06
Jan
13

2013 “TAHUN PERLINDUNGAN MACAN TUTUL JAWA” di KAWASAN NON KONSERVASI


Nama Lembaga    : PEDULI KARNIVOR JAWA

Akta Notaris         : Dra. PRASTIWI, SH. No. W.9.Dhh.HT.01.10.01.PK/2006

Alamat                  : Jl. Karang Jalak No.3 RT02. RW06.

Kelurahan Sunyaragi. Kecamatan Kesambi. Kota Cirebon.

JAWA BARAT. INDONESIA. Kode Pos: 45132.

Telpon                   : +62-8156580056.

e-mail: pkj06@yahoo.co.id

Website                 : http://www.pedulikarnivorjawa.org

Visi                         : TERCIPTANYA HUBUNGAN HARMONIS ANTARA KARNIVOR DENGAN MANUSIA DI PULAU JAWA

Misi                        : Menyelamatkan dan Melestarikan Karnivor Jawa Beserta Ekosistemnya

Program                : Advokasi Harimau Jawa & Karnivor Jawa

 

PRESS  RELEASE:

2013 : “TAHUN PERLINDUNGAN MACAN TUTUL JAWA” di KAWASAN NON KONSERVASI

Latar Belakang

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) merupakan satwa pemakan daging endemik pulau Jawa. Spesies ini berperan penting dalam ekosistem pulau Jawa sebagai predator dan “spesies payung”. Dimana perlindungan terhadap macan tutul berarti melindungi spesies-spesies lain yang berada di habitatnya. Distribusi habitat mereka di Kawasan Non-Konservasi (KNK) masih luput dari pemantauan, meskipun RedList IUCN menetapkan macan tutul jawa sebagai “Critically Endengered” dan oleh CITES digolongkan “Appendix I” serta dilindungi Pemerintah RI dengan PP No.7/th 1999.

Pulau Jawa memiliki kepadatan penduduk 1.055 orang per km2 (th 2010), sebuah pulau terpadat di Indonesia. Kondisi tersebut berimbas terhadap degradasi hutan, karena peningkatan kebutuhan lahan pertanian. Walaupun sebagian hutan alami tersisa di Jawa dijadikan sebagai kawasan konservasi seperti taman nasional, suaka margasatwa, cagar alam dan taman hutan raya; namun luasannya hanya sekitar 2,56 % dari luas pulau Jawa yang 138.793,6 km2.

Kawasan Non-Konservasi (KNK) di Jawa meliputi hutan lindung, hutan produksi, perkebunan dan hutan desa. KNK mempunyai luasan 2,46 juta ha. yang setara dengan 17,74% dari luas Pulau Jawa. Hal ini perlu mendapat perhatian karena habitat alami macan tutul adalah seluruh hutan di Pulau Jawa. Jika kawasan konservasi merupakan ‘habitat utama’ macan tutul maka KNK menjadi pendukung, penyangga dan penghubung habitat bagi kelestarian populasi. Spesies macan tutul jelas tidak membedakan habitatnya berdasarkan kriteria yang dibuat oleh manusia.

Peduli Karnivor Jawa telah melakukan kajian distribusi habitat macan tutul di Jawa Timur, D.I. Jogjakarta, Jawa Tengah  dan sebagian Jawa Barat sebagai usaha memantau sebaran habitatnya di Jawa sejak 2002-2012. Pada penelitian itu data temuan PKJ berupa feses, cakaran, jejak kaki dan rambut, namun masih dianggap lemah, sebab bukan berupa foto macan tutul. Oleh karena itu metode pemantauan yang digunakan sekarang adalah pemasangan kamera trap ke lokasi-lokasi yang sudah pernah di survey PKJ.

Survey macan tutul di KNK berguna untuk pertimbangan pengelolaan kawasan berdasarkan keragaman hayati yang terdapat di dalamnya sesuai dengan Peraturan Menteri LH No. 29 tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati di Daerah. Sekaligus berguna bagi Pemangku KNK sebagai bahan dasar pengelolaan kawasan berazaskan protokol HCVF.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk menemukan kembali bukti foto macan tutul jawa di Kawasan Non-Konservasi, sehingga:

1) peta sebaran distribusi habitat macan tutul Jawa di kawasan non-konservasi diketahui;

2) distribusi kawasan-kawasan non-konservasi sebagai “coridoor habitat” yang penting bagi macan tutul jawa terpetakan;

3) Pengelola kawasan non-konservasi menerapkan protokol HCVF berdasarkan eksistensi macan tutul di area mereka; dan

4) Pemerintah Daerah melaksanakan Per-Men LH No. 29 tahun 2009.

Capaian tersebut menjadi penting sebagai landasan pendukung dalam melakukan program konservasi manajemen habitat macan tutul se-Pulau Jawa, yang menjadi harapan dari Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Nasional Macan Tutul Jawa (Draf 2009).

 

Permasalahan

Pemantauan PKJ sejak 2002 sampai 2012, membuktikan bahwa keberadaan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di Kawasan Non Konservasi (KNK) belum ada yang memperhatikan, baik dari Pihak Pengelola Kawasan, maupun Instansi Pemerintah yang berkewenangan terhadap spesies Endemik Jawa ini. Pernyataan PKJ terbukti dengan TIDAK adanya data tentang populasi dan sebaran macan tutul yang berpredikat Critically Endengered (status konservasi yang sepadan dengan badak jawa), walaupun kawasan KNK di P. Jawa meliputi hutan produksi, hutan produksi terbatas dan hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani dengan luasan 2,4 juta ha., sedangkan luas kawasan konservasi daratan di Pulau Jawa sampai tahun 2008 hanya 0,653 juta ha.

 

Ancaman

Macan tutul yang berhabitat di KNK mempunyai tingkat keterancaman sangat tinggi, terutama atas siklus pemanenan hutan, siklus peremajaan pohon, pengalihan fungsi dan fragmentasi. Memang KNK bukan diperuntukkan secara khusus sebagai habitat macan tutul, akan tetapi karena satwa liar dilindugi ini mempunyai predikat “kritis”, maka perlu mendapat perhatian khusus. Oleh karena itu PKJ sebagai NGO Konservasi berbasis Riset berusaha memberikan perhatian terhadap kelestarian macan tutul di KNK.

Guna meminimalkan tingkat ancaman kelestarian macan tutul di KNK, maka diperlukan sikap terbuka dari semua lapisan masyarakat penghuni  P. Jawa atas keberadaan satwa langka endemik Jawa disekitar hunian mereka. Hal ini diharapkan agar pola distribusi sebaran macan tutul di KNK dapat dipetakan mulai 2013, agar managemen perlindungan habitat bisa disusun dan diterapkan secara logis berasaskan kaidah-kaidah konservasi modern. Harapan kedepan agar konsep perlindungan macan tutul di KNK dapat mendukung dan memberi sumbangan yang berarti bagi upaya pelestariannya secara menyeluruh di P. Jawa.

 

Potensi

Adapun nilai penting KNK sebagai habitat macan tutul ditinjau dari nilai konservasi dapat digolongkan menjadi:

  1. KNK sebagai Zona Peyangga KK.
  2. KNK sebagai Zona Penghubung KK.
  3. KNK sebagai Zona Inti “Bayangan”.

KNK sebagai Zona Penyangga KK, seperti yang terdapat di kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur terutama yang berdekatan dengan Kawasan Taman Nasional. KNK sebagai Penghubung KK, seperti yang terdapat di Jawa Timur untuk kawasan hutan Lindung Gn. Raung yang menghubungkan TN Meru Betiri dengan TN Gn. Ijen atau KNK Maelang yang menghubungkan TN Gn. Ijen dengan TN Baluran. Sedangkan KNK sebagai Zona Inti “Bayangan”, seperti pada P. Kangean, P. Nusakambangan dan Hutan Lindung Gn. Muria.

Potensi KNK sebagai penyangga KK, memberikan peluang bagi perluasan habitat macan tutul apabila kawasan di dalam KK sudah ‘terkapling’ oleh individu-individu anggota penyusun populasi dari suatu KK. Akibatnya individu muda yang beranjak dewasa dan mencari kawasan baru yang masih belum ‘terkapling’ oleh individu dewasa yang lain dapat membentuk home range baru di KNK ini. Sebagai Zona Penghubung, kawasan ini juga biasanya telah dihuni oleh individu macan tutul, dan peran penghubung selain menghubungkan habitat, juga dimaknai sebagai penghubung ‘alel genetik’ antara dua populasi yang terdapat di dua KK.

Bagian terpenting dari sebuah nilai “perlindungan konservasi” KNK adalah jika berfungsi sebagai Zona Inti “Bayangan”. Kawasan P. Nusakambangan, Hutan Lindung Gn. Muria dan P. Kangean, merupakan KNK yang memiliki potensi sebagai sumber pengkaya “alel genetik” bagi macan tutul di Jawa, sebab posisinya yang sudah terisolasi sangat lama. Untuk itu habitat macan tutul di P. Kangean sangat penting guna diketahui sejauh mana nilai perubahan spesiasinya dengan macan tutul ‘daratan’. Atau justru di KNK Zona Inti “Bayangan” ini membutuhkan ‘pasokan’ alel genetik dari macan tutul yang mukim di KK Jawa ‘daratan’, supaya tidak terjadi erosi genetik. Bahkan memungkinkan juga untuk menjadikan KNK Zona Inti “Bayangan” ini sebagai KAWASAN KONSERVASI KHUSUS MACAN TUTUL, sebagaimana halnya dengan TN Ujung Kulon untuk Badak jawa, TN Meru Betiri untuk Harimau jawa dan TN Baluran untuk Banteng jawa.

 

Langkah Kedepan

Berdasarkan gambaran yang telah diuraikan diatas, maka PKJ menggagas Program Kampanye: 2013”TAHUN PERLINDUNGAN MACAN TUTUL JAWA” di KAWASAN NON KONSERVASI.

Diharapkan dari kampanye ini akan ‘merangsang’ mahasiswa dari prodi konservasi melakukan penelitian skripsinya di 3 Zona Pemintakatan KNK yang tersebar di pelosok Jawa, sehingga selain terkumpulkannya data terbaru tentang macan tutul, juga bisa meluluskan mahasiswa menjadi sarjana. Selain itu juga diharapkan agar pihak pemangku KNK, pihak pengelola spesies dilindungi dan masyarakat tergerak hatinya untuk lebih peduli terhadap spesies “kritis” ini.

Cirebon, 5 Januari 2013.

Didik Raharyono, S.Si.

Direktur Peduli Karnivor Jawa

05
Agu
11

JAVAN TIGER: The opportunistic Carnivores ‘macroscopic study on feces components’


By: didik raharyono

Once again I would like to share my experiences about the existence of javan tiger (Panthera tigris sondaica). Now days, the interesting issue is to macroscopic fecal identification, which mean how to determine by using a bare-eye without using any additional equipment –except camera an measuring tool-. My collections of Big Cat’s feces almost a hundred of samples. In the beginning, I collected every time I found feces that have a big cat’s character. Upon the time, I only taking a photograph and measurement of the sample that I found in the field. Beside that I still receiving sample and picture of feces that found by other people and nature lover’s organization from east and west Java.

There are a many things that can be discussed about this.

METHODE

At the beginning we collect all feces that found at the field. We are using a bamboo to store and preserve the sample during travelling in the forest and so the feces shape does not broke. After arrive at flying camp, we dried the feces under direct sunlight, but if we manage to get the research station/base camp, we usually use glass can with 3-4 cm of diameter (base on the feces size), and then we used bulb light to dry the feces. This process can take 2 days.

This drying process used to avoid  the destruction of the sample by insect or mushroom. From the fecal sample we can learn about many details about the owner  behavior, like what can of prey he eat, the composition, behavior, even more to detect the location  where he eat the prey.

The documentation of fecal sample can be done when the first time found in the forest or after the drying process. This matter can precise the analysis, including some subjects that used to be forgotten when we were at the field. After the documentation, we can open the feces to know the composition whether there are fragmented bone and tooth record.

THE FECAL’S BASIC STRUCTURE OF BIG CATS

For the first step, we have to know the differences between cat’s feces with snake feces or Owl’s vomit. Main character of big cat’s feces, this feces composition usually has the hair of the prey, fractured bone, and its shape like a ‘bolus’ (such as horse feces). Big Snake, python like, feces only have the hair of the prey without bones because the bones usually already digest and become like pasta. And for the big owl, the vomit‘s shape almost likes a big cat’s ‘bolus’, but the structure is compound by small animal’s head, such as rat, squirrel or bat. The pipe bone where find complete/ not fractured.

Base on my experiences, besides using the morphological character we also can use the aromatic of the feces that are specific for each species, to determine the owner.  This matter is related to the differences of the digestive enzyme.

 Sumatran Tiger Feces at Zoo.

Picture 1. The Sumatran Tiger feces, which feed with chicken, Has 4 boli. This first experience is important to know the smell of tiger’s feces. The next is diameter of the feces.

 Owl’s vomit

Picture 2. Owl’s vomit.  It looks a like with tiger’s feces. But if we take a look closer, we can see the bone that composed it still fine (inset: lower left). It is, off course, because the owl does not have teeth. Owl’s feces form like pasta.

 Bone fractures on big cat’s feces

Picture 3. Bone fractures are the main characteristic of big cat’s feces. The indication of fractured bone on feces is the principal rule to determine whether it was belong to big cats, python snake or owl (the idea is big cats usually like to chew the bone). If it is possible, we can take tooth record to know how big the tooth that use to chew the bone. Those fractured bone usually wrapped with the hair of the prey that build the feces.

Prey’s hair as big cat’s feces characteristic

Picture 4. The prey’s hair compound, it also can become the indicator of big cat’s feces.

The hair that found in the feces can indicate the owner of the feces. What  can be the indicator of Owl’s vomit that also have a hair composition, its usually only refer to rat, squirrel or bat’s hair, instead bigger animal such as deer, primates and wild boar’s hair that usually consumed by big cats.

DETERMINATION BETWEEN LEOPARD AND JAVAN TIGER’S FECES

In determining between leopard and javan tiger’s feces we used to count the diameter of the feces and look forward to the leaf composition at the last bolus.

If the feces has 4 cm or more of diameter and we do not find any of leaf composition at the last bolus, it can be claim as Javan Tiger. But if the feces diameter is about 2 – 3 cm and has leaf at the end, it can be say as leopard feces.

Beside that, in Javan tiger’s feces we usually found a nail of the prey component, which is never been found on leopard feces.

 Large diameter as Sign of Javan tiger feces.

Picture 5. Javan Tiger’s feces. Diameter 6,5 cm, containing fractured bone, wild boar’s hair, and build by 6 boli. This feces was found by the ranger of Merubetiri National Park.

 Leaf composition at the last boli as the type of Leopard’s Feces

Picture 6. Leopard’s Feces. Diameter 2 cm with bamboo leaf at the last feces. Bone fractures are the main characteristic of big cat’s feces. Some of indigenous people informed that Leopard’s feces usually contain soil/dirt.  At this picture, found black soil near the spoon. This feces was found at asphalt road side between Paltuding to Totokan, Ijen Mountain.

 THE OPPORTUNISTICAL OF JAVAN TIGER

The Carnivores are usually opportunist, which mean eat all kind prey from insect until buffalo. The opportunism of javan tiger known based from analyzing the composition of feces that found by people of Pendarung village at 2004. [Journey record of javan tiger feces: From Pendarung, feces that found from the forest was taken to Mr. Netran (CO – KAPPALA Indonesia, East Java region), then delivered to Mr. Giri (KAPPALA Jember), and then to me. I do analyze and documented deeply until found the opportunist character of this Javan tiger].

Description of the Feces: 7cm of Diameter has 5 boli, composed by wild boar, barking deer and long-tail macaque. Beside that the feces contain blackish beetle and couple of small branches and bamboo leaf which are slip in between hairs of wild boar and barking deer – this is not the feces tip.

 The Length of Javan Tiger Boli

Picture 7. The length of Javan tiger feces is about 18 cm.

 A feces that has greater than 4 cm of diameter is the characteristic of Javan Tiger.

Picture 8. The Diameter of Javan tiger feces are about 7cm.

 Wild boar’s nail on javan Tiger Feces

Picture 9. At the tip of this Javan Tiger boli found 2 nail of wild boar. If we take a look closer, we can see the detail of the feces which contained by 3 kind of prey’s hair: Wild boar (black and numbed); barking deer (brownish) and long tail macaque’s hair (grayish hair and soft).

 Prey’s foot-nail  as Javan tiger’s feces characteristic

Picture 10. Barking deer’s nail was also found on feces

 Macaque’s nail found on feces

Picture 11. The tip of macaque’s nail. As a fact, beside macaque’s hair, macaque’s nail also found in Javan Tiger’s feces.

 Beetle’s head: Black beetle on Javan Tiger’s feces.

Picture 12.  The fragment of black-beetle also found on javan tiger feces at the same boli.

Serial picture above clearly describe the opportunistic character of javan tiger in his hunt for food. From feces we can discover much information in it. The analysis upon the preys that eaten by javan tiger recorded perfectly on its boli. It means that feces can tell us about the opportunism behavior on javan tiger. The proof is much kind of species –from beetle kind until wild boar- was recorded on the feces.

There is also an interesting thing we can discover from analysis the feces which is about the location where the preys being eat. If we take a look closer in picture 7, 8, 10, 11 and 12 we can find bamboo leaf that slipped in between prey’s hair inside the feces. According to that, we can know that the prey was eaten in area which has bamboo foliage. As strengthen of the assumption, as inform by the discoverer, that feces was found and picked up beneath the forest area which have‘bamban’ vegetation (kind of ‘Maranta tree’s) and have no bamboo foliage. Therefore it was not possible if the bamboo leaf was slipped in the feces at defecation process. On the contrary, the bamboo leaf was accidentally eaten during feeding process where the leaf was stick into the prey flesh upon the dried blood. This matter was strengthening by the discovery of javan tiger feces on this august (it was dry season in Java Island).

 Dried leaf was slipped in during eating process.

Picture 13. Bamboo leafs were slipped into prey’s hairs which are composed Javan tiger feces, shown that the feeding location was beneath bamboo vegetation. This matter can be indication for us to examine area beneath bamboo vegetation which is possibly to find remnant of javan tiger feeding activity, because they usually heap their prey if not eaten entirely.

As an addition of Javan tiger characteristic on eating behavior, was found stockpile of wild boar’s skull with teeth record indication on the each side of jawbone as shown in picture 14 below.

 Teeth record on leftover bone that was eaten by javan tiger

Picture 14. The size of javan tiger molar-teeth was record clearly (shown by 3 blue arrows). The cutting of upper and lower molar javan tiger can be perfectly identify.

As the next issue we would come with endoparacite and DNA analysis from fresh speciement of javan tiger. Hope the almighty God, ALLAH, always give us strenght and convenience to carry out this life, Amen…

This writing is dedicate for:

  1. Mas Eko Teguh, Mas Giri, Cak Dainuri and Kang Lethek (for the exhortation to be acquainted with Javan tiger on 1997).
  2. Pak Ti, Pak Li, Pak Hamzah, Pak Rin, Pak Min, Pak Netran, Pak Im, Pak Udin (whom with theirs sicerity and trust teach writers directly ‘contextual leaning in the forest to know javan tiger print from 1997 until 2005).

May, 26th 2010, Secretariat PKJ

Karang Jalak Cirebon

Indonesia.

06
Okt
10

HARIMAU JAWA: INVESTIGASI, EKSISTENSI & ADVOKASINYA*


Oleh: Didik Raharyono**)

Latar Belakang Penelitian Harimau jawa
1. Klaim punah bagi harimau jawa sudah menginternasional, tetapi masyarakat tepi hutan di Jawa masih menginformasikan perjumpaan harimau loreng. Meskipun begitu belum banyak yang menjadikan informasi ini sebagai bahan kajian riset.
2. Pelaporan perihal pembantaian dan penangkapan harimau jawa masih terjadi, namun tidak ada yang tergerak untuk melakukan usaha-usaha pembelaannya.
3. Habitat terakhir harimau jawa pasca penelitian Steidensticker 1974 sebenarnya bukan hanya di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jawa Timur.
4. Perlunya kajian ilmiah guna pengakuan eksistensi, penyelamatan, perlindungan dan pelestarian harimau jawa beserta habitatnya.
5. Penyelamatan harimau jawa identik dengan penyelamatan habitat hutan yang berarti juga menyelamatkan ekosistem Pulau Jawa secara menyeluruh.
6. Kemampuan mengelola kernivor besar mencerminkan kemampuan pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan.

Sejarah Kegiatan Investigasi
Pasca klaim kepunahan harimau jawa tahun 1996, investigasi awal diinisiasi oleh KAPPALA Indonesia bekerja sama dengan FK3I Jawa Timur, PIPA Besuki dan Mitra Meru Betiri yang dikemas dalam Ekspedisi Pendidikan Lingkungan untuk Pecinta Alam: Agustus 1997 di Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur. Kegiatan ekspedisi ini diikuti oleh 21 organisasi Pecinta Alam se Jawa guna menemukan indikasi keberadaan harimau jawa berdasarkan kesaksian masyarakat tepi kawasan.

Kegiatan Investigasi Lanjutan
Atas berbagai bukti temuan indikasi keberadaan harimau jawa oleh tim PL Kapai’97, maka mengilhami kegiatan-kegiatan investigasi selanjutnya, diantaranya:

Investigasi Tahap I (Pra-PKJ)
1. Inventarisasi harimau jawa di TNMB, Nopember 1997 oleh: Balai TNMB, PIPA dan MMB.
2. Inventarisasi harimau jawa di luar kawasan TNMB, Februari 1999 oleh: BKSDA Jatim II, MMB dan FK3I Forda Besuki.
3. Ekspedisi harimau jawa di Gunung Slamet, PL-Kapai’99, April 1999 oleh Kappala Indonesia dengan 19 organisasi Pecinta Alam dan LSM Lingkungan se Jawa dan Lampung.
4. Inventarisasi habitat macan di Gunungkidul Jogjakarta, Desember 2000 oleh BKSDA DIJ, TPPFHJ-KAPPALA Indonesia dan Prasetyo.
5. Investigasi harimau jawa di Gunung Muria, 2001 oleh TPPFHJ-KAPPALA Indonesia.

Investigasi Tahap II (PKJ)
6. Investigasi harimau jawa di Gunung Merapi, 2002 oleh PKJ.
7. Investigasi harimau jawa di Garut Selatan, 2003 oleh PKJ.
8. Investigasi harimau jawa di Pegunungan Menoreh, 2003 – 2004 oleh PKJ.
9. Investigasi harimau jawa di Gunungkidul, 2004 oleh PKJ, Theo-dan teman-teman Wonosari.
10. Investigasi harimau jawa di Lereng Utara Gunung Slamet, Juli 2004 oleh PKJ.
11. Investigasi harimau jawa di Gunung Muria, 2004 oleh MRC UMK, PPS Jogja & PKJ.
12. Survey darat pemasangan Kamera Trap di TNMB, Nopember 2004 oleh Balai TNMB, KAPPALA Indonesia, PKJ dan STCP.
13. Survey awal guna pemasangan Video Traping di TNMB, Agustus 2005 oleh Zoo de Doue (Laurent Jefrion – Perancis), Balai TNMB dan PKJ.
14. Pendidikan Lingkungan untuk Pecinta Alam’05 di Gunung Ungaran, Agustus 2005, oleh KAPPALA Indonesia, PKJ dan 20 organisasi Pecinta Alam se Jawa.

Hasil Investigasi
1. Kesaksian Masyarakat Pelihat Harimau Loreng:
a. Masyarakat Jawa Tengah
b. Masyarakat Jogjakarta
c. Masyarakat Jawa Timur
d. Foto sosok harimau jawa tertembak tahun 1957 dari Jawa Timur.

2. Spesimen sisa pembantaian:
a. Sobekan Kulit Harimau jawa dari Jawa Tengah, dibunuh tahun 1995.
b. Sobekan Kulit Harimau jawa dari Jawa Tengah, dibunuh tahun 1996.
c. Gigi harimau jawa muda dari Jawa Timur, dibunuh tahun 1996.

3. Temuan bekas aktivitas:
a. Jejak: berukuran 26×28 cm ditemukan tahun 1997 dari TNMB.
b. Feses: diameter 7 cm ditemukan tahun 2004 dari TNMB.
c. Garutan: tinggi diatas 200 cm tahun 2004 dari TNMB, tahun 1999 dari Gn Raung; lebar antar kuku lebih dari 4 cm tahun 1999 dari Gn. Slamet.
d. Rambut: temuan 1997 dari TNMB; temuan 1999 dari Gn. Raung dan Gn Slamet; temuan tahun 2000 dari TN Alas Purwo: setelah diidentivikasi tahun 2001 menggunakan SEM di LIPI terbukti sebagai rambut harimau jawa. Temuan tahun 2004 dari TNMB dianalisis menggunakan mikroskup cahaya, terbukti sebagai rambut harimau jawa.

4. Informasi Penangkapan Harimau jawa:
Informasi Pasti
a. Tahun 1995, seekor harimau loreng dibunuh dari hutan jati di Blora Jawa Tengah. Kulit tubuhnya di jual untuk dibuat Rajah. (Informan)
b. Tahun 1996, seekor harimau jawa terperangkap dan dibunuh di lereng selatan Gunung Slamet Jawa Tengah. Kulit dan beberapa bagian anggota tubuhnya dibagikan ke masyarakat. (Informan).
c. Januari 1998, seekor harimau loreng berhasil dibunuh dari TNMB dijual ke Banyuwangi, seharga Rp. 7 Juta.
d. Tahun 2000, seekor harimau jawa di bantai oleh pemburu di hutan jati Blora Jawa Tengah.
Perlu Penyelidikan Lebih Mendalam
e. Tahun 2004, seekor anak harimau jawa ditangkap hidup-hidup dari (Alas Purwo/Meru Betiri/Gunung Ijen Jawa Timur?), dijual ke turis di Bali melalui pelabuhan Ketapang Banyuwangi seharga Rp 11 Juta. (Informan).
f. Seorang pemburu dari eks. Karesidenan Besuki, bersedia menangkapkan harimau loreng jawa jika diberi imbalan sebuah sepeda motor Astrea baru (sekitar Rp. 12 Juta). (Informan)
g. Seorang oknum di eks. Karesidenan Besuki, bersedia melepas opsetan harimau jawa jika di hargai dengan Rp 25 juta, tetapi mensyaratkan ada uang ada barang –karena sekaligus surat dokumentasi ‘legal-aspalnya’ disertakan. (Informan)

Eksistensi Harimau jawa
Untuk menyakinkan tentang masih eksisnya harimau jawa di Jawa, maka kita harus mengetahui karakteristik pembeda bekas aktivitas loreng dengan tutul. Sebab kedua karnivor keluarga kucing besar itu terdapat di Jawa.
1. Feses:
a. Harimau loreng jawa: diameter lebih dari 5 cm; mengandung kuku prey.
b. Macan tutul jawa: diameter 2 – 3 cm; mengandung daun tanaman.
2. Cakaran:
a. Harimau loreng jawa: jarak antar 2 kuku garutan lebih dari 4 cm.
b. Macan tutul jawa: jarak antar 2 kuku garutan kurang dari 3 cm.
3. Jejak:
a. Harimau loreng jawa: minimal berdiameter 14 cm
b. Macan tutul jawa: maksimal berdiameter 10 cm
4. Rambut:
a. Harimau loreng jawa: Medula bertipe Intermediate berpola Reguler
b. Macan tutul jawa: Medula bertipe Discontinous berpola Cresentik

Diseminasi Hasil Investigasi
1. Seminar Regional Hasil PL-Kapai’97, Mei 1998 di UBHARA Surabaya.
2. Seminar Nasional Hasil PL-Kapai’97 dan Investigasi Nopember’97, Desember 1998 di UC UGM. Dihasilkan 11 poin Rekomendasi.
3. Seminar Regional Harimau jawa di IAIN Sunan Kalijogo Jogjakarta, April 1999.
4. Diskusi pengkayaan draf buku Petunjuk Pengamatan Harimau jawa di Jakarta-Purwokerto-Jogjakarta-Jember Mei-Juni 2000 (disuport Zoo de Doue)
5. Penerbitan buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002 oleh TPPFHJ-KAPPALA Indonesia (disuport Gibbon Foundation)
6. Penulisan artikel di rubik Ilmu Pengetahuan di Harian Nasional Kompas: “In Memoriam” Penelitian Harimau Jawa di Taman Nasional Meru Betiri (Antara Kamera Trap vs Amatan Manual) oleh Didik Raharyono (PKJ) Agustus 2003.
7. OnLine-nya website : http://www.javantiger.or.id oleh PKJ, Juli 2004 – Juli 2006.
8. Bedah buku Berkawan Harimau Bersama Alam di MRC UMK, Mei 2005.

Advokasi
Usaha investigasi hingga menghasilkan data tentang eksistensi harimau jawa belumlah menjadi akhir dari perjuangan, tetapi baru menjadi pondasi dasar untuk melakukan advokasi perlindungan dan pelestarian Ekosistem Pulau Jawa. Dengan harapan wildlife dan manusia dapat harmonis berbagi ruang kehidupan di Pulau Jawa, sebab satwa-tetumbuhan-bentang alam merupakan ‘pasak bumi’ untuk menjaga kesetimbangan ekosistem dan habitat manusia.
Perlindungan dan penyelamatan serta pelestarian harimau jawa berarti juga harus melindungi dan menyelamatkan serta melestarikan semua jenis prey dan tetumbuhan sumber pakannya serta habitat di mana satwa ini terindikasikan keberadaannya. Perlindungan dan penyelamatan serta pelestarian habitat sekaligus berimplikasi terhadap pelesatarian ekosistem Pulau Jawa di mana satwa ini tinggal. Ekosistem bisa lestari jika fungsi hutan, bentang alam beserta hidupan liar di dalamnya tetap terpelihara fungsinya. Pelestarian ekosistem berarti juga melestarikan daya dukung bagi kelangsungan hidup manusia dan generasi penerusnya.
Guna kegiatan perlindungan, penyelamatan dan pelestarian ekosistem Pulau Jawa diperlukan ‘tenaga dan daya’ yang sangat besar. Oleh karena itu diperlukan adanya manajemen kolaborasi antara Pemerintah, Organisasi Politik, DPRD I/II, Ilmuwan, Perguruan Tinggi, Masyarakat, NGO, Penegak Hukum dan Pengusaha untuk bersama-sama berbagi peran sesuai dengan kapasitas masing-masing dalam usaha menjaga kelestarian ekosistem Pulau Jawa.
Disebabkan oleh paham tersebut, maka Peduli Karnivor Jawa mengambil peran sebagai pusat informasi harimau jawa, dengan pangkalan di (www.javantiger.or.id. -sampai Juli 2006)

Kendala & Permasalahan
Percepatan pembuatan konsep manajemen konservasi karnivor jawa menghadapi berbagai tantangan:
1. Jika perolehan spesimen harimau jawa secara illegal, maka bagaimana status perlindungan hukum seorang Peneliti yang membeli bukti spesimen tersebut?
2. Ada penawaran spesimen harimau jawa hidup atau mati dengan harga sangat tinggi, bagaimana hal ini diatasi?
3. Kolaborasi kepentingan antara kebutuhan Ilmu Pengetahuan – Perlindungan Hukum – Kebutuhan Ekonomi belum bisa tersinkronisasikan. Ada solusi?
4. Preservasi kawasan konservasi dan non-konservasi yang menjadi habitat harimau jawa masih lemah. Tanggungjawab perlindungan kawasan dari segala bentuk pencurian harimau jawa masih belum jelas. Lalu bagaiman kita mengambil posisi?
5. Pola manajemen kawasan yang diindikasikan ada harimau jawa ‘belum optimum’ –sementara usaha pembuktian masih menjadi penghalang. Bagaimana bentuk pertangunggugatan pemangku kawasan ber-harimau jawa, jika tidak mampu mengelola kawasannya? Misalnya masih tingginya tingkat kecurian satwa.
6. Bagaimana membina ‘hubungan kemitraan’ dengan pihak-pihak yang masih membunuh harimau jawa sampai dengan tahun 2000?
7. Bagaimana peran kita sebagai kelompok peduli WILDLIFE di Jawa, untuk MERAPATKAN BARISAN atas kondisi riil diatas?

*) Disampaikan dalam Acara Diskusi Bulanan Wildlife Conservation Forum di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM, Jogjakarta, 6 September 2005.
**) Wildlife Biologist. Alumni Fak. Biologi UGM 1998. Koordinator Inovasi Konservasi di PPS Jogjakarta. Koordinator PKJ. Saat ini menyiapkan Konsep Manajemen Konservasi Karnivor Jawa.

29
Jul
10

Serangan Budayakonservasi Harimau jawa di P. Jawa


Lewat diskusi ‘khusus’ dengan seorang pinisepuh digelapnya malam pantai jiwa, terudarlah sedikit uraian tentang Rampokan Macan.

Orang jawa itu memang mempunyai prinsip Mikul duwur Mendhem jero. Bahkan di kebudayaan Cirebon juga ada satu sekola: Aja mbukak rusia orang lain. Artinya banyak kejadian yang terlihat sebagai aib, yang kalau dilakukan oleh orang lain apalagi para Priyagung maka dalam pencatatan sejarahnya harus dibahasa-sandikan secara sanepan, kamuflase –sebagai sebuah penghormatan : sebab papak ora padha (mengandung pengertian mendalam perihal diversitas). Esensi isi-nya tetap (jadi tidak berbohong) tetapi tampilan dan kemasan-nya saja yang berbeda. Seperti ilmu bungklon: dia tetap bungklon (esensinya) walau terlihat hijau di dedaunan, terlihat coklat saat di batang dan terlihat abu-abu saat di tanah (tampilan kasat-nya). Hanya yang tak mempunyai penglihatan tajam dan terlatih maka akan sulit untuk mengetahui keberadaan bungklon tersebut di daun ataupun batang (butuh ‘pengetahuan’), bahkan ada yang menggunakan kejadian itu sebagai sanepan untuk sikap mencla-mencle, padahal tepatnya adalah sebuah strategi bagi bunglon agar selamat dari predatornya.

Sebagai misal Ken Arok: dalam beberapa folklor diceritakan sebagai ‘anak petir’ yang diketemukan di galengan sawah oleh pasangan suami istri di suatu desa. Padahal jika dibaca dengan pandangan ‘cebolek’ arti sewajarnya itu adalah suatu upaya mendem jero silsilah sang Raja, sang Pemimpin. Sehingga para pengkaji kenyataanlah yang mampu membacanya. Diucapkanlah: Anak Petir itu sebenarnya adalah anak yang dibuang ke tepi sawah, tidak jelas bapa-biyung-e?

Tapi sebagai jabang bayi dia tetap harus sebagai manusia. Manusia yang terlahir tanpa pernah memilih siapa yang harus melahirkannya dan tanpa pandang bagaimana kehalalan hubungan lelaki perempuan yang menyebabkan ‘terbentuknya’ jabang bayi itu. Sehingga dipandang oleh orang Jawadwipa dia sebagai manusia yang seutuhnya. Makanya disebutlah dengan istilah sebagai Anak Petir. Dimana Petir itu membawa harapan dan ancaman. Sebagai harapan petir itu pertanda akan hujan yang ditunggu petani jawa untuk memulai bertanam sumber pangan (bagi Ken Dedes). Petir sebagai ancaman kalau kita tersambar olehnya, atau hujan -yang setelah suara gludhug membahana, runtuh sangat deras dan menjadikan banjir bandang (bagi Tunggul Ametung). Semua itu dipahami dan dititeni manusia jawa. Lalu disampaikanlah pengetahuan itu turun temurun dengan metode folklor.

Pengantar di atas merupakan sedikit ilustrasi untuk menjelaskan tentang adanya budaya gropyokan macan di kalangan Raja Jawa. Masyarakat pedalaman (tepi hutan) mempunyai paham keyakinan bahwa harimau jawa merupakan saudara – sahabat – sanak mereka, bahkan ada yang menghormatinya sebagai ‘kyaine’. Hal itu merupakan ungkapan pengetahuan yang telah terakumilasi dari hubungan manusia-harimau lintas generasi dan akhirnya menjadi kebudayaan komunitas tersebut . Sekali lagi tersampaikan dengan metode folklor contextual learning.

Akan tetapi kalangan kerajaan telah terpengaruh oleh budaya kebo bule. Imbas itu menjadikan harimau layak ditangkap dan layak dibunuh (perusakan akar budaya); oleh Wessing (1995) dianggap sebagai ‘ambiguitas javanese’ dalam memandang harimau jawa. Dimana kekuatan yang dimiliki harimau (dianggap jahat) dan layak ditandingkan dengan kekuatan manusia. Duel secara langsung. Face to face. Hal ini dikandung maksud agar Raja tahu, siapa pengawalnya, siapa Senopatinya dan sejauh mana kekuatan Senopati itu. Karena jawa masih banyak harimau –kala itu, maka dia harus terbukti mampu mengalahkannya jika berhadapan atau berpapasan saat diutus melurug memerangi kerajaan lain. Tapi apa ya begitu? Ternyata jawabnya tidak. Perkelahian dengan harimau tanpa sebab yang jelas merupakan sebuah perilaku ‘aib’ menurut pandangan penduduk lokal tepi hutan. Sebab dalam kesatuan tentara kerajaan ternyata terdapat beberapa orang prajurit, bahkan sang senopati sendiri yang memiliki kemampuan aji panyirep, sehingga ‘kutu-kutu, walang sampai atogo’ tertidurkan saat tentara melintas. Hal yang tak pernah di ketahui oleh dunia, sebab ilmu tersebut sangat sinengker, disembunyikan dengan rapat, hanya kalangan batih tertentu yang boleh mendengar informasi perihal data ini dan boleh mengusai pengetahuan tersebut. Dan ‘screening’ bathin digunakan mengetahui: jiwa mengendhap dan bukan jiwa bergolak –yang boleh memegangnya. Demi sebuah keharmonisan tatanan komunitas alam, yang sangat dipegang teguh oleh budaya Jawa: menang tanpa ngasorake “win-win solution”.

Pertarungan dengan harimau dalam suatu gropokan lebih diakibatkan karena pengaruh desakan dari kebo-bule. Inspirasi yang diberikan kepada Raja yang merasa dibantu oleh kebo-bule. Akibat desakan tersebut, maka para pawang harimau mengambil inisiatif lain. Inovasi ramah budaya hasil negosiasi dengan Ki Dadhung Awuk -si penggembala satwa liar di hutan Jawa. Mengingat perintah Raja adalah sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan, walaupun dianggap ‘aib’ –karena menciderai budaya lokal si pawang. Makanya si Pawang yang biasanya adalah penduduk pedalaman dan jelas memiliki hubungan ‘emosi’ dengan harimau, saat dipaksa untuk melawan pengetahuan lokal warisan leluhurnya, mereka memeras otaknya guna meng-inovasi keterpaksaan yang harus dihadapinya.

Pinisepuh sepejagongan denganku menerangkan: untuk itu maka dicarilah Syarat siapa harimau jawa yang ‘boleh’ ditangkap. Tentunya setelah bernegosiasi dengan Ki Dadhung Awuk. Akhirnya pilihan dijatuhkan kepada: harimau, terutama yang memiliki sifat ganas (punya potensi membunuh orang), urakan (sulit dikendalikan egonya), dan ke-‘bandit-an’ harimau itu (karakter khusus yang paling dicari sebagai kemutlakan pilihan untuk ditangkap guna diadu). Beliau menjelaskan kriteria itu dengan seksama. Maka sebenarnya ‘pagelaran’ gropyokan itu tidak saban tahun diadakan. Tergantung apakah si-pawang telah berhasil menemukan sosok harimau jawa yang mempunyai kriteria ‘wateg’ sebagai harimau ‘bandit’ atau ‘gali’ tersebut.

Beliau menguraikan lagi bahwa harimau jawa yang mempunyai criteria ‘bandit’ itu mempunyai ciri-ciri: macan boro / macan lancong (pengembara, berarti tidak mempunyai home ring menetap), wajahnya merekam banyak goresan hasil luka bekas pertarungannya dengan harimau lain, berarti harus gembong (pejantan tangguh) –ingat didunia felids terdapat ‘dimorfisme sex’ artinya jenis yang jantan mempunyai perbedaan morfologi (biasanya tubuhnya lebih besar dan mempunyai surai dibawah dagu lebih lebat) dibandingkan dari jenis yang betina. Selain itu untuk mengetahui posisi harimau ‘bandit’ ini sekali lagi harus ditanyakan dulu kepada Ki Dadhung Awuk. Makanya kapan harimau ‘bandit’ ini melintas di hutan terdekat dapat terprediksikan secara akurat. Wosnya : tidak ada kamusnya untuk menangkap harimau jawa betina guna di adu dalam gropokan-macan.

Gendham yang digunakan si pawang, mampu membius satwa menjadi tetap nyenyak saat di‘ungsi’kan dari pedalaman hutan. Konon “ilmu bius lokal” alias gendham penyirepan itu mampu untuk menidurkan orang se-keraton (dalam babad Pati disebutkan saat ki Sondong Majeruk menggunakan ‘bius lokal’ ini guna mencuri Kuluk Kanigoro milik Sukmayana: begini ujarannya= “Pangkur:(203)Sondong Majeruk tumuli, ambukak kandhutanira, siti saking jaratane, kinarya panyirep janma, lamun mandung mangkana, siti binalangken sampun, kumreteg lir pindha jawah……(206)Ana dongeng na ngrerepi, ana kang luru tegesan, cangkemku pait rasane, grayangan antuk tegesan, sigra ingakep enggal, anyingkrang anggene lungguh, dereng telas nuli nendra. (207) Kang ngrerepi saya lirih, gloyam-glayem nuli nendra, kang ndongeng meneng swarane, kang kemit tilem sedaya, warnanen jroning puro, para nyai pating prengut, ceklak-cekluk nuli nendra. (208) Sukmayana lan kang rayi, nendra aneng jroning tilem, langkung eca genya sare, kadya mina yen tinuba, sagunge para janma, rahaden Sondong Majeruk, pancen sekti mandraguno…” by: Ki Warsito, 1932, not publicated). Begitulah analog gambaran tentang ‘pembiusan’ harimau jawa oleh para pawang jawa. Meskipun banyak metode dan macamnya bagaimana penyirepan itu dilakukan, yang jelas tak sebanding dengan penggunaan anestesia di dunia kedokteran hewan sekarang, semisal: TelazolÒ (tiletamine hydrochloride), atau KetasetÒ (ketamine hydrochloride) dan RompunÒ (xyzaline hydrochloride) dimana pada prakteknya harus memperhatikan dosis seberapa banyak (dalam cc) yang harus ditembakkan per perkiraan berat badan satwa target. Untuk menembak sasaran harus mendekati obyek target satu-persatu, lalu setelah itu juga harus memakai ‘antisedan’ sebagai obat penawarnya semisal AtipamezoleÒ. Lha kalau ‘bius local-milik javanese’ itu setelah mantra pemudar diucapkan, maka se-kadhipaten akan bangun seketika: Ramah Lingkungan dan Tanpa Efek Samping, serta tak perlu memperhatikan ‘dosis’ yang harus diberikan.

Akan tetapi jika harimau itu masih terlalu muda dan belum mencapai umur dewasa-kuat, maka biasanya tidak boleh ditangkap dulu oleh Ki Dadhung Awuk. Kenapa begitu? Dijelaskan pinisepuh itu, bahwa kalau harimau telah mencapai dewasa kuat berarti dia telah berhasil mengawini beberapa betina dan kemungkinan telah memiliki anak sekitar 5-7 ekor dari berbagai betina dari kawasan yang jauh berbeda pula. Dari anakan itu diperkirakan ada 3-4 ekor (50%) pejantan yang berarti cukup untuk sifat ‘banditnya’ terturunkan –sebanding dengan pengetahuan genetika modern. Bukankah ini menunjukkan adanya sebuah metode “pemanenan” ramah lingkungan demi kelestarian satwa? (walaupun hanya untuk melihat dari sebuah unsur “bandit” dari banyak sifat-sifat yang dimiliki oleh seekor harimau, namun kelestariannya tetap dijaga oleh para pawang. Sejauh itukah dunia konservasi harimau sekarang –yang diklaim sebagai peradaban modern?) Model-model local wisdom seperti inilah yang penulis kais-kais dari javanese folklor agar kita tetap “NGEH” dalam konservasi hidupan liar berazaskan kebudayaan lokal, kebetulan dalam harimau jawa ini di kebudayaan jawa yang ada di pulau Jawa. Kebetulan juga P. Jawa : mempunyai suku Sunda, Badui, Jawa, Tengger, Osing, bahkan Madura pendatang.

Tetapi jika Raja memaksa penangkapan harimau, maka si pawang akan melakukan negosiasi dengan Ki Dadhung Awuk (azas musyawarah mufakat tetap dilakukan, walau antar manusia dengan Ki Dadhung Awuk-yang mungkin dari dunia ‘lain’. Bukan menggunakan voting yang sekarang dianggap sebagai demoktaris ……). Dan biasanya pejantan tua sesaat setelah pensiun dari menjadi ‘pejantan alpha’ itulah yang diijinkan diambil. Jadi tidak sembarangan tangkap. Begitulah prilaku penduduk pedalaman yang menjadi pawang harimau. (artinya: pengamatan perilaku-ethologi benar-benar dikuasai oleh si pawang, sebab bagaimana bisa mendapatkan posisi keberadaan ‘pensiunan’ pejantan alpha kalau tidak menguasai benar akan komposisi demografi populasi harimau jawa kala itu. Ditambahkan pula pensiunan pejantan alpha ini memiliki tingkat emosi yang ganas, sebab dia baru ‘stres’ karena kekuasaannya direbut, dan frustasi karena tidak mungkin mengawini betina lainnya lagi. Harimau memang sportif, dia harus pergi mengembara –karena telah dikalahkan oleh pejanan muda baru. Nah mungkin emosi ganas ini akan dapat di’curah’kan saat beradu perkelalian dengan manusia jika arena rampokan digelar. Di alam liar dia juga akan mati dan di rampokan dia juga akan mati, tapi mati di rampokan telah melegakan luapan emosinya, di bandingkan mati di alam yang harus morag dengan memilih lokasi yang sulit diketahui manusia –meski kadang posisinya diketahui pawang guna diambil bagian-bagian tubuhnya untuk di-syarati oleh dukun menjadi jimat bagi para manusia gali.)

Seiring perjalanan waktu, kebo-bule telah menginfasi banyak dataran rendah untuk perkebunan, perladangan dan perkampungan. Akibatnya konflik dengan harimau jawa menjadi sebuah perang terbuka. Ditambah iming-iming uang untuk membunuh harimau, maka terjadilah dis-harmoni kepada dua penghuni jawa. Diadu domba. Konsep sanak telah mulai diserang dengan iming-iming uang. Akibatnya manusia ‘brandal’ terprovokasi untuk membunuh harimau jawa. Bahkan perburuan harimau menjadi lahan pekerjaan baru yang banyak menghasilkan uang –sejatinya demi keuntungan perkebunan kebo bule. Dan mereka malah terkadang mendatangkan pemburu harimau dari golongannya.

Sunan Kalijaga bahkan mengajarkan ulang konsep paseduluran ekologis manusia-harimau khususnya atau satwa liar umumnya dengan cerita dalam wayang jawa sebagai “Babad Alas Amerta”. Ketika Pendawa kalah main dadu dengan Kurawa maka ia di usir ke hutan. Di hutan tersebut, Werkudara melakukan pembabatan hutan tanpa ampun. Akibatnya para sato kewan pada protes. Terjadilah perang antara Pendawa dengan sato kewan alas. Saking serunya pertempuran maka tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Maka diundanglah ki Semar (sebagai representatif kearifan lokal jawa) guna menengahi pertempuran itu. Maka terjadilah kesepakatan tata batas dan tata ruang yang adil antara wilayah satokewan dengan wilayah manusia. Dan barang siapa yang melanggar, maka wajib dikenakan candikolo.

Inspisari kreasi Sunan Kalijaga itupun dicukil oleh Ki Ranggawarsita menjadi sebuah cerita tentang perkelahian manusia dengan raja gajah putih di daerah Herbangi (baca: Berkaca di cermin Retak, Wiratno et.al 2002). Konsep yang juga menjelaskan tentang makna untuk adanya kesadaran berbagi ruang kehidupan antara manusia dengan satwa liar. (Embah Ronggowarsito mengambil konflik manusia dengan gajah). Pada akhirnya juga terjadi kesepakatan untuk membagi kawasan yang menjadi milik manusia dan kawasan yang menjadi hunian sato kewan. Bukan membunuh semua gajah yang nota bene adalah hewan (konsep harmonis hidup).

Dua orang Genius Lokal tersebut ajarannya bersumber dari kearifan lokal jawa, sekarang cenderung pudar hilang tanpa diresapi inti sari pelajarannya. Dimana manusia dan hewan merupakan sama-sama makluk ciptaan Tuhan. Jadi harus saling menghormati dan harus saling menjaga. Melanggar hak antar anggota penghuni bumi ini jelas merupakan sebagai pelanggaran kosmos (pandangan kebudayaan transendent). Akibatnya tidak heran jika banjir dan longsor (sebagai candikolo) melanda Jawadwipa. Hal itu sebagai repesentatif atas mulai longsor dan erosinya budayakonservasi orang-orang penghuni Jawa untuk hanya sekedar mendapatkan uang.

Sebagai mana dengan kawasan suaka-marga satwa Meru Betiri yang oleh Steidensticker & Suyono (1976) di usulkan sebagai kawasan bagi kehidupan harimau jawa. Namun pemerintah Indonesia yang akan melakukan perlindungan harimau diserang dengan pernyataan ‘manusia kok dikalahkan dengan 3 ekor harimau jawa’. Sebab di Meru Betiri itu kawasan ideal harimau jawa telah diubah ‘dulunya’ oleh kebo bule menjadi perkebunan Bande alit dan Sukamade yang ‘dianggap’ menghidupi para pekerjanya. Setelah nasionalisasi maka banyak pekerja kontrak perkebunan kopi dan karet didalamnya, sejalan dengan pertambahan waktu maka jadi berkembang jumlahnya seiring dengan laju demografi manusia (meski tidak semua manusia penghuni perkebunan tersebut menjadi tenaga kerja). Bahkan tahun 1997 dua perkebunan tersebut telah diubah statusnya menjadi Zona Peyangga, walaupun posisi wilayahnya berada di dalam kawasan Taman Nasional.

Para pemimpinnya bahkan sampai sekarangpun tak kuasa melakukan rekonsiliansi penetapan tata ruang yang mendukung hak hidup bagi satwa-satwa penghuni Jawa. Yang secara transendental dijelaskan oleh Sunan Kalijaga seperti pertumbuhan tumbuhnya Tepus. (Sunan Kalijaga ternyata merupakan sebagai pengamat hidupan liar) Tepus merupakan tumbuhan hutan yang termasuk golongan suku Zingiberaceae. Sistem hidupnya mempunyai rimpang yang menjulur di dalam tanah. Kenyataan tersebut dipinjam oleh sunan Kalijaga untuk menjadi perlambang atau sanepan: bahwa segala yang hidup mempunyai akar asal-usul (rimpang) yang sama. Yaitu kehidupan dari Yang Maha Kuasa ya Gusti Sing Akaryo Jagat. Yang dijelaskan lagi dengan kalimat pengikutnya: Gusti Kang Ora Keno Kinoyongopo.

Budayakonservasi Jawa, ternyata mempunyai akar transendental. Kepahaman melindungi habitat sato kewan merupakan perjuangan pengabdian kepada Gusti Sing Akaryo Jagat iyo Gusti Kang Ora Keno Kinoyongopo. Maka tidak heran jika selama melakukan pengembaraannya Sunan Kalijaga meninggalkan tetenger berupa pohon beringin yang biasanya akan ada sendang di bawahnya. Artinya keberadaan tumbuhan (dalam hal ini beringin) merupakan hal yang dapat menimbulkan air (dimana pada kenyataan ada sendang di bawah beringin: jangan hanya faktor kasat mata yang diamati, tapi faktor yang tersirat diperilaku itu yang sebenarnya harus digali para budayawan untuk selanjutnya digiyawarakake marang kadang jawa, ben dileluri marang anak putu. Perilaku-ucapan para leluhur jawa sebenarnya merupakan buku pustaka –contectual learning . Hanya saja perilaku dan ucapan itu terkadang dimaknai sebagai gugon tuhon dan nilai-nilai magis saja – yang hemat penulis pandangan sebagai magis dan gugon tuhon itu sengaja diwacanakan oleh kebo bule, agar kita tercabut dari akar pengetahuan lokal yang super genius dalam memahami ekosistem jawa, sehingga lalu berhenti dari menggali-gali makna yang tersirat dengan pikiran logis yang kita miliki. Ha… monggo kerso…). Nah… mampu tidak kita sebagai generasi penerus yang hidup di Jawa MEMBACA pelajaran para leluhur dahulu. Jangan hanya karena pohon besar penghasil air sendang itu di datangi para penepi untuk meminta wangsit…. lalu dengan semena-mena ditebang habis. Agar manusia tidak syirik… kata sebagian orang. Seperti di Trenggalek dulu. Pohon kepuh besar di makam yang diklaim keramat sering di datangi para pencari nomor (SDSB) jaman itu… langsung ditebang oleh beberapa pemuda golongan tertentu. Mengabaikan kenyataan bahwa pohon kepuh besar itu juga menjadi sarang kalong. Akibatnya kalong pun musnah, entah kemana tidurnya….. Pada hal Nabi Muhammad SAW, pernah berpesan: tidaklah pohon yang kau tanam itu dimakan manusia dan binatang, kecuali menjadi shodaqoh bagimu

“Dan barusan saya mendapat kabar dari Jabar, ada sebuah ‘dhanyangan’ dengan kerimbunan pepohonan besar dan mbregat serta singup dan suker – dibabat habis biar ‘padhang’ dan resik. Akibatnya: hama tikus merajalela, wereng mengganas dan banyak penyakit tersebar di kalanan masyarakat. Pikiran logis penulis: sewaktu ‘danyangan’ itu rungkut, maka ular predator tikus bersembunyi aman di sini, tumbuhan mbregat dengan serasah yang suker merupakan tempat nyaman bagi serangga yang kemudian menjadi wereng padi karena ‘rumah’ idealnya di’gusur’. Kesadaran leluhur dulu memberikan semacam lokasi bagi persembunyian satwa liar, digerus dengan pandangan baru yang ‘salah kaprah’ dimana suker dianggap jelek dan bersih dianggap baik. Pada kenyataannya tak digunakan sudut pandang lain, bahwa suker itu sebagai konsep toleran untuk memberikan ruang bagi kehidupan lain selain manusia. Ini sebagai gagasan penulis……”

Oleh karena itu, untuk mengatasi gempuran terhadap budayakonservasi jawa, kita harus meluaskan pengetahuan, membaca ulang catatan sejarah hasil pemikiran leluhur jawa terhadap kehidupan harmonis antar penghuni Jawadwipa. Sekali lagi kita harus cerdik dalam membacanya. Tidak sebatas manusia, hewan, bahkan dengan kehidupan yang paralel dengan ruang kehidupan manusia, bak layer-layer di tampilan Adobe Photoshop atau program GIS, manusia jawa dahulu telah membangun sinergitas yang akur –konsep harmonis.

Bahkan ada sebuah pengetahuan folklor yang penulis jumpai di Jabar bahwa manusia itu bisa tidak makan selama seratus hari atau pun setahun. Meski harus minum, dan hanya minum saja (kemarin baca di yahoo: seorang yogi di India bisa sampai 70 tahun lebih berpuasa tidak makan). Artinya kita manusia itu tidak boleh serakah bahkan sampai buas, melebihi buasnya binatang buas. Buasnya harimau hanya untuk menangkap mangsanya saat lapar. Guna mempertahankan hidup. Dimana sekali makan cukup untuk satu minggu. Maka tidak ada harimau yang ketika kenyang membunuh satwa mangsanya. Oleh orang jawa itu terekam dalam pernyataan: “Mlakune koyo macan luwe”. Gemulai dan luwes, indah dan cantik tapi tetap dianggap kuat wibawanya. Pernyataan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi nyata : contextual learning antar generasi manusia jawa dengan harimau jawa. Yakni manusia jawa telah mampu membuat kesimpulan bahwa harimau loreng itu lebih banyak laparnya dari pada kenyangnya, sebab mlakune macan luwe dilihat indah untuk ‘penyepadanan’ wanita yang jalannya indah gemulai. Klenggat-klenggot ning jejering jumangkah dlamakanne tetep mantheng segaris –koyok macan luwe yen mlaku, ora mekeh-mekeh koyok kethek yen mlayu ning lemah.

Ing telenge latri gumuk pasir kajiwan.
Maos serat saking saklebeting GEN.
“Jaka Alas” didik raharyono.

15
Jun
10

PL KAPAI 1997: PENDIDIKAN KONSERVASI MENCARI “MACAN”


Sumber Kliping: PANCAROBA, No 13 musim tanam Okt- Des 1997

PL KAPAI 1997: PENDIDIKAN KONSERVASI MENCARI “MACAN”

Oleh: WG Prasetyo

Permasalahan lingkungan terus berkembang menyertai proses pembangunan. Permasalahan tersebut banyak menimbulkan benturan kepentingan antara pelaku pembangunan dengan masyarakat. Akibat langsung dari berkembangnya permasalahan ini sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di dekat proyek pembangunan. Sementara, akses masyarakat terhadap informasi lingkungan, keberanian menyampaikan pendapat, masih lemah. Bahkan kesadaran akan permasalah lingkungan cenderung belum dimiliki, sehingga langkah-langkah pengamanan dar perlindungan lingkungan cenderung masih lemah.

Di sisi lain, Pencinta Alam merupakan sekelompok masyarakat yang memiliki jiwa cinta pada alam dan lingkungan. Jiwa cinta pada alam dikenal dengan diekspresikannya dalam wujud melakuan kegiatan olah raga alam bebas, petualangan dan bakti masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Mereka dapat dikembangkan sebagai kelompok pengamat lingkungan yang handal sekaligus sebagai pendamping masyarakat dalam melakukan pengelolaan lingkungan.

Berangkat dari pemikiran tersebut “Pendidikan lingkungan Untuk Kelompok Pencinta Alam 1997 (PL-KAPAI 1997) diharapkan menambah kemampuan Pencinta Alam dalam “membaca” permasalahan lingkungan melalui sikap, mental, dan perilaku yang lebih peduli pada lingkungan dan masyarakat. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah untuk diterapkan setiap kegiatan petualangannya. Lebih lanjut bahkan memunculkan kader pengamat dan pengelola lingkungan dan kalangan Pencinta Alam, yang sekaligus dapat menjadi pendamping dan pemberi motivasi masyarakat.

Menyelesaikan masalah

Kappala Indonesia, lembaga yang rutin melaksanakan kegiatan pendidikan lingkungan ini

Berpendapat : kurikulum pendidikan lingkungan harus luwes untuk diterapkan memecahkan masalah yang berkembang di lapangan. Oleh karenanya PL-KAPAI 1997, seperti juga sebelumnya, mengangkat topik, permasalahan saat hangat saat sekarang. Saat ini diangkat kasus sumberdaya TN Merubetiri yang terancam eksistensinya oleh tren tambang emas. Ada dua misi dalam materi lapang tersebut. Pertama, bersama-sama menggali dan menuai pengetahuan. Kedua, mencari data kunci sebagai upaya mempertahankan eksistensi taman nasional itu. Mengapa?

Beberapa lembaga konservasi merasa pesimis tentang keberadaan Harimau Jawa. Bahkan boleh dikata, banyak yang meyakini, Harimau jawa telah punah. Benarkah demikian? Jika masih banyak cara yang dapat dilakukan, mengapa mesti patah arang? Dengan dianggap punahnya Harimau jawa tersebut, permasalahan menjadi meluas. Antara lain adanya upaya pengalihan fungsi Taman Naional Merubetiri menjadi kawasan pertambangan. Hal ini telah, dimulai dengan dikeluarkannya Ijin Eksplorasi seluas lebih dari satu juta hektar, untuk PT Hatman dan PT Timah oleh Departemen Pertambangan dan Energi. Salah satu hal yang memungkinkan dapat membatalkan pengalihan fungsi tersebut adalah keberadaan Harimau Jawa. Jika Harimau Jawa itu masih ada, pengalihan TNMB menjadi kawasan pertambangan akan menjadi permasalahan dunia yang krusial.

Oleh karena itu dalam PL-KAPAI 1997, sebagai kegiatan Pendidikan Konservasi Alam (PKA) yang didukung Dana Mitra Lingkungan, ditekankan pada konservasi taman nasional. Penajaman dikhususkan tentang pendataan Harimau Jawa dan sumber daya alam TNMB. Ini merupakan alternatif terbaik untuk menyelamatkan taman nasional. Keberlanjutan program dilakukan dalam bentuk ekspedisi lanjutan ekspedisi detil pendataan Harimau jawa dan satwa langka lainnya, serta pengembangan masyarakat tepi kawasan taman nasional. Kegiatan lanjutan juga telah dilaksanakan. Akhir bulan September ini, bekerjasama dengan Sub BKSDA Jatim II dilakukan Ekspedisi Elang Jawa.

Kegiatan Rombongan

PL-KAPAI 1997 adalah pekerjaan rombongan. Materi ruang dilaksanakan selama lima hari di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Universitas Surabaya (UBAYA) dan Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ). Enambelas materi disajikan oleh berbagai lembaga dan unsur terkait. Penyaji-penyaji itu antara lain ET Paripurno, Wahyu Giri Pasetyo, Siti Maimunah, dan Achmad Daenuri dari ” Tuan rumah” KAPPALA Indonesia; Herwono dari Kebun Binatang Surabaya, Andi H SH dari LBH Surabaya, Cahyo LM dari MAPALAS UNITOMO Surabaya, Drs. Agus Lutfi Msi dari PSDALH UNEJ Jember; Ir. Indra Arinal dari (kepala) Sub BKSDA Jatim II, Sugiyono dari Bappeda Tk II Jember, serta Netran masyarakat lokal (desa penyangga TN Merubetiri). Diharapkan dengan melibatkan unsur-unsur yang terkait erat dengan permasalahan tersebut lebih memperjelas permasalahan vang akan dihadapi.

Pelaksanaan lapang dilaksanakan di TNMB dengan dikoordinasikan oleh Mitra Merubetiri. Peserta di bagi menjadi 8 kelompok dengan 8 sasaran penelitian di kawasan TN Merubetiri. Kelopok I dengan sasaran Nanggelan – Sukamade terdiri dari Reno Widanarti (MAPAGAMA UGM Yogyakarta), Adhi Widyatama (MAPAUS UBAYA Surabaya), Didik Setiawan (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ Jember), Heri Wahyudi (NIKKAPALA Poltek Kapal ITS Surabaya), serta Pak Suratman (Desa Andongrejo Tempurejo Jember) sebagai narasumber lokal dan pemandu kawasan.

Kelompok II dengan sasaran pengamatan Mandilis – Mandilis terdiri dari Abrar (MATALABIOGAMA Fak Biologi UGM Yogyakarta), Ahmad Rofieq (MAPALASKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Wardiman (CICERA Univ. Pancasila Jakarta), Wahyu Giri Prasetyo (KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Pak Netran (Desa Sanenrejo, Tempurejo Jember) sebagai pemandu kawasan.

Kelompok III terdiri dari Djuni Pristianto (MAPAGAMA UGM Yogyakarta), Sofyan (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ Jember), Ahmad Tirto Sudiro (GPA AESTHETICA ISTN Jakarta), Satrio Hariyanto (IMAPALA. STIA Mandala jember) dengan kawasan jelajah Sukamade Mulyorejo.

Palempat – Sarongan merupakan kawasan jelajah kelompok IV dengan tim terdiri : Didik Raharyono (MATALA BIOGAMA Fak. Biologi UGM Yogyakarta), Ibnu Sutowo (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ Jember KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Nurkholis Yusuf (GEMPALA Pekalongan), Nova Liliyana (CICERA Univ. Pancasila Jakarta).

Kelompok V dengan daerah Sarongan – Suberjambe terdiri dari Muhammad Toha (GEMAPITA FIKIP UNEJ Jember KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Mat Saroni (MAHAPENA Fak. Ekonomi UNEJ Jember), Kiki Pribadi (MAPALASKA Univ. Singaperbangsa Karawang), Adi Mulyono Ifnesius Silalahi (GPA AESTHETICA ISTN Jakarta). Bung Tronjol (Desa Sarongan, Pesanggrahan, Jember) sebagai pemandu kawasan.

Kelompok VI yang terdiri dari Alpha Nugroho (MAPENSA Fak. Pertanian UNEJ jember), Widjan Afifi (GPA AESTHETICA ISTN jakarta). Hesto Wahyudi (ASTACA STT Telkom Bandung), Dedi Sugiantoro (SAR Stiper Jember) menyusur kawasan Sarongan-Sukamade.

Kelompok VII menyusur kawasan Raung Selatan terdiri dari Ahmad Daenuri (ALFASAPA 200 – KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Heru Santosa Setiabudi (KAPPALA Indonesia Sekretariat Yogyakarta), Zulkarnaen (KIH regional 11 Semarang), Pak Newar dan Dulmiun (Ds. Pogung, Krikilan, Jember) sebagai pemandu kawasan.

Kelompok VIII sebagai Pusat Komunikasi berlokasi di gunung Betiri terdiri dari Siti Maemunah (FK31 Jember – KAPPALA Indonesia Sekretariat Jember), Susilowati (MAPAUS UBAYA Surabaya), Muhammad Suhadak (SWAPENKA Fak. Sastra UNEJ Jember), Teguh Winardhi (ARRPALA Jember), Sudibyo (IMPA AKASIA FH UNEE – Jember – FK31 Jatim).

Temuan

Dari hasil pengamatan 8 tim menyisir kawasan TNMB beberapa kekayaan Merubetiri baik flora maupun fauna dapat diinventarisasikan. Fauna temuan langsung seperti babi hutan, biawak, Banteng, Kelelawar besar, Kijang, Tupai, Jelarang, Kera ekor panjang, Lutung, Lingsang, Bintarong, Macan Kumbang, Trenggiling, Kucing hutan, Kupu-kupu banyak jenis dan berareka warna, capung banyak jenis dan beraneka ragam. Burung yang dapat terlihat antara lain Gemek, Alap- alap, Julang, Kutilang Emas,Elang laut, Alap-alap, Elang Ular, Elang Hitam, Elang Jawa, Bentit, Gesit, Pelatuk, Punglor, Kikuk, Glimukan. Rangkong gugusan, Rangkong Jongrang, Platuk Bawang, Platuk Hitam Putih, Srgunting Bendera, Beo, Gagak, Lin Aya hutan, Merak Hijau, Raja Udang, Larwo, Sriti. Jenis ikan antara lain Wader, Tawes, Uceng Dun (seperti sapu-sapu), dan udang.

Temuan tidak langsung, berdasar jejak dan suara antara lain Landak (berdasarkan kotoran), Macan Tutul (kotoran dan jejak), Luak (kotoran), Kancil (jejak), Macan Sruni (bulu), dan Harimau Jawa (jejak, cakaran dan kotoran).

Flora yang diidentifikasi antara Padmosari (bunga raflesia), Alang-alang, Kolonjono, Gajihan, Gajah, Duwet, Klampok, Rotan (pitik, warak, manis, pahit, siatung, cacing), Bambu (gesing, ori, rampal, bubat, wulung, buluh,mat-mat, petung, apus, tali) Gadung, Pakem, Bendo, Aren, Anggrek (25 jenis, dalam satu pohon), Gaharu, Kemukus, Cabe Jamu, Jawar, Kayu Tutup, Kateleng, Candu, Jamur. Analisis vegetasi setingkat pohon dilakukan dengan metoda kuadran.

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang juga langka, dikatemukan di Pos Pantai Sukamade, Lereng timur Puncak Betiri Panggungrejo, Taman I dan Gligir Sapi untuk Raung Selatan.

Gangguan

TN Merubetiri ternyata sudah “cukup” terganggu. Bentuk-bentuk gangguan itu antara lain : darungan (tempat istirahat), pembakaran hutan, penebangan pohon (pengambilan kayu untuk kayubakar dan bangunan kulit kayu pule, buah langsep), pencari burung (dengan jala dan getah), geladak (berburu dengan membawa anjing berjumlah banyak), pengambilan rotan (batang muda, batang dan biji), pengambilan alang savana, pengambilan umbut pinang, pembuatan jebakan model string berbagai ukuran (untuk kijang, landak. macan, harimau), pengambilan batu-batuan, limbah pengolahan kopi.

Masyarakat sekitar hutan mempunyai sumber pendapatan yang beragam, antara lain pekerja perkebunan (Pager Gunung, Sumber jambe dan Sumberdadi), petani dan petani kopi (Mulyorejo), penggaduh / peternak, pengrajin gula kelapa (Sarongan), pengrajin genteng (Sanenrejo), pengrajin bambu (Sarongan), nelayan (Rajegwesi), dan secara umum nyambi pengambil hasil hutan.

Pergeseran sumber pendapatan menjadi pengambil hasil hutan terutama di musim kering. Kegiatan masuk / mengambil hutan dilakukan ketika kesibukan di sawah tidak ada. Sebagai pencari burung didukung oleh harga pasaran yang cukup tinggi. Punglor batu Rp. 115.000 – 175.000 / ekor, Rengganis 150.000 / ekor, Punglor kembang, cucak hijau Rp. 40.000 / ekor, Srigunting bendera Rp. 45.000 / ekor.

Harimau itu

Harimau Jawa itu? Harimaj jawa (Panthera tigris sondaica) diduga masih ada berdasarkan indikasi adanya jejak, cakaran dan kotoran antara lain berupa :

• jejak dengan lebar 15, 22 x 19 cm serta cakaran pada ketinggian 181 cm serta di ketinggian 500 dml. Jejak dengan ukuran 14 x 12 cm di Durenan.

• Jejak dengan ukuran 15 x 12 cm di antara Teluk Hijau dan Teluk Damai.

• Jejak dengan ukuran 15,5 x 19 cm clan 15 x 20 cm di Gunung Gendong.

• Jejak dengan ukuran 19 x 20 cm di Pudak’an Curah Malang.

• Kotoran (panjang lebih 16 cm, Ø 3 cm). Jejak dengan ukuran 12,5 x 14 cm (kaki muka belakang),
Cakaran di Pohon Gintungan (tertinggi 100 cm, panjang cakaran 73 cm).

• Cakaran di Pohon Gedangan (tertinggi 214 cm) serta kotoran (panjang 13 cm, Ø 2,5 cm) di Cawang Kanan Sungai Sukamade.

Begitu pula menurut masyarakat. Mereka, mengenal harimau Jawa sebagai Macan Gembong. Gambaran mereka sosoknya besar seperti anak sapi, loreng, mempunyai surai (rambut kuduk / leher yang panjang). Mereka umumnya membedakan dengan Macan Lareng (lebih kecil tanpa surai) , Macan Sruni (warna loreng kemerahan, sosok lebih kecil dan langsing, cenderung memanjang). Mereka juga mengenal Macan Tutul (ceplok dan benguk, pembedaan atas motif tutulnya), Macan Kumbang, Canthel, Dawuk. Mereka juga mengenal Leo (gambaran mereka seperti Singa), serta macan Ram-ram.

Persepsi masyarakat tentang Harimau Jawa umumnya sebagai penjaga / penguasa hutan. Auman sebagai pertanda musim. Ia tidak akan mengganggu manusia, asal niat ke hutannya “baik”, sebaliknya akan memberi “sangsi” kepada pemasuk hutan yang berpelaku kotor (zinah). Begitulah menurut masyarakat, Harimau itu ada.

Lantas kami? Setuju. Harimau jawa memang masih ada. Ekspedisi memang telah membuktikan begitu. Sudah yakinkah kita? Keyakinan bahwa Harimau Jawa masih ada itu, memang sangat relatif. Kadang kita belum merasa yakin bila belum berhasil melihat dan memfotonya. Atau, kita belum yakin bila belum menangkapnya. Atau, kita belum yakin bila diantara kita belum menjadi “korban”nya. Untuk mengejar keyakinan itu, maka metoda-metoda lain akan dicoba. Data-data baru akan terus dikumpulkan. Misalnya, memasang jebakan foto. Sayang harganya mahal. Siapa-membantu?

10
Jun
10

Mount Ciremai : Javan tiger’s “Newly” Habitat


Gunung Ciremai Habitat “Baru” Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica)

oleh: Didik Raharyono.

Steidensticker & Soejono (1976) luput mencantumkan Gn. Ciremai sebagai habitat harimau jawa dalam bukunya The Javan Tiger and The Meru Betiri Reserve. Diantar Pak Deddy Kermit Petakala Grage (PG), penulis menjumpai specimen kepala harimau jawa dari Gn. Ciremai. Banyak informasi ilmiah dapat ‘dibaca’ atas temuan spesimen ini. Walaupun sudah dianggap punah, usaha mengendus eksistensi harimau jawa selalu mengantarkan bagi tersingkapnya ‘tabir pengetahuan baru’.

Syukur tiada terkira Atas Limpahan Rahmat dari Tuhan Alam Semesta.

Bagaimana tidak, semula kami Peduli Karnivor Jawa (PKJ) hanya mendiskusikan strategi riset, mekanisme pengumpulan dana pergerakan, menggagas pemikiran kreatif manajemen habitat kedepan bagi satwa dan masyarakat sekitar hutan berkarnivor besar di Petakala Grage (PG). Lalu Pak Deddy dan Pak Athok menyinggung kemungkinan masih adanya specimen ‘tubuh’ harimau jawa di tetangga desanya.

Kronologis

Saya tertarik ingin berkunjung guna melihat opsetan loreng jawa, tetapi pada dua atau tiga hari kedepan. Pak Deddy menegaskan supaya tidak ditunda, maka saat itu juga kami meluncur ke rumah yang dimaksud. Benar adanya, sesampai lokasi kami diterima terbuka oleh tuan rumah, lalu kami memperkenalkan diri, menyampaikan maksud tujuan melakukan penelitian harimau jawa yang sudah dianggap punah. Setelah berdiskusi hampir 4 jam, Bapak yang sederhana itu menunjukkan koleksi beliau spesimen harimau jawa.

Beliau seorang tokoh masyarakat, kolektor barang-budaya warisan leluhur, memperkenankan saya memotret kepala harimau jawa. Walau kondisinya hampir dipenuhi jala laba-laba, benakku berkeyakinan pasti akan ada segudang informasi ilmiah yang akan terkuak. Jikalau harimau jawa di musium, tentulah membutuhkan prosedur administrasi rumit seperti pengalaman pribadiku tahun 2000 di MZB dulu –jauh-jauh dari Jember ingin ‘belajar’ opsetan harimau jawa di tolak mentah-mentah karena saya dari perorangan dan bukan atas nama organisasi. Selain itu kekuatan ilmiah harimau jawa koleksi masyarakat tentulah bernilai baru dan penting, sebab memberikan gambaran vareasi pola, diskripsi ukuran tubuh, asal lokasi dan sejarah yang belum pernah terungkap apalagi tercatat.

Bapak pemilik tersebut mengungkapkan: bahwa dulu, opsetan harimau jawa itu utuh –dari kepala hingga ekor, namun banyak kenalan beliau dari Jendral hingga Kyai meminta sesobek demi sesobek untuk “cindera mata” akibatnya sekarang tinggal bagian kepala. Beliau mendapatkan hadiah specimen tersebut dari petinggi TNI kala baheula. Kemudian dijelaskan panjang kepala hingga pantat 200 cm, belum termasuk panjang ekor. Bahkan dulu sering dijadikan alas untuk istirahat beliau. Berdasar keterangan petinggi TNI yang dijelaskan kembali Beliau kepada penulis, harimau loreng ini berasal dari lereng Gn. Ciremai Jawa Barat. Ditembak sekitar tahun 1961 -bekas pelor sekitar 5 lubang di pipi, dekat hidung dan jidat depan, masih terlihat jelas. Ditambahkan lagi: harimau jawa ini jantan tua dan telah membunuh 5 orang -maka dieksekusi.

Luput dari Steidenstiker

Informasi ilmiah terpenting dari uraian temuan spesimen kepala di atas adalah tentang Gn. Ciremai sebagai habitat harimau jawa. Dalam bukunya (1976) Steidenstiker & Soejono menyampaikan sebaran distribusi habitat harimau jawa tahun 1940 dan 1970, walaupun untuk Gunungkidul dilabeli 1930 (?) dengan tanda tanya dibelakangnya, tapi Gn. Ciremai luput dari pencatatan beliau. Berarti kawasan Gn. Ciremai dianggap bukan habitat harimau jawa, meskipun terjadi pembunuhan tahun 1961 -mungkin informasinya tidak terdengar Pak Steidenstiker. Padahal telah berdampak terhadap “penisbian” informasi dari penduduk sekitar kawasan tentang terjumpainya harimau loreng yang oleh masyarakat sekitar disebut maung siliwangi, lodaya atau macan tutul turih tempe.

Jangankan Gn. Ciremai, bahkan di Gn. Arjuno, Gn. Argopuro dan masih banyak lokasi lain yang juga luput dari pencatatan Steidenstiker (1976) sebagai habitat harimau jawa. Penulis berani mencantumkan nama-nama lokasi habitat “baru” harimau jawa (di buku Berkawan Harimau Bersama Alam, 2002) berdasarkan keterangan dari Pemburu lokal, Pecinta Alam, Pendarung, Perbakin dan Pensiunan TNI. Seperti misalnya saat silaturohmi ke pengurus Yayasan Salsabiil Faros di Cirebon (2009), penulis bertemu dengan seorang pensiunan TNI yang dulu pernah menembak seekor harimau jawa di lereng Gn. Arjuno. Beliau menembak seekor dari empat ekor harimau loreng yang diincarnya. Penembakan tersebut terjadi tahun 1967, hal itu diingat dengan cermat karena beliau ditugaskan di Koramil sekitar Gn. Arjuno 2 tahun setelah Gestok. Dan dari Wonogiri diinformasikan bahwa harimau jawa masih terlihat. Artinya: masih banyak lokasi-lokasi habitat “baru” harimau jawa yang luput dari catatan ilmuwan harimau dunia.

Oleh karena itu, sebagai penghuni Pulau Jawa, hendaknya kita peduli terhadap kawasan yang ada disekitar kita, utamanya hutan yang menjadi habitat satwa liar. Dengan kandungan maksud: jadilah peneliti ahli yang menguasai “halaman” rumah sendiri. Bolehlah kita berpikir global, namun aksi kita haruslah dimulai dari lokal. Sebab ancaman dan tekanan tinggi pada habitat-habitat alami di Jawa, tentulah akan mengancam kelestarian satwa-satwa endemik Jawa yang tersisa.

Diawetkan Dengan Garam

Semula saya agak ragu memegang spesimen kepala harimau jawa tersebut. Bukan apa-apa sebab berdasarkan keterangan pengopset satwa tradisional biasanya menggunakan Arsenik sebagai bahan utama pengawet opsetan, selain formalin dan alkohol. Untuk menegaskan informasi yang beredar seperti itu saya memberanikan bertanya: dulu opsetan ini diawetkan dengan apa Pak? Beliaunya tersenyum menjelaskan kalau pengopsetan kala itu hanya menggunakan ‘garam krosok’ dan dijemur terbalik di sinar matahari (kulit bagian dalam dipampang langsung, sedang bagian berambut tidak terpapar sinar matahari).

Informasi ilmiah tersebut penulis buktikan dengan kenyataan, dimana beberapa bagian rambut telah lepas. Bahkan bagian atas daun telinga kiri telah robek dimakan tikus. Artinya pengawetan opsetan ini memang menggunakan garam, tidak menggunakan racun arsenik. Sifat garam yang hipertonis dan hygroscopis jelas akan mempercepat terhisapnya kandungan air ditingkat seluler, maka garam dijadikan bahan pengawet tradisionil. Beda nyata jika menggunakan arsenik: opsetan tampak utuh, mulus dan tidak cacat rambutnya, sebab serangga pemakan rambut akan mati jika kontak dengan arsenik, seperti opsetan harimau sumatra yang pernah saya jumpai di Rumah dinas Bupati Temanggung tahun 2001, utuh dan bagus –pastilah menggunakan racun dalam pengawetannya.

Penulis lalu teringat keterangan Pak Karno Jember yang juga mengkoleksi opsetan harimau jawa ditembak tahun 1957. Setelah beliau menunjukkan foto harimau jawa dari Kendeng Lembu, saya bertanya masih adakah sisa opsetan hewan di foto itu. Beliaupun tersenyum lalu menjelaskan bahwa opsetannya tidak bagus (namun beliau tidak menjelaskan bahan penyamakannya), sejak tahun 1970-an rambutnya telah banyak yang rontok maka kemudian disimpan di gudang dan tahun 1980-an banyak dimakan ngengat. Oleh karena itu pada sekitar tahun 1990-an, opsetan harimau jawa itu dimusnahkan dengan di bakar dan dibuang di halaman belakang. Sedangkan saya berkunjung kerumah beliau sekitar tahun 1999.

Merasa aman dengan opsetan yang diawetkan dengan garam, maka penulis memegang, mengambil sedikit rambut untuk dianalisis menggunakan mikroskup cahaya guna menjadi ‘rambut pandu harimau jawa’ jikalau nanti ditemukan rambut dari hutan. Berkolaborasi dengan Pak Deddy, maka berbagai pose kepala opsetan harimau jawa itu kami abadikan, meliputi : kepala secara utuh, pola loreng tersisa di jidat, pipi samping kiri, dagu bawah, bekas surai dan landasan kumis. Hal itu saya lakukan untuk membantu pendiskripsian secara ilmiah perihal kenampakan fisik harimau jawa dari Gn. Ciremai. Saat memotret bagian landasan kumis, sempat terabadikan sisa kumis sepanjang 1 cm dua helai, cukup untuk memberikan wacana tentang model dan warna kumis harimau jawa.

Membongkar Sepenggal Kepala Berumur ½ Abad

Dulu potongan kepala itu sering dipakai anak-anak untuk bermain dengan teman-temannya, berkejaran, bergurau dan sebagainya. Penulis bergumam, wah sumber pengetahuan sangat penting ternyata menjadi hal ‘biasa’ bagi masyarakat. Mungkin karena masyarakat merasa bahwa sepenggal kepala loreng jawa itu sebagai barang lumrah, mudah dijumpai dan masih banyak di hutan, jadi sederhana saja cara memperlakukannya.

Tak mau terlambat, maka saya dengan cermat memperhatikan bekas-bekas sidik jidat harimau jawa itu. Tetapi tak menemukan bekas coretan-coretan garis hitam, karena sebagian besar rambutnya telah rontok mengelupas. Perhatian kemudian saya alihkan dibagian atasnya, syukur masih ada sisa rambut yang utuh dengan garis hitam. Tebalnya tak lebih dari selebar jari telunjuk lelaki dewasa. Pola coretan garis hitam itu cenderung longgar (jaraknya renggang), tidak seperti milik harimau sumatra yang tebal dan rapat ‘ndemblok’(Jw). Kondisi ini juga diperkuat foto harimau jawa 1957 sebagai pembanding, dimana tulang tengkoraknya masih terbalut kulit dan merekam bentuk utuh satwa saat masih hidup –karena diabadikan sesaat setelah mati ditembak.

Meski sepenggal kepala opsetan harimau jawa ini telah terlepas dari tulang tengkorak sebagai landasan kulit yang membentuk raut muka tiga dimensi, tetap dapat terlihat rekam-bentuk tentang ‘pesek’nya hidung yang sempit, dengan pangkal jidat sedikit di atas mata cenderung cembung –membentuk kesan moncong memanjang. Sisa coretan ornamen di pipi juga mencirikan sebagai milik harimau jawa yang jarang, tipis dan cenderung cerah. Berbeda dengan coretan ornamen pipi harimau sumatera kebanyakan tebal, rapat sehingga memberi kesan agak gelap.

GAMBAR 01. KARAKTER WAJAH HARIMAU JAWA & SUMATERA. Berdasar pola coretan pipi dan sidik jidat, dapat dibedakan antara karakter wajah harimau jawa dan sumatera. Pola coretan pipi harimau jawa cenderung tipis dan jarang sedangkan harimau sumatera tebal dan rapat. Sidik jidat harimau jawa renggang dan tipis, sedangkan harimau sumatera rapat cenderung membentuk blok hitam. Akibatnya wajah harimau jawa cenderung cerah dan harimau sumatera cenderung gelap.

Bahkan saya sempatkan untuk menghitung lubang bekas landasan kumis harimau jawa, jumlahnya baik yang besar maupun sedang sekitar 29 lubang untuk satu pipi kiri dan sekitar itu juga di pipi kanan, total 58 lubang. Hanya sekitar 10 landasan lubang berdiameter 3 mm di pipi kanan-kiri dan 14 lubang berdiameter 2 mm, lainnya 1 mm atau bahkan kurang. Landasan lubang kumis tersebut membentuk enam baris dengan komposisi jumlah baris dari bawah ke atas: 3; 6; 6; 5; 5; dan 4. Menggunakan pijakan kajian pembanding foto harimau jawa 1957 terlihat bahwa ujung kumis hingga surai di dagu, prediksi saya panjang rambut kumis harimau jawa mencapai 25 cm.

Rambut dibagian dagu berwarna kuning pucat (kemungkinan dulunya putih), sedangkan rambut yang menjadi warna dasar pipi yang masih sempat terlihat berwarna kuning tembaga terang. Blok rambut berwarna putih yang dikelilingi warna hitam dibelakang daun telinga masih terlihat jelas, walau hampir samar.

Setelah pengamatan secara mikroskopis di laboratorium Biologi SMA Mandiri Cirebon, terdiskripsikan bahwa medula rambut opsetan ini bertipe intermediet pola reguler, sedangkan sisik bertipe corona serrata pola irreguler wave. Hal ini semakin memperkuat data temuan kami tigabelas tahun yang lalu perihal rambut harimau jawa, dulu temuan dari TN Meru Betiri dan sekarang opsetan asli dari Gn. Cermai.

Medula rambut harimau jawa dari Gn Ciremai

GAMBAR 02. STRUKTUR MORFOLOGI RAMBUT HARIMAU JAWA GN. CIREMAI. Detail bagian medula rambut harimau jawa dari Gn. Ciremai ini menunjukkan tipe intermediet pola reguler. Ciri utama pada bagian medula ini membedakan dengan macan tutul yang bertipe discontinous pola cresentic. Keidentikan pola rambut harimau jawa dari Gn. Cermai dengan rambut temuan dari TN. Meru Betiri menunjukkan eksistensi harimau jawa. Morfologi medula rambut harimau jawa ini di foto menggunakan mikroskup cahaya dengan perbesaran 40 x 5. (foto: @didik R’10).

Seperti Apa Ekosistem Gn. Ciremai?

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl), dikelilingi hutan dengan koordinat 108020’ – 108040’ BT dan 6040’ – 6058’ LS. Tipe iklim kawasan Gn. Ciremai berklasifikasi tipe iklim B dan C (berdasar Schmidt dan Ferguson) dengan rata-rata curah hujan 2000 – 4000 mm/tahun. Temperatur bulanan berkisar antara 18o – 24o C.  Sistem hidrologi  didominasi sistem akuifer endapan vulkanik dari Gn. Ciremai. Berdasarkan geomorfologi dan litologi, karakteristik akuifer dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu: kurang produktif pada lereng puncak; sangat produktif pada lereng badan gunung; dan produksi sedang – rendah, pada kaki gunung (RPK TNGC, 2009). Keberadaan air ini sangat penting bagi eksistensi karnivor besar, sebab harimau jawa suka berendam di air jika kondisi siang hari sangat panas, namun adanya kisaran suhu yang hangat dan dingin di kawasan Gn. Cermai sepertinya harimau jawa mampu beradaptasi khususnya di lereng badan gunung.

Gunung Ciremai

GAMBAR 03. PENAMPANG TIGA DIMENSI GN. CIREMAI. Kenampakan tiga dimensi Gn. Ciremai memberikan informasi bentang lahan dan topografinya. Hal ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk mencari daerah ideal bagi kelangsungan hidup harimau jawa dengan memperhatikan kebutuhan syarat hidup khususnya ketersediaan sumber-sumber air alami dan prey. (Sumber Gambar: Rencana Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai 2009).

Luas  hutan di Gn. Cermai sekitar 15.500 ha dan merupakan hutan sekunder tua pasca letusan tahun 1832. Sebagian besar penutupan lahan berupa vegetasi hutan alam primer yang dikelompokan ke dalam tiga jenis yaitu: hutan hujan dataran rendah (200-1000 m dpl); pegunungan (1000-2400 m dpl); pegunungan sub alpin (> 2400 m dpl). Beberapa flora hasil inventarisasi oleh berbagai pihak di wilayah Kawasan Gn. Ciremai meliputi : 32 jenis vegetasi pohon pada ketinggian antara 1.200 – 2.400 m dpl; 119 koleksi tumbuhan terdiri dari 40 anggrek dan 79 non anggrek (RPK TNGC, 2009). Keberagaman vegetasi sangat tinggi tentunya menunjang sumber pakan satwa prey karnivor besar.

Kawasan Gn. Ciremai selain kaya keanekaragaman flora, juga memiliki tingkat keanekaragaman fauna yang tinggi, dan beberapa jenis termasuk kategori langka. Daftar spesies satwa liar di kawasan ini meliputi 12 mamalia; 3 reptilia; 77 burung dan beberapa jenis ampibi serta serangga yang belum diteliti. Kompleksitas jenis hewan terutama golongan prey sangat menunjang bagi kestabilan populasi dan demografi karnivor besar. Berkaitan dengan luas kawasan berhutan, maka keragaman jenis prey dan populasinya jelas akan sangat penting sebagai faktor penunjang Carrying Capacity kawasan Gn. Cermai terhadap fluktuasi dan kelestarian harimau jawa kedepannya (perlu dikuatkan dengan riset menggunakan kamera trap secara permanen minimal 6 bulan).

Penutup

Berbekal hasil pendataan koleksi satwa liar yang dilindungi pada tahun 1992 yang telah pernah dilakukan BKSDA di seluruh Jawa, seharusnya dapat dijadikan landasan untuk mencermati berbagai kawasan yang diduga sebagai habitat satwa liar, bahkan mungkin melakukan refisi terhadap buku-buku referensi yang telah beredar. Tetapi sepertinya saat ini telah terjadi kerancuan wilayah kerja antara Balai Taman Nasional, KSDA, dan Perhutani di Jawa akibatnya tak ada sering data, informasi dan pensinergian bidang kajian khususnya satwa liar dilindungi ataupun yang terancam punah, bahkan yang sudah diklaim punah –karena habitatnya yang berupa hutan telah disekat-sekat secara administrasi.

Ditilik dari hanya sebuah temuan sepenggal kepala opsetan harimau jawa berumur 49 tahun, masih berpeluang ditemukan ‘habitat baru’ satwa yang telah dianggap punah. Kami dari PKJ dan PG sebagai masyarakat biasa hanyalah didorong oleh rasa kepedulian yang tinggi terhadap keselamatan hutan Jawa dari tekanan dan ancaman destruktif. Dimana hutan alami tersisa di Jawa kami anggap sebagai gudang plasmanutfah sumber bagi daya kehidupan antar-lintas generasi, oleh karena itu harus ‘dibaca’, dikaji dan dijaga sekuat tenaga.

Cirebon, 9 Juni 2010.

Didik Raharyono, S.Si.

Wildlife Biologist

SEKRETARIAT PKJ.

27
Mei
10

Javan Tiger: the Opportunistic Carnivore ‘study by macroscopic fecal components’


HARIMAU JAWA : KARNIVOR YANG OPORTUNIS ‘study komponen fekal secara makroskopis’

by: didik raharyono

Sekali lagi saya akan berbagi pengalaman perihal eksistensi harimau jawa(Panthera tigris sondaica). Saat ini kajian yang menarik adalah identifikasi fekal secara makroskopis, artinya dengan mata telanjang tanpa bantuan alat apapun –kecuali kamera untuk pendokumentasian dan alat ukur. Kumpulan feses karnivor besar yang telah saya koleksi hampir seratusan lebih. Awalnya, setiap menemukan feses berciri milik karnivor kami koleksi. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pengkoleksian yang saya lakukan saat ini hanyalah dengan melakukan pemotretan (terutama saat perjumpaan di lapangan). Selain itu kiriman sample dan foto feses hasil perjumpaan dari teman-teman Pecinta Alam dan Masyarakat Local di Jawa Timur dan Jawa Tengah juga masih mengalir. Banyak hal yang dapat diurai dengan melakukan kajian fekal ini.

METODE

Pada tahap awal penelitian semua fekal kami koleksi dari hutan. Sistem penyimpanan dan pengamanan selama perjalan berhari-hari di hutan dengan cara memasukkan sample feses ke dalam ruas bambu yang memang banyak di hutan tempat telitian kami (hal ini untuk menjaga bentuk feses supaya tidak rusak). Sesampainya di flaying camp maka fekal tersebut kami keringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari langsung, dan jika sampai di base camp maka feses dimasukkan ke dalam tabung-tabung kaca berdiameter 3-4 cm (sesuai dengan ukuran sample feses), lalu dikeringkan menggunakan lampu bolam 60 W, setelah 2 hari feses akan kering.

Pengeringan ini berguna untuk menghindari proses penghancuran sample oleh serangga dan jamur. Mengingat dari fekal ini dapat dipelajari sedetail mungkin perihal : jenis pakan, komposisi pakan, pola perilaku, bahkan memungkinkan pendeteksian lokasi-lokasi penyantapan prey.

Pendokumentasian sample feses dilakukan baik saat pertama kali dijumpai di alam (kondisi alami saat ditemukan) maupun saat setelah pengeringan. Hal ini untuk mempertajam analisa fekal meliputi perilaku ikutan yang biasanya belum terfikirkan saat perjumpaan langsung di alam. Setelah itu baru dilakukan pembongkaran feses untuk mengetahui komposisi adanya fragmen tulang dan analisis rekam puncak gigi.

STRUKTUR DASAR FECAL KARNIVOR KELUARGA KUCING BESAR

Sebagai tahap awal kita harus dapat membedakan feses karnivor besar dengan feses ular dan muntahan burung hantu besar (Tito sp.). Sebagai ciri utama fekal milik keluarga kucing besar adalah komposisi fekal yang terdiri dari rambut prey, remukan tulang dan tersusun sebagai bolus (masyarakat local dengan mudah mendiskripsikan bolus feses karnivor sebagai mirip bulatan-bulatan pada kotoran kuda). Sedangkan kotoran milik ular piton strukturnya memang mengandung rambut prey, hanya saja fragmen tulang tidak ada alias telah tercerna sempurna menjadi semacam pasta (mirip pasta gigi: putih). Adapun muntahan burung hantu bentuknya mirip boli karnivor besar, hanya saja strukturnya selalu mengandung kepala tikus, tupai atau kelelawar buah yang dimangsanya dengan tulang-tulang pipa yang masih utuh. Berdasarkan pengalaman di lapangan, dari ketiga jenis fekal tersebut selain ditunjang oleh kenampakan morfologinya juga akan terdeteksi dari “aroma” khas masing-masing fekal tersebut. Hal ini tentunya berkaitan langsung dengan perbedaan jenis enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh karnivor, ular dan burung.

Feses harimau sumatera di kebun binatang.

Gambar 1. Feses harimau sumatera di kebun binatang yang diberi pakan ayam, terdiri dari empat boli. Pelajaran awal ini penting untuk melakukan pendekatan pengenalan “aroma” khas dari feses harimau loreng, berikut ciri besarnya diameter feses.

Muntahan burung hantu

Gambar 2. Boli muntahan burung hantu besar. Sepintas strukturnya mirip dengan fekal karnivor besar, tetapi jika dicermati menunjukkan pemangsaan oleh satwa yang tidak bergigi, tetapi berparuh. Hal itu teramati dari keutuhan semua tulang-tulang pipa dan tengkorak codot (inset: kiri bawah). Sedangkan feses burung hantu bentuknya semacam pasta.

Remukan tulang di dalam feses karnivor besar

Gambar 3. Remukan tulang sebagai ciri utama fekal karnivor kucing besar. Indikasi serpihan tulang ini merupakan hal utama yang dapat membedakan antara fekal carnivore dengan ular piton dan burung hantu besar (mengingat: karnivor melakuakan ‘pengunyahan’ tulang prey, sedangkan ular dan burung cenderung menelan langsung satwa mangsanya). Jika memungkinkan kita bisa melakukan pengukuran rekam puncak gigi, untuk mengetahui seberapa besar gigi yang melakukan pemecahan tulang tersebut. Remukan tulang ini biasanya terbungkus rambut prey pada struktur feses.

Rambut prey ciri feses karnivor besar

Gambar 4. Kandungan rambut prey, juga dapat dijadikan sebagai penciri utama fekal yang diidentifikasi sebagai milik karnivor keluarga kucing besar. Jenis rambut prey ini bisa untuk membantu identivikasi satwa pemilik fekal. Hal yang membedakan dengan muntahan burung hantu (bentuknya boli) yang meskipun mengandung rambut tetapi dari jenis tikus, tupai ataupun codot, bukan rambut kijang dan babi hutan.

PEMBEDAAN FEKAL MACAN TUTUL DENGAN HARIMAU JAWA

Pendekatan utama yang kita gunakan untuk dapat membedakan feses milik harimau loreng dengan macan tutul adalah diameter feses dan kandungan daun di ujung bolus. Apabila fecal tersebut mempunyai diameter lebih dari 4 cm dan diujung feses tidak mengandung daun (bisa ilalang ataupun bambu), maka kami klaim sebagai fekal milik harimau jawa. Jikalau diameter feses berkisar dari 2 – 3 cm dan ada dedaunan di ujung fekal maka kami identifikasi sebagai milik macan tutul. Selain itu ada ciri fekal harimau jawa yaitu apabila di dalam feses itu terkandung kuku kaki prey, dimana hal ini tidak menjadi perilaku macan tutul.

Diameter feses besar ciri milik loreng jawa

Gambar 5. Fekal harimau jawa. Diameter feses 6,5 cm, mengandung fragmen tulang, rambut babi hutan dan terdiri sekitar 6 boli. Fekal ini ditemukan oleh teman-teman Jagawana TNMB.

Daun di ujung feses ciri milik macan tutul

Gambar 6. Fecal macan tutul, berdiater sekitar 2 cm dengan ujung feses terdapat daun bambu. Beberapa masyarakat local menambahkan informasi bahwa ciri kotoran macan tutul juga terkadang disertai dengan sedikit ‘tanah’. Pada gambar 6 diatas dijumpai tanah hitam sedikit posisinya di pangkal sendok. Feses ini dijumpai di tepi jalan aspal dari Paltuding menuju Totokan Gunung Ijen.

HARIMAU JAWA OPORTUNIS

Karnivor memang cenderung oportunis, artinya dia pemakan segala. Maksudnya memangsa dari jenis serangga hingga banteng. Ke-oportunisan harimau jawa bisa penulis ketahui berdasarkan analisis komposisi fekal yang ditemukan warga pendarung sekitar tahun 2004. [Catatan perjalanan feses harimau jawa: dari pendarung, temuan feses dari hutan ini diserahkan ke Pak Netran (CO-Kappala Indonesia Jawa Timur), lalu dari Pak Netran di sampaikan ke Mas Giri (Kappala Jember), dari Mas Giri diberitakan ke penulis. Oleh penulis dilakukan analisis dan pendokumentasian secara mendalam, sehingga teramati sifat oportunis harimau jawa itu.]

Dikripsi singkat fekal ini : diameter sekiar 7 cm, terdiri atas 5 boli, mengandung rambut babi hutan, kijang dan monyet ekor panjang. Selain itu juga diketahui mengandung kepala kumbang hitam (serangga) dan beberapa ranting dan dedaunan bambu yang letaknya terselip di antara rambut babi hutan dan kijang –bukan di ujung fekal.

Panjang sebuag boli feses harimau jawa

Gambar 7. Panjang sebuah boli feses harimau jawa sekitar 18 cm.

Diameter feses lebih dari 4 cm ciri harimau jawa

Gambar 8. Diameter feses harimau jawa sekitar 7 cm.

Kuku kaki babi hutan di feses harimau jawa

Gambar 9. Diujung sebuah boli feses harimau jawa ini terdapat dua kuku kaki babi hutan. Kalau diperhatikan dengan cermat maka teramati tiga jenis rambut dilatar bekalang gambar ini, yaitu: rambut babi hutan (terlihat hitam kaku); rambut kijang (terlihat coklat) dan rambut monyet ekor panjang (terlihat abu-abu lembut-halus).

Kuku kaki prey sebagai ciri feses harimau jawa

Gambar 10. Ditemukan juga kuku kaki kijang.

kuku jari monyet di feses

Gambar 11. Ujung kuku monyet ekor panjang. Bukti bahwa selain rambut monyet, juga ditemukan kuku jarinya di sebuah feses harimau jawa.

kepala serangga: kumbang hitam di dalam feses harimau jawa

Gambar 12. Fragmen kepala kumbang hitam (serangga), juga ditemukan dalam sebuah boli feses harimau jawa yang sama.

Rangkaian gambar diatas sudah sangat jelas untuk menggambarkan sifat oportunis harimau jawa dalam pemangsaan. Dari temuan sebuah feses kita dapat ‘membaca’ banyak informasi yang terekam didalamnya. Uraian perihal komposisi jenis satwa yang dimangsa harimau jawa tersebut, terekam dengan jelas di sebuah boli. Artinya feses tersebut:”menceritakan” tentang adanya perilaku oportunis dari harimau jawa. Buktinya dari serangga hingga babi hutan dimangsanya –terekam dari sebuah feses.

Ada hal menarik yang dapat kita ketahui dari “membaca” feses ini: yakni perihal lokasi pemangsaan prey. Di gambar 7, 8, 10, 11 dan 12 jika kita cermati maka terlihat adanya seresah bambu yang ikut terselip di antara rambut prey yang terkandung di feses ini. Sehingga dapat diketahui bahwa pemangsaan babi hutan, kijang dan monyet tersebut berlangsung di bawah tegakan bambu. Sebagai penguat dugaan tersebut, diinformasikan oleh penemu, bahwa feses ini dijumpai dan dipungut dari bawah hutan pepohonan dengan tegakan bawahnya berupa vegetasi bamban (sejenis dengan Maranta) dan tidak dijumpai tegakan bambu. Oleh karena itu, sangat tidak mungkin jikalau seresah bambu tersebut terselip saat proses defekasi berlangsung. Melainkan terikut sewaktu proses pemangsaan, dimana seresah bambu kering di lantai hutan biasanya akan lekat di daging prey seiring dengan mengeringnya darah. Hal ini diperkuat dengan temuan feses harimau jawa ini di bulan Agustus (musim kemarau untuk Pulau Jawa).

Seresah terikut saat proses pemangsaan daging prey

Gambar 13 Seresah bambu yang terselip didalam rambut penyusun feses harimau jawa, menunjukkan bahwa lokasi pemangsaan berada di bawah vegetasi bambu. Hal ini dapat menjadi bahan pelajaran kita untuk melakukan kajian di bawah vegetasi bambu yang memungkinkan bagi ditemukannya sisa pemangsaan harimau, sebab harimau suka menimbun sisa pakannya jikalau sekali santap belum habis.

Sebagai penguat ciri kesukan harimau jawa dalam pemangsaan tersebut dengan ditemukannya sisa penimbunan berupa kepala babi hutan dengan indikasi besarnya rekam gigi yang terdapat di bagian tulang rahang bawah bagian dagu kiri dan kanan. Seperti yang terpampang pada gambar 14 dibawah.

Rekaman gigi pada sisa pemangsaan harimau jawa

Gambar 14. Besarnya gigi geraham harimau jawa terekam dengan jelas (ditunjukkan dengan 3 anak panah warna biru). “Guntingan” puncak-puncak tonjolan gigi geraham bawah dan geraham atas harimau jawa dapat dengan jelas teridentifikasi.

Sebagai bahan garapan mendatang adalah analisis endoparasit dan analisis DNA dari temuan feses harimau jawa yang masih segar. Semoga kami diberi kekuatan dan kemudahan dari Allah SWT untuk melakukannya, Amin.

Tulisan ini saya Dedikasikan untuk :

  1. Mas Eko Teguh, Mas Giri, Cak Dainuri dan Kang Lethek (atas ajakannya mengenal harimau jawa 1997).
  2. Pak Ti, Pak Li, Pak Hamzah, Pak Rin, Pak Min, Pak Netran, Pak Im, Pak Udin (yang dengan ketulusan dan kepercayaan Beliau–beliau mengajari penulis secara langsung ‘contextual leaning di dalam hutan untuk mengenali bekas aktivitas harimau jawa, dari tahun 1997 – 2005).

26 Mei 2010, Secretariat PKJ

Karang Jalak Cirebon

Indonesia.




Risearcher

Kliping

September 2014
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Bacaan


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.