27
Mei
10

Javan Tiger: the Opportunistic Carnivore ‘study by macroscopic fecal components’


HARIMAU JAWA : KARNIVOR YANG OPORTUNIS ‘study komponen fekal secara makroskopis’

by: didik raharyono

Sekali lagi saya akan berbagi pengalaman perihal eksistensi harimau jawa(Panthera tigris sondaica). Saat ini kajian yang menarik adalah identifikasi fekal secara makroskopis, artinya dengan mata telanjang tanpa bantuan alat apapun –kecuali kamera untuk pendokumentasian dan alat ukur. Kumpulan feses karnivor besar yang telah saya koleksi hampir seratusan lebih. Awalnya, setiap menemukan feses berciri milik karnivor kami koleksi. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pengkoleksian yang saya lakukan saat ini hanyalah dengan melakukan pemotretan (terutama saat perjumpaan di lapangan). Selain itu kiriman sample dan foto feses hasil perjumpaan dari teman-teman Pecinta Alam dan Masyarakat Local di Jawa Timur dan Jawa Tengah juga masih mengalir. Banyak hal yang dapat diurai dengan melakukan kajian fekal ini.

METODE

Pada tahap awal penelitian semua fekal kami koleksi dari hutan. Sistem penyimpanan dan pengamanan selama perjalan berhari-hari di hutan dengan cara memasukkan sample feses ke dalam ruas bambu yang memang banyak di hutan tempat telitian kami (hal ini untuk menjaga bentuk feses supaya tidak rusak). Sesampainya di flaying camp maka fekal tersebut kami keringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari langsung, dan jika sampai di base camp maka feses dimasukkan ke dalam tabung-tabung kaca berdiameter 3-4 cm (sesuai dengan ukuran sample feses), lalu dikeringkan menggunakan lampu bolam 60 W, setelah 2 hari feses akan kering.

Pengeringan ini berguna untuk menghindari proses penghancuran sample oleh serangga dan jamur. Mengingat dari fekal ini dapat dipelajari sedetail mungkin perihal : jenis pakan, komposisi pakan, pola perilaku, bahkan memungkinkan pendeteksian lokasi-lokasi penyantapan prey.

Pendokumentasian sample feses dilakukan baik saat pertama kali dijumpai di alam (kondisi alami saat ditemukan) maupun saat setelah pengeringan. Hal ini untuk mempertajam analisa fekal meliputi perilaku ikutan yang biasanya belum terfikirkan saat perjumpaan langsung di alam. Setelah itu baru dilakukan pembongkaran feses untuk mengetahui komposisi adanya fragmen tulang dan analisis rekam puncak gigi.

STRUKTUR DASAR FECAL KARNIVOR KELUARGA KUCING BESAR

Sebagai tahap awal kita harus dapat membedakan feses karnivor besar dengan feses ular dan muntahan burung hantu besar (Tito sp.). Sebagai ciri utama fekal milik keluarga kucing besar adalah komposisi fekal yang terdiri dari rambut prey, remukan tulang dan tersusun sebagai bolus (masyarakat local dengan mudah mendiskripsikan bolus feses karnivor sebagai mirip bulatan-bulatan pada kotoran kuda). Sedangkan kotoran milik ular piton strukturnya memang mengandung rambut prey, hanya saja fragmen tulang tidak ada alias telah tercerna sempurna menjadi semacam pasta (mirip pasta gigi: putih). Adapun muntahan burung hantu bentuknya mirip boli karnivor besar, hanya saja strukturnya selalu mengandung kepala tikus, tupai atau kelelawar buah yang dimangsanya dengan tulang-tulang pipa yang masih utuh. Berdasarkan pengalaman di lapangan, dari ketiga jenis fekal tersebut selain ditunjang oleh kenampakan morfologinya juga akan terdeteksi dari “aroma” khas masing-masing fekal tersebut. Hal ini tentunya berkaitan langsung dengan perbedaan jenis enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh karnivor, ular dan burung.

Feses harimau sumatera di kebun binatang.

Gambar 1. Feses harimau sumatera di kebun binatang yang diberi pakan ayam, terdiri dari empat boli. Pelajaran awal ini penting untuk melakukan pendekatan pengenalan “aroma” khas dari feses harimau loreng, berikut ciri besarnya diameter feses.

Muntahan burung hantu

Gambar 2. Boli muntahan burung hantu besar. Sepintas strukturnya mirip dengan fekal karnivor besar, tetapi jika dicermati menunjukkan pemangsaan oleh satwa yang tidak bergigi, tetapi berparuh. Hal itu teramati dari keutuhan semua tulang-tulang pipa dan tengkorak codot (inset: kiri bawah). Sedangkan feses burung hantu bentuknya semacam pasta.

Remukan tulang di dalam feses karnivor besar

Gambar 3. Remukan tulang sebagai ciri utama fekal karnivor kucing besar. Indikasi serpihan tulang ini merupakan hal utama yang dapat membedakan antara fekal carnivore dengan ular piton dan burung hantu besar (mengingat: karnivor melakuakan ‘pengunyahan’ tulang prey, sedangkan ular dan burung cenderung menelan langsung satwa mangsanya). Jika memungkinkan kita bisa melakukan pengukuran rekam puncak gigi, untuk mengetahui seberapa besar gigi yang melakukan pemecahan tulang tersebut. Remukan tulang ini biasanya terbungkus rambut prey pada struktur feses.

Rambut prey ciri feses karnivor besar

Gambar 4. Kandungan rambut prey, juga dapat dijadikan sebagai penciri utama fekal yang diidentifikasi sebagai milik karnivor keluarga kucing besar. Jenis rambut prey ini bisa untuk membantu identivikasi satwa pemilik fekal. Hal yang membedakan dengan muntahan burung hantu (bentuknya boli) yang meskipun mengandung rambut tetapi dari jenis tikus, tupai ataupun codot, bukan rambut kijang dan babi hutan.

PEMBEDAAN FEKAL MACAN TUTUL DENGAN HARIMAU JAWA

Pendekatan utama yang kita gunakan untuk dapat membedakan feses milik harimau loreng dengan macan tutul adalah diameter feses dan kandungan daun di ujung bolus. Apabila fecal tersebut mempunyai diameter lebih dari 4 cm dan diujung feses tidak mengandung daun (bisa ilalang ataupun bambu), maka kami klaim sebagai fekal milik harimau jawa. Jikalau diameter feses berkisar dari 2 – 3 cm dan ada dedaunan di ujung fekal maka kami identifikasi sebagai milik macan tutul. Selain itu ada ciri fekal harimau jawa yaitu apabila di dalam feses itu terkandung kuku kaki prey, dimana hal ini tidak menjadi perilaku macan tutul.

Diameter feses besar ciri milik loreng jawa

Gambar 5. Fekal harimau jawa. Diameter feses 6,5 cm, mengandung fragmen tulang, rambut babi hutan dan terdiri sekitar 6 boli. Fekal ini ditemukan oleh teman-teman Jagawana TNMB.

Daun di ujung feses ciri milik macan tutul

Gambar 6. Fecal macan tutul, berdiater sekitar 2 cm dengan ujung feses terdapat daun bambu. Beberapa masyarakat local menambahkan informasi bahwa ciri kotoran macan tutul juga terkadang disertai dengan sedikit ‘tanah’. Pada gambar 6 diatas dijumpai tanah hitam sedikit posisinya di pangkal sendok. Feses ini dijumpai di tepi jalan aspal dari Paltuding menuju Totokan Gunung Ijen.

HARIMAU JAWA OPORTUNIS

Karnivor memang cenderung oportunis, artinya dia pemakan segala. Maksudnya memangsa dari jenis serangga hingga banteng. Ke-oportunisan harimau jawa bisa penulis ketahui berdasarkan analisis komposisi fekal yang ditemukan warga pendarung sekitar tahun 2004. [Catatan perjalanan feses harimau jawa: dari pendarung, temuan feses dari hutan ini diserahkan ke Pak Netran (CO-Kappala Indonesia Jawa Timur), lalu dari Pak Netran di sampaikan ke Mas Giri (Kappala Jember), dari Mas Giri diberitakan ke penulis. Oleh penulis dilakukan analisis dan pendokumentasian secara mendalam, sehingga teramati sifat oportunis harimau jawa itu.]

Dikripsi singkat fekal ini : diameter sekiar 7 cm, terdiri atas 5 boli, mengandung rambut babi hutan, kijang dan monyet ekor panjang. Selain itu juga diketahui mengandung kepala kumbang hitam (serangga) dan beberapa ranting dan dedaunan bambu yang letaknya terselip di antara rambut babi hutan dan kijang –bukan di ujung fekal.

Panjang sebuag boli feses harimau jawa

Gambar 7. Panjang sebuah boli feses harimau jawa sekitar 18 cm.

Diameter feses lebih dari 4 cm ciri harimau jawa

Gambar 8. Diameter feses harimau jawa sekitar 7 cm.

Kuku kaki babi hutan di feses harimau jawa

Gambar 9. Diujung sebuah boli feses harimau jawa ini terdapat dua kuku kaki babi hutan. Kalau diperhatikan dengan cermat maka teramati tiga jenis rambut dilatar bekalang gambar ini, yaitu: rambut babi hutan (terlihat hitam kaku); rambut kijang (terlihat coklat) dan rambut monyet ekor panjang (terlihat abu-abu lembut-halus).

Kuku kaki prey sebagai ciri feses harimau jawa

Gambar 10. Ditemukan juga kuku kaki kijang.

kuku jari monyet di feses

Gambar 11. Ujung kuku monyet ekor panjang. Bukti bahwa selain rambut monyet, juga ditemukan kuku jarinya di sebuah feses harimau jawa.

kepala serangga: kumbang hitam di dalam feses harimau jawa

Gambar 12. Fragmen kepala kumbang hitam (serangga), juga ditemukan dalam sebuah boli feses harimau jawa yang sama.

Rangkaian gambar diatas sudah sangat jelas untuk menggambarkan sifat oportunis harimau jawa dalam pemangsaan. Dari temuan sebuah feses kita dapat ‘membaca’ banyak informasi yang terekam didalamnya. Uraian perihal komposisi jenis satwa yang dimangsa harimau jawa tersebut, terekam dengan jelas di sebuah boli. Artinya feses tersebut:”menceritakan” tentang adanya perilaku oportunis dari harimau jawa. Buktinya dari serangga hingga babi hutan dimangsanya –terekam dari sebuah feses.

Ada hal menarik yang dapat kita ketahui dari “membaca” feses ini: yakni perihal lokasi pemangsaan prey. Di gambar 7, 8, 10, 11 dan 12 jika kita cermati maka terlihat adanya seresah bambu yang ikut terselip di antara rambut prey yang terkandung di feses ini. Sehingga dapat diketahui bahwa pemangsaan babi hutan, kijang dan monyet tersebut berlangsung di bawah tegakan bambu. Sebagai penguat dugaan tersebut, diinformasikan oleh penemu, bahwa feses ini dijumpai dan dipungut dari bawah hutan pepohonan dengan tegakan bawahnya berupa vegetasi bamban (sejenis dengan Maranta) dan tidak dijumpai tegakan bambu. Oleh karena itu, sangat tidak mungkin jikalau seresah bambu tersebut terselip saat proses defekasi berlangsung. Melainkan terikut sewaktu proses pemangsaan, dimana seresah bambu kering di lantai hutan biasanya akan lekat di daging prey seiring dengan mengeringnya darah. Hal ini diperkuat dengan temuan feses harimau jawa ini di bulan Agustus (musim kemarau untuk Pulau Jawa).

Seresah terikut saat proses pemangsaan daging prey

Gambar 13 Seresah bambu yang terselip didalam rambut penyusun feses harimau jawa, menunjukkan bahwa lokasi pemangsaan berada di bawah vegetasi bambu. Hal ini dapat menjadi bahan pelajaran kita untuk melakukan kajian di bawah vegetasi bambu yang memungkinkan bagi ditemukannya sisa pemangsaan harimau, sebab harimau suka menimbun sisa pakannya jikalau sekali santap belum habis.

Sebagai penguat ciri kesukan harimau jawa dalam pemangsaan tersebut dengan ditemukannya sisa penimbunan berupa kepala babi hutan dengan indikasi besarnya rekam gigi yang terdapat di bagian tulang rahang bawah bagian dagu kiri dan kanan. Seperti yang terpampang pada gambar 14 dibawah.

Rekaman gigi pada sisa pemangsaan harimau jawa

Gambar 14. Besarnya gigi geraham harimau jawa terekam dengan jelas (ditunjukkan dengan 3 anak panah warna biru). “Guntingan” puncak-puncak tonjolan gigi geraham bawah dan geraham atas harimau jawa dapat dengan jelas teridentifikasi.

Sebagai bahan garapan mendatang adalah analisis endoparasit dan analisis DNA dari temuan feses harimau jawa yang masih segar. Semoga kami diberi kekuatan dan kemudahan dari Allah SWT untuk melakukannya, Amin.

Tulisan ini saya Dedikasikan untuk :

  1. Mas Eko Teguh, Mas Giri, Cak Dainuri dan Kang Lethek (atas ajakannya mengenal harimau jawa 1997).
  2. Pak Ti, Pak Li, Pak Hamzah, Pak Rin, Pak Min, Pak Netran, Pak Im, Pak Udin (yang dengan ketulusan dan kepercayaan Beliau–beliau mengajari penulis secara langsung ‘contextual leaning di dalam hutan untuk mengenali bekas aktivitas harimau jawa, dari tahun 1997 – 2005).

26 Mei 2010, Secretariat PKJ

Karang Jalak Cirebon

Indonesia.


1 Response to “Javan Tiger: the Opportunistic Carnivore ‘study by macroscopic fecal components’”


  1. 1 Citra
    Maret 20, 2011 pukul 9:33 pm

    Halo, salam kenal.
    Bagus sekali blognya.
    Saya dapat informasi tentang harimau yang detail.
    Walaupun Saya sendiri masih ragu apakah harimau jawa masih hidup atau sudah punah, tapi penjelasan kamu tentang identifikasi feses harimau sangat menarik.
    Sukses ya..!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: