27
Mar
10

HARIMAU JAWA (Panthera tigris sondaica) di ABAD MILENIUM


#Perihal Cakaran Satu.

Pendahuluan

Panthera tigris sondaica konon telah punah. Kabar yang ditiupkan oleh sinyo Robert dalam tulisan etnografisnya berjudul The Last Tiger in East Java yang dimuat dalam Asian Folklore Studies, volume 54, 1995, menyebutkan Macan Jawa yang terakhir, tewas ditikam timah panas (mungkin, dalam satu perburuan) yang ditembakkan dari laras senapan oleh salah satu dari tiga pejabat paling penting demi perkembangan peradaban modern, yaitu Pangeran, Raja, dan Presiden. Sinyo Robert menyebut nama-nama itu sebagai Prince Bernhard dari Belanda, Shah Iran dari Iran, dan Soeharto dari – Indonesia. (dari: Mengenang Panthera Tigris Sondaicus: Apriyadi’s site, 2008).

Benarkah pernyataan tersebut? Sayalah orang pertama yang menyanggah pernyataan diatas. Artinya saya akan mengatakan bahwa : Harimau jawa belum punah, masih ada yang lolos dari sergapan timah panas itu. Dimana hampir selama 13 tahun saya membuntuti bayangan satwa kharismatik tersebut. Foto sosoknya memang belum saya peroleh, tapi bekas aktivitasnya berhasil kami buktikan. Adapun bekas aktivitas harimau itu meliputi: cakaran di pohon, kotoran, jejak tapak kaki, sisa mangsa dan terakhir rambutnya (nanti akan kami bahas tu-persatu dek…., dokrema ampean…, harata…, kumahak atuh….). Selain itu bukti sisa pembantaian berupa gigi (pembantaian 1996) dan sobekan kulit (pembantaian 1995) dari Jawa Tengah berhasil kami koleksi. Ingat!!! dari Jawa Tengah, bukan Jawa Timur yang dianggap sebagai habitat terakhir harimau dari tanah Jawa. Namun untuk gigi dan kulit saat ini sedang dalam tahap rencana penelitian analisis DNA (maklum dana riset kami sangat terbatas, hanya dari sisa keuntungan jualan kaos, buku dan bunga hias). Sebab sudah jarang yang peduli untuk membantu pendanaan riset harimau jawa.

Sanggahan

Memang riset harimau jawa ini awal mulanya diinisiasi oleh Kappala-Indonesia-FK3I Jatim-PIPA Besuki-MMB Jember dan di bantu pendanaannya oleh Dana Mitra Lingkungan serta iuran peserta PL-Kapai 1997. Lalu Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jatim II dengan ekspedisi harimau jawa di luar kawasan TNMB. PL-Kapai 1999 di Jateng oleh Kappala Indonesia-Fordik, Survey Habitat Macan di Gunung Kidul dengan BKSDA Jogjakarta th 2000, dan PL-Kapai 2005 oleh Kappala Indonesia dan Kampung di Jateng. Di semua kegiatan itu saya selalu terlibat.

Setelah Seminar Nasional Harimau Jawa 1998, secara pribadi dan mandiri saya mengejar terus ‘bayangan’ harimau jawa itu. Akhirnya secara ilmiah dapat saya buktikan menjadi Buku: Berkawan Harimau Bersama Alam, terbit 2002. dengan penyelaras Mas Eko Teguh Paripurno. Penerbitannya dibantu The Gibbon Foundation. Dan sampai sekarang tak ada yang mengkanter dengan buku, terhadap tulisan buku saya tersebut. Lalu di tahun 2003 saya telah menulis di Kompas mengenai pengamatan manual vs kamer trap, dengan rambut harimau sebagai penguat temuan eksistensinya. Tapi tak mempengaruhi kebijakan siapapun dalam melakukan kajian riset harimau jawa.

Dengan bantuan teman webmaster dari Jogjakarta maka tahun 2004-2006, kami memiliki situs didunia maya dengan alamat: www.javantiger.or.id. Di situs ini kami juga memaparkan perihal hasil-hasil riset yang kami lakukan, bahkan kami berhasil menghimpun masukan posisi-posisi terbaru keberadaan harimau jawa dari audiens. Dan secara ilmiah tidak ada yang menyanggah kajian saya tersebut. Maka beberapa data ini akan saya tampilkan lagi. Data yang telah “usang” saja. Biar ada yang mengkaji dan mengulasnya secara ilmiah. Katanya Indonesia memiliki banyak DOKTOR bahkan GURUBESAR satwa liar. Coba seperti apa ulasan para pakar tersebut.

Ini lho Hasil Riset Itu

Pertama akan saya uraikan dulu mengenai temuan bekas cakaran harimau jawa. Pencakaran merupakan sebuah perilaku harimau untuk menandai kawasan yang menjadi teitorinya. Penggarutan ini bagian dari perilaku khas golongan Felid. Shingga bisa dijadikan sebagai indikasi eksistensi suatu jenis spesies di suatu habiat. Tidak mungkin ada cakaran tapi tidak ada satwa yang melakukannya.

Kalau sinyo Robert (pinjam istilahe Mas Apriyadi’s site) di Asian Folklore Studies itu terbit tahun 1995, maka dua tahun setelah penerbitan tulisan itu, yaitu tahun 1997, kami berhasil menemukan bekas indikasi kehidupan harimau jawa. Tepatnya bulan Nopember. Perhatikan gambar di bawah ini. Lalu apakah penulis jurnal tersebut sudah menjelajahi setiap relung habitat hutan jawa tersisa? Atau “jarene peneliti A” juga “jarene pengamat B”. Jadi hanya sekedar “kulak Jare adol Jare”….. kata javanese people.

Cakaran Loreng Jawa

Foto1. Cakaran Harimau Jawa 1997. (foto ini saya tampilkan dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002) dan (pernah saya muat di http://www.javantiger.or.id)

Anda bisa mencermati foto diatas. Bandingkanlah tinggi orang jawa dewasa yang berdiri disamping pohon berasan itu. Tentu Anda akan dapat melihat tigginya hewan yang melakukan pencakaran. Mohon juga amati tingginya pohon yang digunakan untuk melakukan aktivitas pencakaran tersebut. Terutama kalau Anda berhasil melihat sebuah goresan paling tinggi di foto tersebut. Pasti Anda juga dapat melakukan perkiraan mengenai besarnya satwa yang melakkan pencakaran tersebut dari perbandingan diameter pohon dengan besarnya setiap torehan luka yang ditingaklan di kulit pohon tersebut. Temuan bekas cakaran ini adalah hasil riset kami di tahun 1997 (sudah usang bukan? Tapi mana hasil riset Anda terbaru?). Saya kasih bocoran: bahwa Lokasi foto ini ada di daerah Jawa Timur.

Masihkan Anda mengatakan bahwa foto tersebut adalah bekas aktivitas macan tutul? Saya orang pertama yang akan mengatakan Anda salah. Dan saya adalah orang pertama yang akan mengatakan bahwa pencakaran di pohon ini merupakan bekas pencakaran harimau jawa. Alasan saya di karenakan pada analisis saya tentang lebar dan dalamnya bekas pencakaran tersebut. Coba amati gambar 2, perhatikan detail dari rekaman kuku, kalau Anda cermat maka ketajaman dan besarnya jarak antar kuku penggores yang berdekatan, jelas milik harimau jawa. (sengaja tidak saya sampaikan mengenai ukuran lebar, dalamnya luka pencakaran dan tinggi cakaran yang tertinggi dari permukan tanah jika diukur secara vertical tegak lurus). Agar Anda latihan ‘membaca’ secara visual.

Detail Cakaran Loreng Jawa

Foto 2. Detailnya bekas kuku harimau jawa dari Jawa Timur. (foto ini saya tampilkan dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002).

Setelah enam tahun kemudian saya baru berhasil mengidentifikasi  rambut yang terselip di tepi gurantan, meski hanya menggunakan mikroskup cahaya dengan perbesaran 400 kali. Dimana sebelumnya saya melakukan identifikasi dengan melakukan pencetakan rambut menggunakan metode kutek, tetapi hasilnya masih kurang memuaskan. (untuk rambut: nanti akan saya bahas dikesempatan selanjutnya).

Sisi penguat dari temuan

Pasti Anda masih kurang puas, dan pasti bertanya-tannya seperti apa pembanding bekas pencakaran macan tutul? Mengenai besarnya, polanya dan model garutannya. Selanjutnya perhatikanlah gambar 3 di bawah ini. Semacam inilah kebanyakan bekas pencakaran macan tutul yang saya kumpulkan dari Jawa Timur dan Jawa tengah..

Cakaran Macan Tutul

Foto 3. Bekas cakaran macan tutul. Terdapat dua pola cakaran: nggraut dan nyuwiki. (foto ini saya tampilkan dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002)

Kalau Anda memiliki ketrampilan membandingkan model cakaran maka dari gambar 3 tersebut Anda akan mengetahui bahwa ternyata pola pencakaran itu ada dua model. Pertama pola pencakaran berupa penggarutan (nggraut: Jw), hasilnya terekam sebagai garutan panjang. Di foto 3 ditunjuk pada bagian atas, sedangkan yang ditunjuk pada bagian bawah merupakan pola cakaran spot atau titik-titik (nyuwiki :Jw).

Masih kurang puas mengenai bekas cakaran macan tutul? Di Gambar 4 ini Anda bisa mengamati seperti apa bekas cakaran macan tutul jika berada di pohon besar. Pelukaan yang masih terlihat merah, membuktikan bahwa pencakaran ini berulang dan masih baru. Artinya entah tadi malam atau beberapa jam yang lalu, pasti tutul itu melitas di kawasan ini. Dan sayapun berhasil menemukan rontokan helaian rambut di bekas pencakaran ini, yang setelah tiga tahun kemudian baru sempat kami identifikasi sebagai milik macan tutul jawa. Tentu hal ini sebagai penguat.

Tinggi Cakaran Tutul Baru

Gambar 4. Cakaran Macan tutul di pohon besar. (foto ini saya tampilkan dalam buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002)

Apa artinya?

Pengungkapan saya perihal gambar-gambar bekas cakaran harimau jawa dan macan tutul sebenarnya untuk apa? Arti penting pengungkapan ini adalah perihal eksistensi harimau jawa. Dunia boleh bilang harimau jawa punah. Tetapi sebagai penghuni Jawa, saya mengatakan Harimau jawa masih eksis. Data yang saya keluarkan ini adalah data temuan saya di tahun 1997. Anda pasti bertanya, ah… itu kan data 13 tahun yang lalu. Berarti harimau jawa sekarang telah punah…

Kalau pertanyaan itu yang Anda ajukan. Saya akan diam. Sebab Anda pasti berusaha mengetahui dimana pergerakan saya sekarang. Itu tidak perlu saya ungkapkan. Menghadapi publikasi saya perihal eksistensi harimau jawa berdasarkan bekas pencakaran tahun 1997 saja Anda belum menyampaikan argumen riset Anda yang dapat untuk menyanggah secara ilmiah bahwa data yang saya ungkapkan diatas merupakan bekas aktivitas tutul. Apakah tutul di Jawa telah mengalami “gigantisme?” silahkan kaji sendiri.

Yang jelas data temuan kami tersebut diatas mengenai pencakaran harimau jawa, tidak dapat menimbulkan ‘gerakan kesadaran hati’ untuk melakukan perlindungan, perbaikan dan pemulihan habitat harimau jawa. Malah tragisnya di tahun 1999, terjadi euphoria reformasi yang berimbas pada pembabatan hutan jawa secara ganas. Apapun usaha kami untuk mengatakan harimau jawa masih eksis selalu dimentahkan dengan argument : berdasarkan riset kamera trap tidak ditemukan sosok foto harimau jawa. (ha risetnya dimana? Habitat harimau dimana?). Perlu diketahui bahwa seharusnya jika untuk mengkaji eksistensi harimau jawa ya seharusnya semua hutan tersisa yang menjadi habitat harimau jawa di lakukan survey. Nah kalau itu sudah dilakkan baru bisa diketahui ada atau tidaknya harimau jawa. Wong tahun 1999 seorang peneliti Badak di Ujung Kulon saja pernah Berpapasan Langsung dengan Harimau Loreng Gembong. Lalu kenapa hanya Meru Betiri yang di klaim sebagai Habitat Terakir Harimau jawa?

Ha… monggo. Dengan paparan data usang kami diatas (13 tahun yang lalu itu), silahkan Anda renungi sendiri. Saya tidak membutuhkan Anda mempercayai data saya tahun 1997. Tapi aksi nyata apa yang Anda lakukan untuk peduli terhadap kelangsungan hidup spesies-spesies tertekan yang menghuni pulau Jawa? Silahkan menjawab sendiri dengan Naluri Hati Nurani Anda yang Paling Dalam…..

dari kedalaman hutan jawa yang tersisa, kami menggagas tulisan ini kembali.

“joko alas”didik raharyono


10 Responses to “HARIMAU JAWA (Panthera tigris sondaica) di ABAD MILENIUM”


  1. 1 Triyanto
    Juni 17, 2010 pukul 6:07 am

    Pak Didik yang terhormat,

    Kami para generasi muda penerus penghuni jawa ini perlu pendidikan tentang kesadaran pentingnya menjaga lestari hutan dan seisinya.. jika ada informasi tentang kegiatan yang perlu kami support dengan tenaga dan pikiran kami. Tentunya kami akan sangat senang dan bangga jika bisa ikut andil bagian.

    Salam,

    Triyanto

  2. 3 nugroho
    Agustus 17, 2010 pukul 5:25 pm

    terima kasih nfonya pak didik semoga eksistensi anda selalu mendapatkan kesuksesan….
    saya pribadi sebagai eks mapala, dan sekarang bergelut bersama WALHI bengkulu ingin tahu lebih dalam mengenai keberadaan harimau jawa saya akan update terus info2 yg anda postingkan…
    sekian dan terima kasih

  3. September 21, 2010 pukul 8:11 am

    sipp,

    analisanya sangat mendukung sekali,
    teruskan perburuan mencari ilmu yang tinggi tehadap fauna jawa,
    dan jangan lupa berbagi ilmu dengan yang lain

    sukses selalu

  4. 5 Anton
    Mei 22, 2011 pukul 11:55 am

    Saya yakin akan keberadaan harimau Jawa, meski sangat langka hewan ini masih ada. Suatu saat nanti dunia pasti akan terkejut dengan keberadaan Panthera Tigris Sondaica di dunia nyata. Ayo kita bersama menjalin kecintaan akan kelestarian hutan yang akan ikut melestarikan fauna di dalamnya.
    Mudah-mudahan akan ada orang kaya dari Indonesia yang mau mendanai pencarian dan perlindungan pada hewan ini. Tapi saya juga berhadap pemerintah Kerajaan Belanda seharusnya ikut bertanggung jawab terhadap kepunahan harimau jawa karena perburuan di masa kolonialah penyebab kepunahan atau kelangkaan 3 kucing besar di Jawa, Bali dan Sumatera. Masalahnya, maukah Indonesia menuntut tanggung jawab tersebut. Saya yakin awetan harimau jawa masih banyak tersimpan di kalangan bangsawan dan kaum elite Kerajaan Belanda. Hanya saja mereka tak mau menunjukkannya karena takut dituntut tanggung jawabnya.

  5. 6 raning rubiah
    November 14, 2011 pukul 9:40 am

    saya yakin…..seyakin yakinnya bahwa macan gembong masih ada…mereka adalah ahli kamuflase terbaik…percaya atau tidak…ada campur tangan Yang Maha Kuasa,Yang Maha Perkasa untuk melindungi dan menyembunyikan si Raja Hutan dari terkaman mahluk yang katanya paling mulia sekaligus bisa paling hina……dan niat baik anda telah didengar pada saatnya nanti macan gembong akan diperlihatkan ketika rakyat ini sudah sembuhdari sakit tamaknya insyaallah….amien maju terus wahai para pendekar penjaga harimau jawaku……….

  6. 7 wisata konservasi
    November 29, 2011 pukul 3:42 am

    memang penting untuk mengetahui keberadaan harimau jawa, tetapi lebih penting lagi kalo kita berusaha menjaga ekosistemnya. krn klo pun masih ada apabila ekosistemnya rusak, harimau tersebut juga akan mati atau punah krn susah berkembang biak.
    kepada Ki Joko Alas, kami mendukung usaha anda untuk menyelamatkan Sang Raja.

  7. 8 wawan
    April 6, 2012 pukul 1:27 am

    Selama ini secara pribadi saya juga masih percaya jika Mbahe masih ada di dalam hutan sana, dasarnya apa hanya kepercayaan yang diketahu oleh hati.
    Dan sangat berharap bahwa kepercayaan ini akan terbukti secara alamiah dengan bantuan Javan Tiger Center , mungkin hanya cerita mulut ke mulut. Almarhum Mbah Kakung juga pernah bercerita tentang kegagahan dan ke angkeranya ( java : merbawani ), semoga perbawa itu suatu saat nanti bisa kita nikmati kembali dan bukan hanya dengar dari almarhum Mbah Kakung. amin ya robal alamin

  8. 9 surasastra
    September 22, 2012 pukul 12:28 pm

    trima kasih pak.
    awalnya saya tdk percaya akan adanya harimau jawa, tp ayah sya mgatakn sbaliknya dg menyuruh sya mnemui temannya yg jd juru kunci salah satu gunung d jawa timur. dgn di temani oleh pak de (panggilan sy kpd tman ayah) dlm 3hri pjalanan dgunung dg bekal yg aneh (pak de hnya bawa karak/nasi yg di keringkan untuk makan 3 hari) akhirnya sya diperlihatkan langsung macan gembong di dalam gua di wilayah jatim.

    • Januari 6, 2013 pukul 3:26 am

      wah… pengalaman yang spektakuler…
      kami yang meneliti selama 15 tahun hanya bertemu dengan bekas aktivitasnya saja…
      sangat bagus jika Cak Surasastra berhasil membuktikan dengan melakukan pemotretan….
      sebab dewasa ini masih belum ada alat (komputer canggih) yang dapat untuk mengambil gambar dari “BENAK” kepala orang… sehingga banyak kesaksian perjumpaan dari warga sekitar hutan yang menjadi habitat harimau jawa dapat diambil “gambarnya” berikut tahun-tahun perlihatannya… saya yakin suatu saat ada alat untuk mengambil “rekaman” di memori sel syarak otak manusia… kalau sekarang mungkin hanya baru sebatas grafik-grafik 1 dimensi saja….

      sekali terimakasih atas kepercayaannya berbagi pengalaman dengan kami.
      saya akan senang jika TAHUN PERJUMPAAN DENGAN HARIMAU JAWA ITU DICANTUMKAN….

      sukses selalu untuk Cak Surasastra…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

Maret 2010
S S R K J S M
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: