangkan sisik bertipe corona serrata pola irreguler wave. Hal ini semakin memperkuat data temuan kami tigabelas tahun yang lalu perihal rambut harimau jawa, dulu temuan dari TN Meru Betiri dan sekarang opsetan asli dari Gn. Cermai.

Medula rambut harimau jawa dari Gn Ciremai

GAMBAR 02. STRUKTUR MORFOLOGI RAMBUT HARIMAU JAWA GN. CIREMAI. Detail bagian medula rambut harimau jawa dari Gn. Ciremai ini menunjukkan tipe intermediet pola reguler. Ciri utama pada bagian medula ini membedakan dengan macan tutul yang bertipe discontinous pola cresentic. Keidentikan pola rambut harimau jawa dari Gn. Cermai dengan rambut temuan dari TN. Meru Betiri menunjukkan eksistensi harimau jawa. Morfologi medula rambut harimau jawa ini di foto menggunakan mikroskup cahaya dengan perbesaran 40 x 5. (foto: @didik R’10).

Seperti Apa Ekosistem Gn. Ciremai?

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl), dikelilingi hutan dengan koordinat 108020’ – 108040’ BT dan 6040’ – 6058’ LS. Tipe iklim kawasan Gn. Ciremai berklasifikasi tipe iklim B dan C (berdasar Schmidt dan Ferguson) dengan rata-rata curah hujan 2000 – 4000 mm/tahun. Temperatur bulanan berkisar antara 18o – 24o C.  Sistem hidrologi  didominasi sistem akuifer endapan vulkanik dari Gn. Ciremai. Berdasarkan geomorfologi dan litologi, karakteristik akuifer dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu: kurang produktif pada lereng puncak; sangat produktif pada lereng badan gunung; dan produksi sedang – rendah, pada kaki gunung (RPK TNGC, 2009). Keberadaan air ini sangat penting bagi eksistensi karnivor besar, sebab harimau jawa suka berendam di air jika kondisi siang hari sangat panas, namun adanya kisaran suhu yang hangat dan dingin di kawasan Gn. Cermai sepertinya harimau jawa mampu beradaptasi khususnya di lereng badan gunung.

Gunung Ciremai

GAMBAR 03. PENAMPANG TIGA DIMENSI GN. CIREMAI. Kenampakan tiga dimensi Gn. Ciremai memberikan informasi bentang lahan dan topografinya. Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk mencari daerah ideal bagi kelangsungan hidup harimau jawa dengan memperhatikan kebutuhan syarat hidup khususnya ketersediaan sumber-sumber air alami dan prey. (Sumber Gambar: Rencana Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai 2009).

Luas  hutan di Gn. Cermai sekitar 15.500 ha dan merupakan hutan sekunder tua pasca letusan tahun 1832. Sebagian besar penutupan lahan berupa vegetasi hutan alam primer yang dikelompokan ke dalam tiga jenis yaitu: hutan hujan dataran rendah (200-1000 m dpl); pegunungan (1000-2400 m dpl); pegunungan sub alpin (> 2400 m dpl). Beberapa flora hasil inventarisasi oleh berbagai pihak di wilayah Kawasan Gn. Ciremai meliputi : 32 jenis vegetasi pohon pada ketinggian antara 1.200 – 2.400 m dpl; 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 anggrek dan 79 non anggrek (RPK TNGC, 2009). Keberagaman vegetasi sangat tinggi tentunya menunjang sumber pakan satwa prey karnivor besar.

Kawasan Gn. Ciremai selain kaya keanekaragaman flora, juga memiliki tingkat keanekaragaman fauna yang tinggi, dan beberapa jenis termasuk kategori langka. Daftar spesies satwa liar di kawasan ini meliputi 12 mamalia; 3 reptilia; 77 burung dan beberapa jenis ampibi serta serangga yang belum diteliti. Kompleksitas jenis hewan terutama golongan prey sangat menunjang bagi kestabilan populasi dan demografi karnivor besar. Berkaitan dengan luas kawasan berhutan, maka keragaman jenis prey dan populasinya jelas akan sangat penting sebagai faktor penunjang Carrying Capacity kawasan Gn. Cermai terhadap fluktuasi dan kelestarian harimau jawa kedepannya (perlu dikuatkan dengan riset menggunakan kamera trap secara permanen minimal 6 bulan).

Penutup

Berbekal hasil pendataan koleksi satwa liar yang dilindungi pada tahun 1992 yang telah pernah dilakukan BKSDA di seluruh Jawa, seharusnya dapat dijadikan landasan untuk mencermati berbagai kawasan yang diduga sebagai habitat satwa liar, bahkan mungkin melakukan refisi terhadap buku-buku referensi yang telah beredar. Tetapi sepertinya saat ini telah terjadi kerancuan wilayah kerja antara Balai Taman Nasional, KSDA, dan Perhutani di Jawa akibatnya tak ada sering data, informasi dan pensinergian bidang kajian khususnya satwa liar dilindungi ataupun yang terancam punah, bahkan yang sudah diklaim punah –karena habitatnya yang berupa hutan telah disekat-sekat secara administrasi.

Ditilik dari hanya sebuah temuan sepenggal kepala opsetan harimau jawa berumur 49 tahun, masih berpeluang ditemukan ‘habitat baru’ satwa yang telah dianggap punah. Kami dari PKJ dan PG sebagai masyarakat biasa hanyalah didorong oleh rasa kepedulian yang tinggi terhadap keselamatan hutan Jawa dari tekanan dan ancaman destruktif. Dimana hutan alami tersisa di Jawa kami anggap sebagai gudang plasmanutfah sumber bagi daya kehidupan antar-lintas generasi, oleh karena itu harus ‘dibaca’, dikaji dan dijaga sekuat tenaga.

Cirebon, 9 Juni 2010.

Didik Raharyono, S.Si.

Wildlife Biologist

SEKRETARIAT PKJ.


36 Responses to “Mount Ciremai : Javan tiger’s “Newly” Habitat”


  1. 1 Buddyantoro
    Juni 15, 2010 pukul 9:17 am

    salut buat mas didik…………………..
    kenapa belum ada yang berani menyiarakan dan atau salah satu stasiun swasta ikut bergabung menelusuri jejak harimau jawa……
    mas didik mungkin di javan tigr blog bisa di tambahkan hasil rekam kegiatan dalam bentuk hidup (video)
    dan atau memang dah punya…….kapan mo di realease

    • Juni 16, 2010 pukul 4:52 am

      Trimakasih Mas Buddyantoro. Banyak juga hasil rekam kegiatan berupa video yang kami hasilkan, tapi masih terbatas alat kami untuk “merajang”-nya menjadi scene-scene kecil yang layak dinikmati. Ya… nanti akan saya coba menampilkannya… Salam.

  2. 3 Indra Rian
    Agustus 11, 2010 pukul 2:49 pm

    Terima kasih untuk ulasan dan informasi yang ada di Blognya Mas Didik,
    Lanjutkan terus mas riset nya, saya sangat mendukung sekali upaya yang telah Mas Didik rintis sejak tahun 1997 ini. Oh iya buku nya sudah mendarat dengan selamat mas dirumah saya..
    Bagus sekali isinya Mas..acung jempol deh untuk risetnya mas didik
    semoga suatu hari nanti kita bisa buktikan eksistensi loreng jawa ya mas.Amin.

  3. 4 R4hmat
    Agustus 24, 2010 pukul 7:59 am

    Truskan perjuangannya mas, semoga berhasil. Saya juga punya pengalaman, tapi ini terjadi 14 tahun yang lalu. Waktu itu saya pergi ke makam kakek saya di kaki pegunungan Menoreh kecamatan Borobudur kabupaten Magelang, dan saya menemukan jejak kaki. Ayah saya bilang kalau itu adalah jejak harimau. Tahun 1997 ayah dan ibu saya dikagetkan oleh auman harimau loreng (menurut ayah saya) tepat 10 meter di depan mereka, karena tersorot lampu senter. Memang banyak yang bilang kalau itu jadi-jadian, tapi peristiwa itu terjadi pada waktu subuh. Dari cerita yg berkembang dan jejak kaki serta kehadiran Harimau yg mungkin lg istirahat di makam itu, maka sudah dipastikan bahwa harimau jawa ketika itu ada di kaki pegunungan menoreh wilayah kecamatan Borobudur, meskipun saya pesimis kalau melihat ekosistem alam sekarang yang kurang mendukung. Tapi tentunya kuasa Tuhan lebih dari segala-galanya. Penampakan atau apa yang jelas itu bukti bhawa harimau jawa masih (setidaknya ketika itu yaitu tahun 1997 di Pegunungan Menoreh).
    Mas didik ketika itu apakah pernah meniliti wilayah pegunungan menoreh yang memanjang dari wilayah jogja gingga purworejo?

    • Agustus 28, 2010 pukul 2:50 am

      Terimakasih Informasinya Mas R4hmat. Iya, benar: tahun 2003-2006 saya domisili di Paingan Pengasih Kulon Progo. Rata-rata setiap minggu kami sempatkan dengan istri menelusuri ‘eksistensi harimau jawa’ di pegunungan menoreh. Hasilnya :berdasarkan penuturan masyarakat memang asih eksis, temuan saya masih sebatas rambut tutul. Tapi yang menguatkan adalah pertemuan saya dengan seorang Dalang Wayang Kulit yang ayahnya merupakan seorang mantan kepala desa. Saya menemukan beliau setelah menelusuri dari sebuah kliping koran tahun 1989 (Kedulatan Rakyat). yang menuturkan bahwa ada seorang Mahasiswa KKN UGM yang bersaksi melihat harimau jawa atas bantuan ‘pawang’ Pak Kepala desa yang ayahnya Pak dalang tersebut. Di pertemuan tersebut, dijelaskan kalau ayahnya memang ‘mampu’ memanggil harimau jawa. Pernah suatu waktu di panggil : yang datang 11 ekor harimau loreng dan 1 ekor macan tutul. Sayang kedatangan saya dan istri tahun 2003. Padahal Ayah pak Dalang tersebut meninggal tahun 1998. Di tahun 1998 sebelum wafatnya, beliau masih sempat menolong 1 ekor harimau loren betina yang mau melahirkan anaknya. Demikian penuturan Pak Dalang di kulonprogo yang semula bingung atas kami yang mencari dan ingin bertemu dengan ayah beliau yang telah wafat 5 tahun itu.

      Untuk di sekitar Borobudur, tahun 2005 saya melakukan investigasi. Hasilnya memang sangat kuat, bahkan kami menemukan jejak kaki satu induk dengan satu anaknya (loreng): temuan pagi hari sekitar jam 07.00 wib, setelah malam harinya sekitar jam 23.30 wib seorang penduduk selepas melihat Bola di TV berpapasan dengan loreng dan anaknya tersebut. Cuman, saya masih kesulitan untuk mendapatkan bantuan kamera trap guna membantu pemotretan sosok individunya. Info perlintasan harimau jawa juga di sampaikan oleh Pak Agus (dulu Sekda Kulonprogo). Bahkan teman-teman Pemandu wisata Borobudur, beberapa ada yang mengetahui lokasinya, hanya saja sekali lagi, kita masih kesulitan kamera trap untuk dipasang di lokasi yang telah teridentifikasi oleh teman-teman di seputar Borobudur.

      Sekali lagi, terimakasih atas masukan informasi Mas R4hmat. Hal ini sangat penting bagi Pergerakan Kami. Sukses selalu.

  4. 6 R4hmat
    Agustus 28, 2010 pukul 1:39 pm

    Wah, asyik banget ya kayaknya mas.. Saya sebenarnya suka dengan petualangan seperti itu. Satu hal yang menarik bahwa ternyata harimau jawa masih ada. Yah meskipun saya pribadi belum pernah melihat langsung, hanya ayah saya yang kebetulan melihat untuk kesekian kalinya kali, karena beliau sendiri masih percaya kalau harimau itu masih ada. Kayaknya memang harimau jawa sudah bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Kalau dilihat sekilas dari bawah pegunungan menoreh, kayaknya sudah tidak ada ruang yang cocok untuk habitat harimau, tapi sekali lagi Tuhan maha Tahu dan Kuasa. Menurut orang-orang di sekitar Borobudur selatan memang bilang kalau harimau jawa ini ketika turun gunung biasa memakai jalur sungai.

    di satu sisi memang kemisteriusan harimau jawa bisa bermanfaat juga demi kelestariannya, karena orang mengira sudah tidak ada, meskipun masih ada sbenernya.

    Saya salut dengan jenengan mas, bisa berkecimpung dengan dunia karnivora yang satu ini. Sukses selalu, saya memang ingin sekali mendengar atau membaca para ilmuwan lain mengatakan atau menulis kalimat “WOw ternyata harimau jawa belum punah”. Juga mereka mau merevisi buku atau tulisan tentang harimau jawab ini.

  5. 7 rico
    September 7, 2010 pukul 6:03 am

    hebat buat mas didik
    semoga perjuangan bisa berhasil ……. menelusuri keberadaan harimau jawa.

    teruskan perjuangannya dan saya harap harimau masih ada di pulau jawa ini…

  6. 8 R4hmat
    September 20, 2010 pukul 2:50 pm

    Meneruskan kisah kemarin mas, dulu jenengan di daerah borobudur di desa apa? Apa menurut jenengan, harimau jawa bisa hidup dengan habitat yang ada sekarang? Penasaran saja. Saya punya banyak saudara di selatan borobudur, sapa tahu bisa nanya-nanya kisah itu beneran atau tidak. Sekalian kalau ketemu bisa ambil foto harimau kali ya..

    • September 26, 2010 pukul 6:59 pm

      Desa yang dijadikan binaan Lembaga Patra Pala (ekowisata?) dulu…, banyak kebun rambutan, durian dan pepaya. Sampai juga di sekitar desa yang ada watu Kendilnya (atau Dandang?)….
      Kalau menurut analisis ilmiah jawabannya memang sangat sulit; tapi kalau “kuatnya” informasi masyarakat, tentu butuh penelitian yang matang. Bahkan ada kontak dari teman-teman pemandu wisata Borobudur yang bersedia menunjukkan lokasi “beranaknya harimau jawa”….. Juga sekda (kala itu) Kab. Kulonprogo juga berkenan menunjukkan ‘pelintasan’ macan loreng “boro” yang sering melintas di sungai ‘kering belakang rumah beliau…

  7. 10 lestiono
    September 23, 2010 pukul 8:29 am

    salut salut
    suatu saat pasti ada foto/video harimau jawa yg masih hidup ditemukan oleh anak negeri sendiri
    ini satwa kebanggaan pulau jawa, mari kita buktikan eksistensi nya
    lanjutkan mas didiek

  8. 11 R4hmat
    September 26, 2010 pukul 1:27 pm

    Mas Didik, salam hangat. Saya barusan ngobrol dengan salah seorang kerabat yang berasal dari selatan Borobudur. Obrolan kami masuk seputar keberadaan harimau loreng. Beliau bilang katanya akhir 90-an sekitar 97, 98, 99 seingat beliau, katanya ada tentara yang mencoba menembak harimau tersebut, nah apakah jenengan menddapat cerita tersebut ketika tahun 2005 meneliti wilayah tersebut.
    Maklum saja tahun2 yang saya sebutkan di atas, adalah tahun2 di mana saya tidak berada di kampung halaman dan tidak tahu perkembangan berikutnya.

  9. 13 R4hmat
    Oktober 4, 2010 pukul 1:57 pm

    Gimana menurut njenengan? APakah gunung muria juga menyimpan tanda-tanda keberadaan harimau jawa? Saya masih penasaran dan berharap selalu agar ada photo uptodate dari binatang satu ini.

  10. 15 R4hmat
    Oktober 7, 2010 pukul 2:56 pm

    Itu lo yang saya sayangkan sekali mas. Kan ada manfaatnya ketika harimau itu bukannya dibunuh tetapi dibius, sehingga bisa menjadi bukti keberadaannya. Lebih penting dari itu, hewan itu bisa dipelihara di kebun binatang, sehingga bisa melangsungkan hidupnya.

  11. 16 yulianto
    Oktober 13, 2010 pukul 5:29 am

    Salam kenal Mas Didik,

    Salut untuk semua perjuangan Mas Didik untuk membuktikan bahwa harimau jawa masih exist. Saya sendiri setelah membaca tulisan2 Mas di internet yakin bahwa memang satwa hebat ini masih ada, hanya tinggal menunggu waktu tertangkap di camera. Mungkin saat itu menjadi momen yang kita semua nantikan untuk membuktikan kepada dunia bahwa harimau jawa masih exist. Minggu lalu saya baca di salah satu harian nasional, salah satu pekerja kebun sawit di daerah Riau dimangsa harimau sumatra, pasti disebabkan habitatnya yg terus berkurang karena pembukaan hutan untuk keperluan komersial.

    Kita punya departemen kehutanan & departemen lingkungan hidup, sayangnya mereka gak bisa berbuat banyak untuk mencegah kerusakan habitat satwa langka yang sudah sangat mengkhawa tirkan seperti harimau jawa bahkan dalam wilayah taman nasional sekalipun. Atau memang mereka gak care sama sekali ya?

    Yang terakhir, Mas, kok situs javantiger.or.id susah sekali diakses ya? Apakah memang sudah diganti dengan blog ini?

    • Oktober 22, 2010 pukul 2:24 am

      ya.. hanya tingkat kepedulian yang dapat menjadikan orang bersemangat….. (digaji setiap bulan, di beri fasilitas jaminan hari tua) tetap saja tak akan mampu menghasilkan DATA jika tidak memiliki care terhadap harimau jawa…. lain halnya jika orang sudah peduli… walaupun tukang ojek, penjual bunga, kerja serabutan, jualan bakso, jika sudah peduli… mereka mampu menyisihkan sedikit keuntungannya untuk melakukan investigasi dan riset harimau jawa… walau terseok-seok dan agak lamban…. namun tetap semangat dan pantang menyerah. ya… javantiger.or.id telah off-line, sebab keterbatasan anggaran, sekarang menjadi blog ini (javantigercenter)…..

  12. 18 yulianto
    Oktober 16, 2010 pukul 2:48 am

    Kemarin tanggal 15 October 2010 saya mendengarkan siaran salah satu radio swasta di Surabaya, ada berita bahwa beberapa ekor hewan ternak milik penduduk di lereng gunung arjuno dimangsa hewan buas. Masih akan diteliti apakah benar memang dilakukan oleh harimau jawa. Menurut keterangan para jagawana di sana memang harimau jawa masih ada, tapi sangat jarang terlihat dan populasinya tidak terdeteksi

  13. 19 Yasa Gunadi
    Desember 12, 2010 pukul 3:19 am

    Mas Didiek,
    Semoga usaha pembuktian masih adanya Harimau Jawa suatu saat akan berhasil. Salut atas usaha Mas Didiek yang sudah dilakukan hingga saat ini. Saya masih menyimpan buku Berkawan Harimau bersama alam, harus diakui bahwa itu satu-satunya buku yang berisi informasi mengenai harimau jawa yang menampilkan bukti-bukti dan analisis mendalam dari seorang ahli seperti anda. Menurut hemat saya, jika Mas Didiek bisa mendapatkan pihak yang bersedia mendanai salah satu pemburu yang mengklaim dapat menangkap harimau jawa (hidup-hidup), maka ini akan menjadi quantum leap dari semua studi yang sudah dilakukan selama ini. It’s worth to try, tapi ini tantunya akan sangat sulit mengingat banyaknya pihak aparat pemerintahan (menyedihkan sekali memang) yang terlibat dalam perburuan harimau Jawa di masa lalu seperti keterangan yang ada di blog ini. Makanya masih ada orang berprofesi sebagai pemburu harimau Jawa karena tentunya masih ada demand untuk bagian-bagian tubuh harimau ini.
    Good luck…

  14. 20 Hasto P.
    Desember 26, 2010 pukul 4:20 pm

    Salut untuk Mas DIdik atas perjuangannya dan kepeduliannya yg mencengangkan terhadap keberadaan harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus) yg sudah secara umum diklaim telah punah. Memang dibutuhkan seorang scientist spt Mas Didik, dengan militansi dan heroisme berlebih, di tengah iklim birokrasi pemerintah Indonesia yg tak peduli pada hal2 yg tidak membikin citra mereka terangkat (yg bisa memperbesar peluang politik mereka meraih jabatan yg diinginkan). Semoga perjuangannya menemukan harimau Jawa berhasil, dan semoga yg benar2 saya inginkan, harimau Jawa memang masih ada, belum benar2 punah, cuma masih tersembunyi di salah satu sudut terjauh pulau Jawa, in the remotest reaches of this Island no men has ventured:)

    • Januari 14, 2011 pukul 11:01 pm

      Trimakasih atensinya….
      Semoga dalam waktu dekat ini harimau jawa berhasil kami potret menggunakan kamera trap “pinjaman”….
      Sebab banyak lembaga yang kami pinjam kamera trapnya, setelah tahu untuk riset harimau jawa “urung” meminjamkannya…

      salam lestari…

  15. 22 Wiyono
    Desember 28, 2010 pukul 10:07 am

    Bagaimana dengan di gungung Slamet, gunung tertinggi di Jateng, apakah ada tanda2 masih adanya harimau jawa? Gunung slamet dekat dengan kampung halaman saya, dulu sering dapet cerita nenek di daerah puyukan kecamatan sumbang (kaki gunung slamet sebelah tenggara) masih ada harimau di daerah2 perbatasan semak2 antar desa, yg bikin orang yg melakukan perjalanan antardesa di malam hari sperti perjalanan antara “hidup dan mati” kalau sampei kepergok harimau.
    BTW, semua penampakan harimau terjadi sekitar tahun 60=70an. Apa mungkin sekarng masih bisa bertahan harimaunya, dengan habitat yg tinggal seuprit, sedangkan seekor harimau membutuhkan wilayah jelajah yg sangat luas untuk bisa survive??? Rada mustahil sih…

    • Januari 14, 2011 pukul 10:42 pm

      Ya.. gunung Slamet masih terindikasi eksistensi harimau jawa. Pemantauan kami tahun 2000-2001 dengan teman-teman Fordik Purwokerto bahkan mampu menemukan rambut yang teridentifikasi sebagai milik Harimau jawa. Identifikasi menggunakan Mikroskup Elektron dengan pembanding rambut harimau jawa opsetan di Musium Zoologi LIPI.

    • Januari 14, 2011 pukul 10:58 pm

      Jelas masih, tenang saja… tim kami masih memantau eksistensinya di sana…
      Dan bukti ilmiah telah pernah kami temukan rambutnya tahun 2001-2002.

      Kemampuan survival Carnivor itu sangat tinggi, dia sangat adaptif dengan kondisi lingkungannya. Maka sangat sulit di”pergok-i” secara langsung, sebab hal itu berkaitan dengan ‘kemampuan bagi kelangsungan hidupnya’. (kalau dia -si harimau itu- mudah dikatui prey, tentulah dia akan kesulitan mendapatkan makanannya). Dan Carnivor itu oportunis… artinya dia pemakan segala -tentu yang mengandung daging. Jika tidak ada banteng, maka dia akan memangsa rusa, jika tidak ada rusa dia akan memangsa kijang, jika tidaj ada kijang maka dia kana memangsa babi hutan, jika tidak ada babi hutan, maka dia akan memangsa kancil atau musang atau landak atau satwa mamalia kecil lainnya…… begitulah substitusi makanannya….

      Selama kita tidak mau terjun langsung ke hutan untuk melakukan riset…. ya kita akan pesimis terus…

      Seorang ‘mantan pemburu’ di Jawa Timur berkata kepada saya: “ORANG YANG MENGATAKAN HARIMAU JAWA PUNAH ITU ADALAH ORANG YANG TIDAK PERNAH MASUK HUTAN”…..

  16. 25 R4hmat
    Desember 28, 2010 pukul 10:10 am

    Gmana kabarnya mas didik….Kok nggak pernah keliatan ngisi bloq njenengan…
    Gmana ada perkembangan nggak ya?

    • Januari 14, 2011 pukul 10:50 pm

      Maaf, sedang melakukan riset lapangan….. jadi belum sempat menambah tulisan di blog ini.
      Alhamdulillah, perkembangannya menggembirakan…., mohon bantuan do’a-nya.. agar pemasangan kamera trap kami mampu menangkap sosok harimau jawa.
      Sehingga pengelolaan hutan di Jawa harus direkontruksi lagi…., dan masyarakat tepi hutan menjadi di-MANUSIAKAN…..
      Trimakasih responnya….
      Sukses selalu untuk Anda…

  17. 27 R4hmat
    Januari 27, 2011 pukul 12:36 pm

    Amien. Sukses juga mas… Lah sekarang apa masang kamera trap di Gunung Muria seperti yang jenengan infokan sebelumnya? Yang selatan borobudur ggak dipasang kamera trap ya…? Ikut penasaran aja mas…Penasaran pengen tahu, bukan untuk mencari keuntungan lo..Paling tidak ada kebanggaan lah kalau harimau khas jawa ternyata masih ada.

  18. 28 R4hmat
    Januari 27, 2011 pukul 12:45 pm

    Oh ya saya brusan mbaca berita dari bataviase.co.id, bertanggal 19 Dec 2010, yg intinya menyebutkan bahwa harimau jawa di kawasan taman nasional gunung ciremai menyebutkan bahwa jejak yang ada ditemukan merupakan jejak macan tutul, bahkan auman yang sering didengar dipastikan adalah macan tutul mengingat jejak yang ditemukan adalah macan tutul. Ntah mana yang bener ya mas…?

  19. 29 agung
    Maret 9, 2011 pukul 4:30 am

    mas kalo mau kirim personal message dan bukan ke blog ini, ke mana? thanks

      • 31 R4hmat
        Agustus 23, 2011 pukul 10:33 pm

        assalamu’alaikum..
        Pa kabar mas didik, lama nggak ngunjungi blog ini….Harapan saya semoga njenengan sehat selalu dan kerja keras njenengan berkenaan dengan Harja membuahkan hasil nyata…
        Gimana perkembangan pemasangan kamera trapnya…?
        Saya baru saja membaca salah satu blog, lupa apa namanya, menyebutkan bahwa anggota ekspedisis 2009 pernah dapat fotonya, tetapi tidak mau mempublikasikannya…
        Kalau emang demikian adanya, saya ikut senang dan bangga, minimal teori orang2 barat terpatahkan dan tentunya kekayaan fauna jawa khususnya semakin lengkap kesempurnaannya dengan adanya bukti harja ini…
        Sukses selalu

  20. 32 Ronny
    April 27, 2011 pukul 5:17 am

    Mas didik, jangan pernah nyerah untuk membuktikan harimau jawa sudah punah atau belum,…

  21. 33 gunarso
    September 20, 2011 pukul 3:26 am

    keep fighting!

  22. 34 Richard Burton
    Juli 16, 2012 pukul 5:04 pm

    Excellent work,I will keep looking at this Website for more news and information for supporting your brilliant research.
    Richard

  23. 36 agun
    Oktober 12, 2012 pukul 12:43 pm

    wow keren mas didik, info harimau jawa memang sangat jarang apalagi dilengkapi dengan testimony orang yg pernah menemukan jejaknya… hebat…
    teruskan mas… maju terus pantang mundur… kita ubah sejarah menjadi lebih nyata…
    smg semakin banyak orang yang peduli pada harimau jawa dan mau berkontribusi terhadap upaya penelitianya…
    bravo… harimau jawa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: