03
Apr
10

harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di abad milenium


#Cakaran dua

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin saya bisa menyakini bahwa temuan cakaran yang saya uraikan terdahulu di (Cakaran satu) adalah milik harimau jawa?…..

Begini ceritanya:
Sewaktu pelatihan tim ekspedisi PL-Kapai 1997. Kami sebagai peserta pelatihan diajak dan difasilitasi panitia untuk belajar mengamati harimau Sumatra di kebun binatang Surabaya. Tentor saya waktu Mas Giri dari Jember dan Pak Harnowo dari KBS. Beliau-beliau menguraikan tentang bentuk cakaran harimau Sumatra. Kenapa pendekatannya menggunakan harimau sumatera? Karena yang akan kami riset nanti adalah harimau jawa, padahal mereka berdua sama-sama harimau loreng. Namun kami juga diantarkan untuk mengamati bekas aktivitas macan tutul. Sehingga kami dapat mengerti perihal perbandingan bekas aktivitas pencakaran loreng dan tutul, seperti apa besar bekas pencakaran loreng dan sekecil apa bekas pencakaran tutul.

Di tahun 1999, sebelum melakkan PL-Kapai di Jawa Tengah. Kami juga sempat melakukan pendekatan pengamatan terhadap harimau Sumatra di Kebun Binatang di Jogjakarta. Bahkan kami diperkenankan untuk memasuki kandang harimau sumatera. Disini kami mengamati besarnya kotoran, bau kotoran dan urine harimau serta yang terpenting adalah tingginya cakaran tertinggi harimau Sumatra dan besarnya jarak pelukaan antara dua kuku kaki yang berdekatan.

tinggi cakaran harimau sumatera

Gambar 5. Tingginya bekas garutan Harimau sumatera di kebun Binatang. Jogjakarta.

Amatilah dengan seksama, seberapa tinggi harimau sumatera itu menorehkanbekas goresan kukunya, jika tubuhnya telah berhasil merentang. Tinggi lelaki dewasa dengan tangan merentang keatas saja masih kalah tinggi dengan bekas cakaran harimau Sumatra. Nah, ini bekas harimau Sumatra, berarti data yang mirip seperti ini jika kita peroleh dari dalam hutan tersisa di jawa bisa dipridiksikan sebagai cakaran milik harimau loreng. Artinya ya…. Milik harimau jawa (Panthera tigris sondaica). Sengaja saya tulis nama ilmiahnya supaya membedakan dengan macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Supaya jelas gitu loh…

Cobalah untuk mengingat kembali uraian saya terdahulu perihal torehan luka paling tinggi di foto yang memperlihatkan dua orang dengan sebuah pohon berasan. Sekali lagi luka tunggal yang paling tinggi. Nah, dari hal tersebut, jika dibandingkan dengan foto diatas, tentulah masuk menjadi criteria sebagai bekas cakaran harimau loreng, berarti harimau loreng jawa.

Berikut saya tampilkan detail jarak antar kuku yang berdekatan milik harimau Sumatra dari kebun binatang. Pandanglah dengan seksama. Kalau memang tidak ada pembanding, lihatlah kembali foto 1 diatas. Perhatikan telapak tangan lelaki difoto tersebut, dengan guratan dua kuku yang berdekatan di samping telapak tangan tersebut. Tentu Anda dapat memeperkirakan jarak dan besarnya.

Detail pola cakaran harimau sumatra

Gambar 6. Bekas guratan kuku kaki depan harimau Sumatra.

Cakaran yang bagus dan ideal memang harus menggambarkan rekaman empat kuku. Anda dapat mencermati dengan seksama gambar diatas. Dengan pengamatan tersebut tentu Anda bisa memahami : mana bekas goresan kuku kaki kanan dan kiri. Sehingga menjadi jelas seperti apa goresan yang terjadi akibat pelukaan yang bersamaan antar kuku. Hal ini penting supaya pengambilan data yang kita lakukan saat di lapangan tidak bias atau eror, karena biasanya pencakaran di satu pohon dapat berulang bebeapa kali. Sehingga mana cakaran lama dan cakaran baru dapat dimengerti sekaligus mana luka-luka yang dibuat oleh kuku harimau secara bersamaan, bukan akibat tumpang tindihnya pencakaran.

Kalau gambar 6 diatas, dapat Anda lihat kembali. Goresan yang terekan sangat jelas merupakan pelukaan yang memiliki umur sama. Sedangkan goresan lama terekam agak pudar. Lalu keteraturan jarak antara empat luka garutan sebelah kiri yang mengelompok danjuga sebelah kanan, menjukkan jika garutan itu semua terjadi oleh dua kaki depan harimau. Jadi jangan sampai keliru dalam membaca bekas aktivitas tersebut.

Untuk menyakini eksistensi harimau jawa, cobalah perhatikan dua gambar 7 dibawah ini. Gambar sebelah kiri merupakan data yang kami peroleh dari hutan di Jawa tahun 1997, sedangkan gambar di kanan adalah gambar di kebun binatang tahun 1999. Kalau seperti itu, coba Anda simpulkan sendiri……

Persamaan cakaran harimau jawa & sumatra

Gambar 7. Perbandingan bekas cakaran harimau Sumatra (kanan) dan bekas cakaran harimau jawa (kiri).

Bisa kita lihat dengan jelas, seberapa lebarnya jarak antar dua kuku goresan cakaran harimau jawa. Pembandingnya jelas dari tapak tangan lelaki dewasa. Bagi Anda yang cermat tentu akan menyanggah< bagaimana mungkin bekas cakaran harimau jawa ada lima goresan?> Jawabnya mudah, bahwa bekas goresan yang berjumlah lima tersebut merupakan hasil dari dua kali pencakaran. Pencakaran pertama menghasilkan 3 bekas goresan (kalau di gambar 7: pisisinya palingatas); kemudian penacaran ke dua menghasilkan 2 bekas goresan kuku (di gambar 7: persis diatas jari tangan pria membanding). Perlu diketahui bahwa kuku kaki harimau jawa dan harimau pada umumnya ada empat, meski jari mereka berjumlah lima. Hal ini dikarenakan satu jari (bisa disebut sebagai ibu jari) posisinya cenderung lebih tinggi dari ke empat jari yang lainnya. Sehingga relaman jejakpun akan terliat mengandung empat bulatan jari dengan satu petsol di tengah yang besar. (akan diuraikan nanti pada jejak kaki harimau jawa).

Kalau sudah begitu, data sekunder sudah kami ramu semikian rupa perihal bekas garutan. Uraian penguat sudah kami argumenkan, tapi kenapa tidak ada usaha perlindungan yang lebih spesifik terhadap habitat harimau jawa di Pulau Jawa? Hal ini disebabkan karena banyak kepentingan yang berusaha menghilangkan ‘eksistensi’ harimau awa agar habitatnya dapat dialihfungsikan untuk kepentingan yang lain….. silahkan cari sendiri….

Sekali lagi, data kami itu usianya telah 13 tahun yang lalu….. Tetapi yang jelas sampai Anda membaca tulisan ini kami masih membuntuti kemanapun pergerakan bayangan harimau jawa. Jangan gundah kalau harimau jawa masih ada. Dan jangan gegabah untuk mengatakan sudah punah. Dan jangan terkejut terhadap kemunculannya. Siap-siap saja……

Terimakasih atas atensinya.
“jaka alas”didik raharyono. 2010.


7 Responses to “harimau jawa (Panthera tigris sondaica) di abad milenium”


  1. 1 ikwan
    Mei 18, 2010 pukul 1:36 am

    mas didik, saya sudah lama mengikuti artikel2/tulisan mas didik. saya sebagai orang jawa juga masih percaya kalau harimau jawa masih tersisa meskipun susah untuk memperoleh gambarnya. pada saat saya ke lereng semeru saya sempat menemukan jejak fresh kucing besar. kenapa saya bilang fresh karena jejak tersebut tercetak di debu vulkanik halus dari letusan semeru. jadi kemungkinan baru tercetak beberapa jam atau malam sebelumnya. cuman saya masih awam apakah jejak itu milik loreng atau tutul, klo dari diameternya sih cukup besar seukuran tapak tangan orang dewasa. baru-baru ini baca di jawapos ada serangan macan yg memangsa kambing2 warga di jember jawa timur. tp sekali lagi belum bisa dikonfirmasi apakah macan itu loreng atau tutul. ini link nya : http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=155664. semoga kelak ada foto terbaru predator hebat ini.

  2. 2 donieadrian
    Juli 19, 2010 pukul 8:41 am

    ok, mas didik raharyono tetap berjuang untuk keberadaan harimau loreng jawa …. ditunggu kabar-2 selanjutnya.

  3. Agustus 22, 2010 pukul 4:34 am

    Maaf sebelumnya, kalau saya amati gambar yang sebelah kiri, timbul beberapa pertanyaan:
    1. apakah jejak tersebut masih baru?
    jika benar masih baru, maka Sondaica ini sangat lah tinggi dan besar,
    jika sudah lama dan sudah tertutup kembali kulit kayu tersebut, maka Sondaica ini kemungkinan ukuran nya tidak sebesar dan setinggi yang kita kira….
    saya cendrung pada kemungkinan yang ke dua bahwa itu bekas cakaran lama, kenapa karena waktu di cakar pohon tersebut masih kecil, hal ini juga di perkuat dengan bentuk cakaran yang menyamping, juga pada tumbuhan kalau luka robek sampai melewati lapisan kambium maka akan lama untuk kembali tertutup, dan tertutup pun juga tidak mulus seperti kulit manusia.
    Saran saya mungkin pengumpulan data yang lebih detail dimana bentuk goresan juga menggambarkan aktivitas yang dilakukan oleh harimau tersebut,
    apakah sedan mencakar biasa atau kah sedang mengasah atau kah bekas cakaran dengan sebuah lompatan….
    demikian sahaja dahulu tanggapan saya…semoga bermanfaat.

    • Agustus 24, 2010 pukul 5:53 am

      Kacaran di pohon yang terekam tersebut jelas sebagai cakaran harimau yang besar (kalau di jawa berarti harimau jawa). Sisi pengambilan gambar memang hanya dari samping. Sebenarnya pencakaran tersebut dari dua sisi (garutan yang di foto hanya kaki kanan depan, sedangkan garutan kaki kiri depan tak terlihat). Berhubung ukuran harimau besar maka diameter pohon yang difoto itu masih tercakup oleh ‘terkaman’ harimau saat mengasah kukunya, sehingga membentuk pola garutan menyamping.

      Sangat tidak mungkin jikalau hasil pencakaran tersebut terjadi saat pohon masih kecil, dan terikut sampai pohon tumbuh menjadi pesar. Kami juga memiliki gambar foto dimana hasil cakaran menembus kambium dan kambiumnya bertumbuh di tepi-tepi luka garutan, kondisinya tidak seperti foto yang kami tampilkan.

      Untuk pencakaran penyamping adalah sangat mungkin, sebab posisi pohon yang dicakar ‘dalam posisi diterkam’. Kalau Anda sering memantau bentuk cakaran harimau di hutan, pastilah banyak juga bentuk pencakaran yang menyamping (hal ini biasanya karena ukuran diameter pohon yang dicakar lebih kecil dari lebar antar kaki kanan-kiri depan si harimau). Dan sangat tidak mungkin jika itu bekas cakaran yang terbentuk akibat hasil lompatan.

      Terimakasih banyak atas tanggapannya.

  4. 5 bayu
    Oktober 12, 2010 pukul 3:06 am

    Bozz, update datanya tentang jejak keberadaan harimau jawa yg baru mana? Di difoto kan tahun 1997, nah sekarang dah 2010 perkembangannya selama 13th gmn.

    • Oktober 22, 2010 pukul 2:37 am

      sengaja Kang Bayu, abis data yang 13 tahun yang lalu saja gak ada yang minat untuk melakukan MANAJEMEN PERLINDUNGAN DAN AKSI KONSERVASI HABITAT-HABITAT TERSISA DI PULAU JAWA yang masih BERHARIMAU apalagi data terbaru di publis… malah dirusak tuh kawasannya entar….. (mengenakkan pemburu bersenjata….). Dan SIAPA YANG MAU BERTANGGUNG JAWAB DENGAN PEMBANTAIAN TERHADAP HARIMAU JAWA yang juga masih terjadi…..

      sengaja Kang Bayu, abis data yang 13 tahun yang lalu itu saja GAK ADA AHLI MAMALIA atau CARNIVOR YANG BERANI MENGULAS HABIS…, ngapain data terbaru di share…, toh penelitian yang kami lakukan juga atas biaya dukungan dari kepedulian para informan yang nota bene adalah rakyat jelata,…… mana KEPEDULIAN dari pemerintah anda yang mendapat gaji dari IYURAN RAKYAT INDONESIA……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

April 2010
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: