06
Apr
10

BERKAWAN HARIMAU BERSAMA ALAM


Cover Buku: Berkawan Harimau Bersama Alam

Judul Buku  : BERKAWAN HARIMAU BERSAMA ALAM

Penulis         : Didik Raharyono

Penyelaras   : E. T. Paripurno

Terbitan       : Kappala Indonesia  dan The Gibbon Fuondation, 2002.

Halaman      : 103 hlm.+ xvi, 63 ilus; 21 cm.

ISBN           : 979-3143-02-9

Harimau merupakan hewan buas yang sangat ditakuti manusia, oleh karena itu pengamat macan di Jawa hampir tidak ada. Walaupun begitu ada seorang peneliti muda yang ambisius berusaha mengentaskan harimau jawa dari predikat punah. Perjuangannya menggeluti habitat harimau selama bertahun-tahun itu akhirnya diramu menjadi satu-satunya buku pandu cara mencermati keberadaan harimau jawa yang bertajuk Berkawan Harimau Bersama Alam (BHBA).

Didik Raharyono ‘memburu’ harimau jawa sejak tahun 1997 tanpa mempedulikan klaim punah yang melekat pada satwa buas itu. Justru Didik bersemangat untuk menemukan harimau jawa agar orang lebih peduli terhadap kesetimbangan ekologis pulau terpadat di dunia ini.  Ide segar tentang pengelolaan hutan di Jawa tanpa memperhatikan sekat administrasi merupakan dobrakan cerdas supaya orang tidak terjebak pada otonomi daerah yang sektorial dan sedang mengalami euforia ini.

Jiwa pemberontakannya sebagai pengamat hidupan liar amatlah mengesankan. Penuturan pemburu lokal yang bersaksi pernah membunuh macan loreng dijadikan sebagai awal pijakan penelitiannya. Sarjana Biologi jebolan UGM ini bahkan mampu mendapatkan sampel spesimen sisa pembunuhan harimau jawa tahun 1996 dari Gunung Slamet (halaman 15), hal yang tidak pernah dilakukan peneliti dari LIPI sekalipun. Padahal opini dunia menyakini bahwa habitat terakhir harimau Jawa adalah Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur.  Keberanian penulis mencantumkan keterangan pemburu lokal sebagai acuan pustaka menjadikan BHBA mempunyai warna eksotis.

Buku ini sangat spektakuler karena mampu menampilkan sebuah foto harimau jawa yang dibunuh tahun 1957 (hal. 20). Tampilan foto tersebut menjadi bahan sanggahan tentang punahnya harimau jawa yang diklaim mulai tahun 1980-an, seperti yang dituangkan penulis pada halaman 11. Sebagai generasi yang dilahirkan terlambat, Didik mampu menolong dunia pengetahuan untuk mengetahui seberapa besar ukuran tubuh harimau jawa yang pernah hadir di Jawadwipa.

Didik terlihat sebagai peneliti muda yang sangat antusias untuk mengawinkan pengetahuan pemburu lokal dengan disiplin ilmu biologi yang digelutinya. Pengetahuan dari pengalaman pemburu lokal yang berhasil membunuh loreng jawa berdasarkan kecermatannya mengenali bekas aktivitas loreng atau tutul diilmiahkan oleh Didik dengan memperbandingkan bekas aktivitas harimau sumatera.

Bab I buku BHBA ini mengungkapkan pikiran dan harapan penulis tentang hidup berbagi ruang antara harimau jawa dengan manusia penghuninya agar ekosistem Jawa dapat dijadikan sebagai habitat bersama. Pada Bab II dituangkan kriteria baku ukuran bekas aktivitas harimau jawa dan peta sebarannya sampai tahun 2000. Data sebaran habitat harimau jawa ini mengungkapkan bahwa kawasan di Jawa tidak semuanya dipadati oleh komunitas manusia, melainkan ada juga yang berupa habitat hidupan liar. Bab III berisi pendetailan bekas aktivitas harimau jawa dan cara merekamnya sehingga mampu menjadi data ilmiah. Menemukan sehelai rambut harimau di hutan sepertinya mustahil, tetapi di dalam Bab IV pembaca diajak menjelajahi dunia rasionalitas bahwa menemukan rambut di hutan itu mudah. Awalnya memang membutuhkan ketrampilan dan jam terbang penelitian yang tinggi, namun setelah membaca Bab IV orang awampun bisa menjadi peneliti harimau jawa. Rambut menjadi kajian khusus, karena kehadiran satwa dapat diketahui dari rambut yang ditinggalkannya. Dibuku ini bahkan dijelaskan tentang perbedaan rambut harimau jawa dengan rambut macan tutul. Momentum perjumpaan tidak bisa terulang kembali, oleh karena itu pada bab terakhir penulis memberikan uraian tentang cara mengabadikan temuan bekas aktivitas yang diduga sebagai kepunyaan harimau jawa.

Buku ini menjadi lengkap karena disertai foto-foto bukti bekas aktivitas temuan dilapang dan beberapa sketsa jejak hewan penghuni hutan. Buku BHBA ini penggarapannya terkesan tergesa-gesa sehingga pada Bab II banyak kekurangan ketik, dimana harimau jawa di tulis haimau jawa. Selain itu beberapa keterangan gambar foto tidak lengkap bahkan kalimatnya hilang. Namun tidak mengurangi kekuatan BHBA sebagai buku pandu yang sangat monumental bagi kasanah ilmu pengetahuan hidupan liar di Indonesia, khususnya Jawa. Dibandingkan dengan Sumatera yang jelas-jelas masih memiliki harimau sumatera, namun buku pandu manual yang serupa BHBA belum ada.

Sepertinya buku ini bisa dijadikan bacaan penting bagi Pecinta Alam, Jagawana, Surveyor hutan dan orang umum yang suka masuk keluar hutan. Sehingga siapapun memang bisa menjadi pengamat hidupan liar dan berperan nyata bagi konservasi ekosistem Pulau Jawa. Selamat membaca.

Peresensi:

D. Kurnia, S.Pd.

Praktisi Hidupan Liar

Book Title: TIGER BROTHERHOOD WITH NATURE
Writer: Didik Raharyono
Synchronizers: E. T. Paripurno
Publisher: Kappala Indonesia and The Gibbon Fuondation, 2002.
Pages: 103 pp. + Xvi, 63 ilus; 21 cm.
ISBN: 979-3143-02-9

The tiger is a wild animal and humans is feared its animal, therefore the tigers observers in the Java almost nothing. Nevertheless there is an ambitious young researcher tried eliminating javan tiger from extinction predicates. Struggle to wrestle tiger habitat long years, were finally mixed to be the only guide book examine the existence of javan tiger show in Tiger Brotherhood with Nature (BHBA).

Didik Raharyono ‘hunting’ javan tiger since 1997, regardless of claims extinct attached wild animals to it. Didik just eagerly to find a javan tiger for that people cared more about the ecological equilibrium of the world’s most populous island. The fresh ideas about forest management in Java, regardless of the administration screen is bright ‘broken open’ so people do not get stuck on regional autonomy and is experiencing this euphoria.

The soul of rebellion was a wildlife observers is very impressive. Telling a local hunter who testified to kill the javan tiger has made the initial research platform. Bachelor’s Biology dropout for Gadjah Mada University is even able to get a sample of specimens remaining javan tiger killing in 1996 for Mount Slamet (page 15), something never done even researchers from LIPI. Yet world opinion believed that the last habitat of the Java tiger at Betiri Meru National Park in East Java. The courage author purpose to include information for local hunters as a reference library has made BHBA book’s very ‘exotic’.

This book is spectacular because it can display a newly photo javan tiger killed in 1957 (p. 20). Display photos into arguments about the extinction of material javan tiger claimed began in the 1980s, as the author stated on page 11. As the generation that was born too late, Didik can help the knowledge world to know how huge size javan tiger had been present in Javadwipa.

Didik to seen as a keen young researcher to ‘mix’ knowledge for local hunter with of the biology discipline of that profession. Knowledge of the experiences successful local hunters to kill javan tiger, to punctilious recognize tiger or leopard activity marks of based to scientifically by Didik comparing the former sumatran tiger activity.

In Chapter I this book’s reveals the author’s mind and the hope of sharing living space between the tiger with the human inhabitants of Java so that Java ecosystem as a habitat can be used together. In Chapter II, the standard size criteria set forth former javan tiger activity and spreading maps until 2000. Javan tiger habitat distribution reveals that in Java region is not all filled by the human community, but there is also a form of wildlife habitat. Chapter III contains the former activities of the javan tiger and how to record it so as to become scientific. Finding a tiger hair in the jungle seemed impossible, but in Chapter IV the ‘reader’ invited to explore the world of rationality that the hair found in the woods is easy. Initially it requires skill and hours of research a high flying, but after reading Chapter IV of people can be javan tiger researcher. Hair became a special study, because the presence of animals can be ascertained from hair he left behind. In this book, described even about differences compare javan tiger and leopard hair. Moment to the encounter could not happen again therefore the last chapter the author gives a description of how to capture the former findings of an alleged belong javan tiger activity.

This book is complete because the photographs accompanied by proof of former activities and findings for wild, pug sketches forest dwellers. This book BHBA impressed finally so hasty in Chapter II, many shortcomings type, where the ‘harimau’ write ‘haimau’. Also some photos captions incomplete sentence even lost. But do not reduce the strength BHBA as a very monumental guide’s book for wildlife science in Indonesia, especially Java. Compared with Sumatra who clearly still have a sumatran tiger, but the manual guide book similar BHBA is not yet.

This book seems to be essential reading for Nature Affections, Rangers, Forest surveyors and the general people who like to go out of the forest. So anyone can become an observer’s wildlife and a real role for the Java ecosystem conservation. Happy read.

Peresensi:

D. Kurnia, S.Pd.
Practitioners wildlife


3 Responses to “BERKAWAN HARIMAU BERSAMA ALAM”


  1. April 29, 2010 pukul 1:05 pm

    Salam Lestari,
    Mas, mohon ijin, artikelmu aku terbitkan diblogku. Kami tertarik dengan Harimau Jawa, karena ditempat kami main, Gunung Tilu Cibinbin Kuningan, diduga masih ada keberadaannya.Mohon sarannya, Salam

  2. 2 Arif
    Februari 23, 2012 pukul 7:05 am

    Dimana bisa didapatkan buku ini, maklum kami tinggal di kota kecil yang hampir tidak ada toko buku umum. Berapa harganya?

    • Februari 24, 2012 pukul 12:31 am

      Buku ini bisa Kang Arif dapat di Sekretariat Peduli Karnivor Jawa di Jl. Karang Jalak no.3 Rt2/RW6. Sunyaragi. Kesambi. Kota Cirebon.

      Kalau Kang Arif masih di P. Jawa, buku BHBA ini kami ‘bandrol’ : Rp. 100.000,- (sudah termasuk biaya kirim di dalam P.Jawa).
      75% dari dana tersebut kami gunakan untuk membiayai Pergerakan Riset Harimau Jawa, sebagai Fundrishing yang mandiri.
      Jika Kang Arif berminat, bisa mentransfer dana tersebut ke:

      Alamat Rekening saya:
      Bank Mandiri, No: 135-00-0484157-1. atas nama Didik Raharyono

      Nanti kalau sudah tranfer Kang Arif kirim alamat POS yang lengkap, ke e-mail PKJ: pkj06@yahoo.co.id
      biar bukunya cepat sampai.

      Trimakasih atas atensinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: