14
Apr
10

The Variation of Javan tiger Footprint in the Wild


VARIASI BENTUK JEJAK TAPAK KAKI HARIMAU JAWA

Bagiku, sangat asyik untuk “marah” dalam usaha advokasi spesies yang dianggap punah itu, yakni harimau jawa. Bagaimana tidak: terdapat paradikma antara OPINI dan PRAKTISI. Opini, ketika pernyataan punah itu hanya dilandasi berdasarkan kajian literer, bukan berdasar hasil riset yang sahih dan terus menerus. Celakanya pandangan ini digunakan untuk melandasi kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kawasan konservasi dan habitat satwa liar yang ada di Pulau Jawa dan sudah semakin menyempit dan terfragmentasi. Sementara landasan argument dari Praktisi -sebagian besar masih diusahakan oleh Pecinta Alam dan NGO-konservasi, dinisbikan tanpa ada ‘pergumulan sengit’ mengkaji indikasi awal bukti-bukti temuan. Dan walaupun bukti temuan itu –sebagian besar oleh PA dan warga masyarakat selalu dianggap SUMIR. Sudah begitu, mereka para “PENENTANG” indikasi bukti-bukti temuan yang mendukung terhadap eksistensi harimau jawa –setelah penentangan itu dilakukan; cukup duduk manis di-empuknya korsi jabatan mereka, tak pernah TURBA alias turun ke bawah bin melakukan pengecekan langsung alias melakukan riset pembuktian. Alih-alih membantu membekali pengetahuan-pengetahuan dasar pelengkap ekspedisi berkaitan dengan harimau jawa (membekali ilmu pengetahuan) terhadap PA yang getol memantau; bergabung saja tidak mau. Jadi kapan mau cerdas manusia Indonesia ini. Herannya, data temuan itu walaupun sudah diseminarnasionalkan, tetap saja tak mampu mengusik ‘jiwa riset’ mereka yang menyandang predikat PAKAR HIDUPAN LIAR dari berbagai Universitas yang NGENDON di Pulau Jawa. (Buktinya selama 12 tahun pasca SemNas Harja: tidak ada riset yang dihasilkan oleh mereka yang menyandang gelar PAKAR HIDUPAN LIAR perihal harimau jawa). Jangan heran nanti kalau foto harimau jawa terbaru di Abad XXI ini berharsil dipublikasikan, tentulah “mereka” akan ikut lantang berteriak-teriak menggunakan ‘titelnya’ dalam berargumentasi mendukung eksistensi harimau jawa, -biar dijadikan sebagai ‘penasehat’ dll dan dll….(latah gitu loch…)

Maka saat mengais-ngais koleksi majalah lama dari perpus pribadiku, aku menemukan ‘petikan’ sebuah artikel lingkungan yang ditulis oleh para peliputnya sebagai berikut:

**Meski bukti cukup kuat, Departemen Kehutanan, yang sedari awal mengklaim harimau jawa telah punah, tidak menerima begitu saja temuan Tim Meru Betiri. Bagi Johannes Subijanto, Kepala Sub-Direktorat Konservasi Flora dan Fauna Ditjen Pelestarian dan Konservasi Alam Dephut, cakaran, jejak, dan feses saja tidak cukup untuk membuktikan harimau jawa masih ada. “Perlu ada tes DNA terhadap kotoran yang ditemukan,” kata Johannes. Karena itu, Dephut mengirimkan kotoran tadi ke Amerika Serikat untuk memastikan betulkah kotoran itu milik harimau jawa.

Hal yang sama disampaikan pakar kehidupan liar IPB, Hadi S Alikodra. Menurut Hadi, bentangan Taman Nasional Meru Betiri memang memenuhi syarat kehidupan jarak jelajah harimau jawa yang bisa mencapai 300 kilometer. Selain itu, di taman nasional itu juga hidup kijang, rusa, babi hutan, dan banteng, yang merupakan santapan harimau jawa. Tapi, menurut pakar yang juga Asisten Menteri Lingkungan Hidup ini, jejak harimau jawa yang ditemukan haruslah fresh. Artinya usia jejak tidak boleh lebih dari dua atau tiga hari. “Selain itu, jejak juga harus merupakan jejak yang berulang,” katanya. Tanpa itu, tidak bisa dipastikan hasil temuan tim Meru Betiri sahih.**{TEMPO, Edisi 12-18 Januari 1999; hal: 38; Arif Zulkifli, IG.G. Maha S. Adi (Jakarta), Munib Rofiqi (Surabaya), dan L.N. Idayanie (Yogyakarta)}

Petikan Dua alinea diatas, mencerminkan bagaimana gigihnya menentang bukti-bukti temuan Pecinta Alam perihal harimau jawa. Pada alinea awal di sebutkan bahwa cakaran, jejak dan feses dianggap tidak cukup untuk membuktikan eksistensi harimau jawa. APALAGI kesaksian dan penuturan masyarakat tempatan. Baguslah kalau kotoran akan dianalisis DNA-nya, tetapi bagaimana dengan tes untuk cakaran dan jejak kaki? Apakah dua temuan ini juga akan dites DNA-nya? Apa ya bisa… (cobalah dibaca kembali dan diamati apa yang telah saya sampaikan di tulisan saya: Cakaran satu dan dua). Bukankah sangat jelas untuk perbedaan ‘morfologi’ antara cakaran loreng dan tutul?

Petikan alenia berikutnya : boleh-lah kalau itu memang syarat yang diajukan ‘supaya data PA mempunyai nilai ilmiah’. Jajak Fresh: tidak boleh berumur lebih dari dua atau tiga hari dan harus berulang. Perlu di ketahui: bahwa lantai hutan di Jawa: sebagian besar merupakan serasah dedaunan, lapisan humus dan memang kadang-kadang ada tanah yang tersingkap (terutama di jalan setapak). Ke-fresh-an suatu jejak menurut saya dapat dieliminir ketika jejak yang ditemukan TERCETAK di tanah lempung. Jejak yang fresh memang boleh dipersyaratkan untuk lantai hutan berupa pasir atau salju. Tapi salju kan tidak ada di Jawa. Kalau tanah pasir atau berpasir memang ada: terutama di tepi pantai dan di ‘gisik’ sungai.

Saya pernah menemukan sebuah jejak kaki macan tutul yang tercetak kuat di tanah lempung yang telah mengering. Mungkin usia jejak itu lebih dari sebulan, sebab jarak penemuan kami sudah sebulan lebih dari hujan terakhir yang turun. Lagi pula jejak itu tepat berada di tepi jalan patroli yang lebarnya sekitar 2m, hanya saja sedikit terlindungi sebuah atap dinding tebing batu.

Berdasarkan pengalaman pengamatan di lapangan, untuk jejak di tanah berhumus, umurnya tak lebih dari satu hari. Terbukti saat kami menemukan jejak macan tutul di jalan setapak yang lantai hutannya berupa humus, dan penemuan itu pagi hari dimana malam harinya hujan lebat, maka keesokan harinya jejak itu telah hilang terhapus oleh hujan yang turun pada malam hari berikutnya (meski sudah kami beri tanda pohon didekat cetakan jejak kaki tersebut). Berarti: tidak mungkin temuan jejak tidak fresh jika temuan jejak tersebut di MUSIM PENGHUJAN. Perlu kita ketahui bahwa di Pulau Jawa ini terdapat 2 tipe musim: Penghujan dan Kemarau. Artinya bagaimana kita harus bisa memperhatikan saat kapan Riset dilakukan, begitupula dengan saat kapan jejak di temukan. Hal ini akan berkaitan dengan obyektivitas data temuan.

Jikalau jejak terekam di lantai hutan yang tanahnya berupa tanah liat kering dan sedikit berdebu (ada lapisan debu yang tipis), maka umur jejak juga tak lebih dari sehari. Sebab ketipisan debu akan pudar oleh hembusan angin dan pijakan orang yang melintasi hutan. Sedangkan kalau jejak di pantai berpasir, maka hanya berumur se-pagi. Artinya: jejak tersebut akan jelas terlihat di pagi hari dari jam 06.00 sampai sekitar jam 10.00 (tapi tergantung pasang perbani yang terjadi di bulan apa jejak tersebut ditemukan). Dan kalau sudah terlalu siang, maka garis pembatas bentukan jejak tapak kaki akan pudar tersebab terpaan panas sinar matahari. Dengan panas tersebut maka air menguap, padahal air ini yang mengikat partikel antar butiran pasir. Begitu air menguap, maka dinding-dinding tepi yang membentuk rekaman jejak akan ‘longsor’ sehingga jejak menjadi pudar (proses ini jika terjadi pada musim kemarau). Berbeda jika pada musim penghujan: begitu hujan turun dengan deras, maka jejak yang terekam di atas pasir pantai jelas akan buyar terhapus. Dan hal ini juga akan berbeda lagi jika pantai tersebut berupa tanah Lumpur, maka jejak sulit dikenali, begitu tercetak sudah itu akan langsung hilang bentuknya. Apalagi jikalau pantainya berupa hamparan pecahan cangkang koral dan kerang, maka jejak kaki satwa apapun tak akan pernah membekas.

Jejak yang paling ‘super fresh’ adalah jejak yang terekam diatas batu. Anda pasti bertanya-tanya, bagaimana mungkin batu yang keras dapat merekam cetakan jejak kaki harimau jawa. Kalau Anda suka masuk hutan, tentu akan dengan cepat memiliki gambaran yang utuh perihal pernyataan di atas: ‘jejak tapak kaki memang dapat tercetak di atas batu’. Dan cetakan jejak kaki tersebut justru tergolong sebagai criteria jejak paling bagus dan paling sahih. Lho……, begini penjelasannya. Jejak kaki tersebut berupa bentukan yang terekam dari potsol dan bulatan bantalan jejari kaki harimau yang baru melintasi sungai. Dan batu yang merekam jejak itu adalah batu yang terdapat di tepi sungai. Jadi, saat harimau itu kakinya terangkat dari air sungai, maka sesaat setelah menginjak di bebatuan (sebagai kondisi sungai-sungai dipedalaman hutan TNMB) maka akan merekam jejak. Dan jikalau jejak yang dijumpai seperti itu, berarti jejak tersebut masih baru. Sebab, jika sudah lama (lebih dari 3 jam) maka bentukan jejak tersebut tentu sudah hapus –tersebab air yang ‘mencetak’ jejak tersebut telah menguap.

Belum lagi jikalau kondisi lantai hutannya berupa bebatuan yang tersebar diatas tanah liat basah, maka jejak yang terekam dapat atas ‘bentukan’ potsol bantalan tengah kaki, jejarinya tidak terekam. Oleh karena itu kita harus detail dalam melakukan pencatatan dan pencermatan atas temuan jejak dalam kaitannya dengan kondisi mikro edafiknya (kondisi dan jenis substrat lantai hutan). Bahkan kebalikannya, ada juga jejak yang terekam adalah hanya keempat jari kaki saja, sedangkan bagian tengah jejak kurang jelas terekam. Belum lagi jejak bertumpuk: dimana jejak kaki depan kiri terinjak kembali oleh jejak kaki kiri belang, begitupun kalau kaki kanan –baik depan maupun belakang. Maka jejak yang terlihat adalah jejak kaki harimau dengan 5 rekaman jari kaki. (kalau kita tidak cermat, pasti akan bertanya-tanya: kenapa jejak kaki harimau jarinya ada lima? Oleh masyarakat, biasanya disebut sebagai harimau jejadian. Hal ini untuk menghentikan proses berpikir selanjutnya). Dan dari berbagai tipe bentukan pola jejak tapak kaki, kita akan dengan mudah mengintrepestasikan “kira-kira” sedang beraktifias apa saat jeejak tersebut terekam.

Sebagai contoh: saat di temukan jejak bertumpuk, (dimana kaki kiri depan bertumpuk dengan kaki kiri belakang) bisa diprediksikan harimau saat berjalan dalam kondisi lapar. Orang jawa bilang: mlakune kaya macan luwe: segaris; beda jika saat ditemukan berupa jejak jejari kakinya saja, kemungkinan harimau itu sedang meloncat, sehingga tumpuan lompatan menekan bantalan lemak jejarinya. Dan masih banyak yang lainnya……

Memang banyak sekali fareasi jenis jejak kaki harimau yang terekam di lantai hutan. Hal itu sangat tergantung banyak factor: tanah liat (lembab, basah atau kering), tanah Lumpur, tanah humus, tanah liat kering berdebu, tanah pasir, tanah liat kering berserasah, tanah berbatu, tanah berbatu dengan landasan tanah liat lembab dan masih banyak criteria yang lainnya. MAKANYA JARANG DITEMUKAN JEJAK BERANGKAI, mengingat kondisi lantai hutan hujan tropis sebagian besar selalu memiliki seresah dedaunan.

Oke-lah kalau begitu, berikut dibawah ini kami tampilkan berbagai jenis jejak yang kami koleksi dari alam liar (hutan tersisa dari tanah Jawa).

Javan tiger footprint

Gambar 1: plaster cast jejak kaki harimau jawa. Dimensi ukuran jejak: 28X26 cm. jejak memperlihatkan empat bekas jari kaki yang tercetak sedangkan bagian tengah kurang jelas terekam. Jejak plaster cast ini hasil temuan teman-teman FK3I Forda Besuki Jember. (Di foto oleh didik raharyono).

Perlu diketahui, biasanya jejak kaki satwa yang terekam di tanah berdebu kering akan terlihat jelas saat awal ditemukan sebelum dibuat cetakan gipsnya. Dan jangan heran jikalau terkadang hasil rekaman gips-nya kurang jelas membentuk struktur cetakan jejak kaki. Oleh karena itu, di buku Berkawan Harimau Bersama Alam saya menganjurkan untuk melakukan pengukuran terlebih dahulu, dan jikalau memungkinkan dilakukan perekaman gambar menggunakan kamera. Sebab jikalau telah dicetak plaster cast-nya maka terkadang ukuran sebenarnya menjadi sedikit berubah.

Rekaman langkah harimau jawa

Gambar 2. Contoh jenis jejak harimau di lantai hutan dengan jenis tanah liat kering berserasah. Lapisan debu yang merekam jejak kaki harimau sangat tipis, tetapi untuk mendukung sebagai data ‘agar dapat berbicara’ maka Saudara Ibnu Sutowo menemukan metode ‘tabur serbuk gips’. Hal ini merupakan ke’geniusan’ teman-teman Pecinta Alam yang selalu kreatif dan inovatif, saat menjumpai temuan di alam yang sangat jauh berbeda dengan ‘konsep’ teoritis yang didiskusikan di ruangan, maka ketrampilan berimprovisasi dimiliki mereka.

Inovasi-Kreasi dari ketua Mitra Beru Betiri (Iwak) ini jelas akan membantu analisis kami sebagai wildlife biologist. Sekali lagi, sertakanlah pembanting standar yang dapat membantu estimasi pengukuran morfometri dari data temuan bukti aktivitas spesies target yang Anda jumpai saat berada di hutan. (Momentum perjumpaan data bukti aktivias tidak terulang untuk perjalanan kedepan saat Anda melakukan ekspedisi penjelajahan harimau jawa, oleh karena itu, sedapat mungkin rekamlah temuan Anda dengan mengabadikannya menggunakan kamera). Dengan adanya jarak langkah sekitar 60 cm dan diameter sekitar 20X18 cm, tentu dapat kita prediksikan siapa hewan pemilik jejak ini kalau bukan harimau jawa?

Vareasi temuan plaster cast

Gambar 3. Temuan jejak kaki satwa di alam liar, terkadang tidak se-sempurna dengan buku-buku petunjuk. Walaupun begitu, usaha kreatif untuk melakukan perekaman menggunakan serbuk gips sangatlah dianjurkan. Gambar 3 diatas menunjukkan rekaman plaster cast jejak kaki bagian tengah milik harimau jawa. Meskipun keempat jarinya tidak terekam, namun kita dapat melakukan sebuah estimasi dan rekontruksi seberapa besar jejak ini jikalau tercetak secara utuh. Jajak kaki yang tercetak seperti gambar di atas merupakan hasil rekaman dari lantai hutan yang berbatu-batu dengan landasan tanah lempung basah. Nah apakah ya kita tetap akan menisbikan beragam corak tipe dan pola jejak kaki harimau jawa yang terekam di lantai hutan? Kondisional dan sangat situasional, untuk itu tidak mudah memang menjadi “pemulung data” eksistensi harimau jawa yang sudah terkena ‘klaim punah’. Tuntutan ‘teoritis’ atas model dan pola jejak yang beruntun, lebih dari satu jejak dalam satu lokasi temuan, dengan umur harus tidak boleh lebih dari satu hari, adalah tuntutan mereka yang selalu nyaman duduk dimeja dengan puluhan buku literatur. Tanpa pernah brusukan alas…….

pencermatan habitat

Gambar 4. Bukan memasak serbuk gips. Beginilah gambaran perjuangan teman-teman Pecinta Alam Jawa melakukan ‘pendedahan’ eksistensi harimau jawa. Perhatikan kondisi lantai hutan yang berupa serasah dan bebatuan, meskipun ada sedikit singkapan-singkapan tanah lempung. Lokasi temuan jejak yang sedang di buat plaster cast-nya ini merupakan sebuah lorong anak sungai yang telah mengering, walupun tanahnya masih lembab. Nah, bagaimana mungkin bisa menemukan jejak yang berulang? Silahkan renungkan sendiri. (Penulis adalah yang memotret momen kegiatan ini).

Tulisan diatas aku dedikasikan kepada Prof Moeso (alm) dan Dr. Djuantoko (alm).

Jadikanlah Alam liar itu sebagai Perpustakaan dan Laboratorium-mu, bacalah dan pelajarilah dengan sungguh-sungguh” begitulah Amanat Prof. Moeso Suryowinoto (alm) Guru Besar Emeritus Fakultas Biologi UGM ‘mewanti-wanti kepadaku’ di saat kami berdua berjalan-jalan di kebun biologi yang menjadi koleksi tumbuhan dari berbagai dunia yang beliau kumpulkan.

Hati-hati di Hidupan Liar, Mas Didik”. Itulah sms terakhir yang aku terima dari Dr. Djuantoko (alm) sehari sebelum beliau wafat.


0 Responses to “The Variation of Javan tiger Footprint in the Wild”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: