20
Mar
10

AUMAN Hasil Rekomendasi SEMINAR HARIMAU JAWA (Panthera tigris sondaica) 1998.


Setelah sembunyi hampir 12 tahun, saatnya untuk muncul kembali. Periodenya mengikuti mitologi penamaan tahun Cina. Dimana tahun 1998 adalah tahun harimau, dan kebetulan juga sekarang tahun 2010 adalah tahun harimau lagi. Mungkin harimau memang pantas untuk mengaum lagi setelah dua belas tahun nyenyak sembunyi di belantara jawadwipa. Lalu seperti apa auman harimau jawa itu?

Biarlah harimau jawa tetap mengaum di kegelapan malam hutan jawa, tak usah diusik. Karena Aumannya mungkin sudah tidak terlalu keras. Sehingga jika ada yang mengaum di hutan Badui, maka hiruk pikuk suara mesin mobil di Jakarta akan mengalahkannya. Redupnya auman harimau jawa mungkin karena orang  jawa sudah tidak mau membunyikan gong lagi. Karena sudah berganti drum yang jedhar-jedher kayak suara mesin. Kalau gong kan suaranya gouung…. Mirip aoum… suara harimau dan mirip hoong. Yang mungkin juga mirip bahasa jawa kuno Hyang….. Rentetan misterius yang masih perlu dikaji lagi. Ingat, pusaka Sunan Kudus itu adalah “BENDHE MACAN” yang kalau dari kejauhan di tabuh… maka orang yang mendengarkan disangka suara macan. Mungkin suaranya gauom….gauom… jadi bergema aum..aum…. wong bende kan tidak gong.

Dan memang sekarang Jawadwipa sungainya telah kehilangan kedung. Artinya erosi dan pendangkalan sungai sudah layak terjadi. Yang dikandung maksud: perubahan ekosistem memang telah terantisipasi secara hitungan semacam ‘matematis’ sebab-akibat di dalam benak ‘kitap teles’ para leluhur jawa. Eyang Ronggowarsito misalnya. Atau orang pujangga yang setaraf dengannya. Beliau adalah “genius local” yang mampu ‘membaca’ rentetan simulasi pertambahan penduduk jawa dengan daya dukung lingkungannya. Mungkin di jaman kuliahku dulu namanya ‘ekologi sistem’. Isinya simulasi factor-faktor ekosistem guna menentukan carrying capacity atas sirkulasi masuknya energi dan besarnya biomas. Maka sama Eyang Ronggowarsito pengetahuannya tersebut ‘diglintir’ menjadi KALI ILANG KEDUNGE.  Pantesan Nabi Muhammad di beri wahyu pertama di suruh Tuhan untuk membaca. Meski Beliau –pinjam istilah sekarang ‘buta huruf’. Berartiii… membaca itu dapat dilakukan orang yang tidak harus mengenal ‘simbul-simbul’ huruf. Membaca itu bisa dengan rasa. Kalau orang jawa ‘membacanya’ itu NITENI. Niteni itu hasil dari paham, lha pahamnya itu akumulasi dari mengenal, sedangkan mengenalnya dari hasil interaksi melihat-mendengar-merasakan. Nggak usah di tulis. Cukup di TITENI, itu tadi.

Nah kalau begitu, artinya para pendarung dan pembedhag di hutan itu ya… sudah pandai ‘membaca’ eksistensi harimau jawa. Lha wong meh setiap hari berinteraksi dengan hutan di dalam lebatnya hutan. Dalam kaitannya memenuhi jihat menghidupi keluarganya, selain diri mereka sendiri. Berarti kitalah yang merasa sebagai orang kota yang sebenarnya ‘buta huruf’ dalam ‘membaca’ eksistensi harimau jawa. Buktinya ketika saya dan teman-teman PA belajar ‘membaca harimau jawa’ ke pemburu local, pendarung dan pencari madu membuahkan ‘ejaan’ yang agak lumayan bisa di ‘baca’. Maka untuk memperlancar pengejaannya dilakukanlah seminar nasional harimau jawa. Begitulah kira-kira analogisme-nya. Perlu diketahui juga bahwa orang jawa memang suka dengan penganalogisan pengetahuan.

Jawa memang banyak gunung berapinya. Pantas saja. Sebab dorongan lempengan Nyi Roro Kidul mendesak ke bawah perut Jawadwipa. Yang juga di dorong ke selatan oleh Mbok Nyai Lanjar. (Nyi dan Nyai adalah perempuan, jadi ejawantah pembahasaan lain untuk ibu bumi). Akibatnya wajah jawadwipa pada ‘bisulen’ dan pada ‘wudunen’. Tapi wudun tersebut menyebarkan ‘bedhak’ kesuburan. Hingga wajah jawadwipa menjadi hijau cuantik dan nengsemake. Saking hijaunya, saking lebatnya maka banyak kutunya. Tak lain dan tak bukan kutu-kutu tersebut terdiri atas golongan bovidae, cervidae dan suidae. Juga tak heran jika felidae ikut bergabung menjadi ‘kutunya’ kelebatan wajah bumi jawa.

Seiring waktu, datanglah kebo bule yang nggundhangi kelebatan hutan jawadwipa. Tuma-tuma jawa ketakutan dibedil. Meski senapan itu merupakan senjata yang dulunya telah pernah digunakan Gadjah Mada mengalahkan kerajaan-kerajaan lain guna menggabung menjadi Nusantara. Maka tak heran jika ada unen-unen: golekana plungsune mimis…… Mimis adalah peluru. Peluru jaman Gadjah Mada bentuknya bulat seperti kelereng, Cuma terbuat dari cor-coran logam. Nah… karena sibuk bertani… akhirnya Tuma jawa kehilangan memori tentang mimis, makanya jadi miris sama kebo bule.

Setelah lebatnya hutan jawa pada bopeng, kebo bule kalah di brakoti sama kethek kuning sing dedeg-e kunthet. Masio kunthet tetapi sangat nggegirisi. Rakusnya bukan main. Hampir semua hutan jati alami jawa habis dibabat untuk diusung ke kandangnya. Dapat diketahui akibat selanjutnya bagi kutu-kutu buminya jawa seperti golongan bovide: Bos javanicus, cervidae: Cervus timorensis dengan Muntiacus muntjak, serta suidae: Sus scrova dan Sus verocosus pada amblas alias menyusust populasinya. Berikut kutu terakir Panthera tigris sondaica hampir-hampir lenyap.

Menyambungkan lagi dengan ide awal penulisan, maka “gendruwo gunung” dan “jaka alas” (pinjam istilah yang dipakai oleh Mbah Citra: pinisepuh Gunung Lamongan) melakukan kursus ‘membaca tigris sondaica’ di kelebatan hutan meru betiri. Nama meru betiri sendiri mengandung makna meru itu gunung, betiri itu bethara, bethara itu dewata. Wosnya meru betiri itu berarti gunung bethara atau gunungnya para dewa. Pantes saja kalau tigris sondaica itu manggon di kawasan ini. Wong tigris sondaica itu dihormati Tuma jawa.

Pasca kursus para ‘gendruwo gunung’ dan ‘jaka alas’ melakukan pirembagan ageng atau seminar nasional di Kerajaan Jogjakarta. Ini juga harus di’baca’. Meskipun gendruwo gunung dan jaka alas Jember lebih intensif dan lebih awal ‘kurusnya’, namum pirembagan ageng itu diselenggarakan di Jogja dengan kandungan maksud agar Tuma jawa dapat berkumpul di tengah-tengah. Baik dari barat maupun dari timur. Lebih-lebih sebagai sebuah sisa kerajaan tanah jawa, harus punya andil dalam membaca kutu dari gunung para dewa.

Setelah ejaannya diangap jelas maka bisa dibaca. Adapun Hasil ‘bacaan’ itu adalah sebuah Rekomendasi yang tinggal sebagai rekomendasi saja. Meskipun menghasilkan 11 poin kalimat. Komitmen yang tercatatpun hanya dibawa untuk menemani tidur di kenyamanan kenyangnya perut. Hingga terlelapkan sang waktu yang tanpa ampun menggilas libas dengan sangat kuatnya. Orang yang terkantukpun bisa jatuh saat mencermati menanti dengar pekabaran harimau jawa.

Auamannya kini tinggal aum. Tidak aauuooung…. Apalagi Haoummm…..

Wanci latri ing telengipun sunyaragi.

didik-raharyono

Penanda Tangan Rekomendasi

Sebelas Poin Rekomendasi


2 Responses to “AUMAN Hasil Rekomendasi SEMINAR HARIMAU JAWA (Panthera tigris sondaica) 1998.”


  1. 1 giri
    Maret 21, 2010 pukul 2:49 am

    celakaknya, banyak orang sekedar menunggu auman yang kerapkali kalah suara dengan raung mesin gergaji yang entah kapan akan berhenti. ayo sosialisasikan kembali rekomendasi tersebut!

  2. 2 suli partono
    Desember 26, 2010 pukul 4:16 am

    Sugeng enjing

    Bpk.Didik Raharyono

    Tulisannya saya sangat suka, lebih mengulas tentang harimau jawa(baca: harimau wingit)
    Wingit bukan berarti demit.tapi semoga seperti demit, betul kalau terekpose bukan tidak
    mungkin akan berduyun duyun orang orang menjadi joko pengalasan…
    penjabarannya khas….dari pujangga linangkung duking nguni Raden Ngabehi Ronggo Warsito
    oleh bapak,kelihatannya bapak juga dalam menyusun tulisan ini sudah seperti pujonggo.

    mohon di balas ke email saya.

    matur suwun

    suli


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Risearcher

Kliping

Maret 2010
S S R K J S M
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Bacaan


%d blogger menyukai ini: